PDIP Luncurkan Lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” sebagai Bagian dari New Policy
New Policy – PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) mengumumkan new policy terbaru yang menuntut kader partai untuk memperkenalkan lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam setiap acara resmi. Lagu ini menjadi bagian dari upaya pembekalan ideologi serta penguatan kesatuan antar anggota partai, yang diluncurkan dalam acara protokol kepartaian di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia. New policy ini bertujuan memperkuat semangat Marhaenisme sebagai prinsip utama PDIP.
Penerapan New Policy dan Pengaruhnya pada Kader
Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menjelaskan bahwa new policy ini adalah bentuk aktualisasi ideologi Bung Karno yang diwariskan kepada kader. “Mengikuti aturan baru ini adalah bagian dari komitmen untuk selalu berjalan di bawah komando partai,” ujar Djarot. Ia menekankan bahwa lagu ini seharusnya dinyanyikan secara rutin di acara pembekalan, pelantikan, serta kegiatan kepartaian lainnya sebagai pengingat untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Marhaenisme.
“New policy ini memberikan kesempatan bagi kader untuk mengeksplorasi makna ideologi Marhaenisme secara lebih mendalam, karena lagu ini menyimbolkan semangat perjuangan rakyat kecil yang diusung Bung Karno,” tambah Djarot.
Dalam implementasinya, PDIP menggabungkan ritual ini dengan pembelajaran sejarah dan konsep kebijakan partai. “Lagu ini bukan sekadar penghormatan, melainkan alat untuk membangkitkan kesadaran kader bahwa perjuangan mereka harus selalu terarah pada kepentingan rakyat,” jelas Djarot. New policy ini juga diharapkan mendorong kader untuk lebih aktif dalam menjalankan tugas sehari-hari dengan semangat yang sama seperti pendiri bangsa.
Sejarah dan Makna Marhaenisme dalam New Policy
Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, menegaskan bahwa new policy ini merupakan pengayaan dari prinsip partai yang telah lama dianut. “Marhaenisme adalah pondasi perjuangan PDIP, dan new policy ini bertujuan menghidupkan kembali semangat itu dalam kehidupan partai yang modern,” kata Megawati. Ia menambahkan bahwa lagu ini juga merefleksikan aspirasi rakyat kecil yang selalu menjadi prioritas partai.
Menurut Djarot, Marhaenisme diusung Bung Karno setelah ia bertemu seorang petani bernama Marhaen di Priangan pada dekade 1920-an. Konsep ini kemudian menjadi representasi dari kekuatan rakyat yang mandiri dan berdaya. New policy PDIP menggambarkan bahwa prinsip ini tetap relevan di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berubah.
Dalam konteks kekinian, new policy ini juga berperan sebagai sarana untuk menguatkan kohesi internal PDIP. “Dengan mewajibkan kader menyanyikan lagu ini, kami menciptakan kebiasaan baru yang menyatukan seluruh elemen partai dalam satu visi,” ujar Djarot. Ia menekankan bahwa penggunaan lagu ini akan terus dipertahankan sebagai bagian dari ritual kepartaian.
PDIP juga menyiapkan program pelatihan tambahan untuk memastikan kader memahami makna dan pesan dari new policy ini. “Kader harus menguasai lirik lagu serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, karena ini adalah bagian dari pembentukan identitas partai,” kata Djarot. New policy ini akan diterapkan secara bertahap, mulai dari tingkat lokal hingga nasional, untuk menjamin keberlanjutan ideologi Marhaenisme.
