Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

New Policy: PDIP Luncurkan Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’, Wajib Dinyanyikan Kader

Daniel Smith 4 mins read 3 views

arhaenisme', Kader Diwajibkan Nyanyikan New Policy - Jakarta, Liputan6.com - PDI Perjuangan secara resmi meluncurkan kembali lagu "Bung Karno Bapak

New Policy: PDIP Luncurkan Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’, Wajib Dinyanyikan Kader

PDIP Meluncurkan Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’, Kader Diwajibkan Nyanyikan

New Policy – Jakarta, Liputan6.com – PDI Perjuangan secara resmi meluncurkan kembali lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam rangka merayakan Bulan Bung Karno. Lagu tersebut diperkenalkan dalam acara pembekalan dan bimbingan teknis anggota fraksi PDIP di DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia, Sabtu (30/5/2026). Acara tersebut menjadi momen penting untuk mengenang sejarah dan semangat perjuangan tokoh pendiri bangsa, Soekarno, sebagai simbol ideologi Marhaenisme yang diusung partai.

Peran Lagu dalam Memperkuat Ideologi

Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menekankan bahwa pemutaran lagu ini bukan sekadar ritual, tetapi juga untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan konsistensi ideologi Marhaenisme di kalangan anggota partai. “Lagu ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama PDI Perjuangan adalah berjuang untuk kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen,” ujar Djarot dalam sambutan pembukaan. Menurutnya, Bulan Bung Karno adalah kesempatan untuk mengingatkan kader bahwa setiap kebijakan harus selaras dengan nilai-nilai yang dipegang oleh Soekarno sejak dahulu.

“Di Bulan Bung Karno ini, kita perkuat komitmen untuk tegak lurus pada instruksi partai dan merangkul ajaran Bung Karno ke dalam semua tindakan,” tambah Djarot.

Djarot menambahkan bahwa lagu ini akan diwajibkan dinyanyikan dalam setiap kegiatan yang menggunakan protokol kepartaian. “Tidak peduli apakah itu rapat, konsolidasi, atau acara publik, lagu ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus partai,” jelasnya. Dengan adanya lagu tersebut, PDIP berharap menghidupkan kembali semangat perjuangan yang selama ini menjadi fondasi utama organisasi.

Konteks Sejarah Marhaenisme

Menurut Djarot, ideologi Marhaenisme muncul setelah Soekarno bertemu seorang petani bernama Marhaen di wilayah Priangan pada era 1920-an. Kehadiran Marhaen memberi inspirasi besar bagi Bung Karno dalam memahami kondisi rakyat kecil yang teraniaya oleh sistem kolonial dan kapitalisme. Sejak saat itu, konsep ini menjadi fondasi bagi perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasional.

Djarot menjelaskan bahwa nama “Marhaen” dipilih sebagai simbol perjuangan rakyat kecil yang memiliki daya tahan dan kemampuan untuk berdiri sendiri meski di bawah tekanan. “Marhaenisme adalah semangat yang tak pernah pudar, mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati berasal dari rakyat, bukan dari institusi,” tegasnya. Ia menekankan bahwa lagu ini sekaligus memperkuat kesadaran kader bahwa peran mereka sebagai pemimpin harus selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Peran Megawati dalam Mengarahkan Kader

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, juga menyampaikan pesan serupa dalam acara tersebut. Megawati menegaskan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan hanya dari strategi atau citra, tetapi dari keberadaannya yang dekat dengan rakyat. “Pemimpin yang baik adalah yang bisa menyatu dengan kebutuhan masyarakat dan mewujudkan aspirasi mereka melalui tindakan nyata,” kata Megawati.

Megawati menambahkan bahwa kader PDIP harus terus bersinergi dengan rakyat, termasuk melalui kegiatan seperti kampanye, pembangunan, atau pengambilan keputusan. “Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah kita harus berpijak pada nilai-nilai yang mendasari Marhaenisme,” ujarnya. Ia menekankan bahwa semangat lagu ini tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menuntun masa depan partai.

“Kekuatan utama seorang pemimpin adalah kemampuan menyatukan rakyat dan menjawab tantangan bersama,” imbuh Megawati.

Perayaan Bulan Bung Karno sebagai Momentum

Bulan Bung Karno, yang diadakan setiap tahun, menjadi momen strategis untuk memperkuat nilai-nilai partai. Djarot menjelaskan bahwa lagu ini dirancang agar selalu diingatkan kader akan esensi perjuangan yang diawali oleh Soekarno. “Marhaenisme adalah spirit yang mendorong kita untuk menjunjung adil dan merdeka,” ujarnya.

Menurut Djarot, lagu ini juga mendorong kader untuk tetap konsisten dalam mengambil keputusan. “Dengan menyanyikan lagu ini, kita mengingatkan diri bahwa setiap kebijakan harus berpijak pada kepentingan rakyat,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa lagu ini menjadi alat untuk menyatukan langkah kader dalam satu garis arah, yaitu memperkuat ideologi partai dan keharmonisan dalam menghadapi tantangan politik.

Upaya Membangun Kebudayaan Partai

Djarot menyoroti bahwa lagu ini juga menjadi bagian dari kebudayaan PDIP. “Dengan menyebarkan lagu ini, kita menciptakan kesadaran kolektif bahwa Marhaenisme adalah warisan yang hidup,” kata Djarot. Ia berharap lagu ini bisa menjadi perisai bagi kader dalam menghadapi berbagai tekanan atau pelanggaran prinsip.

Sejalan dengan harapan tersebut, Megawati menyatakan bahwa perjuangan PDIP harus selalu berakar pada kebutuhan masyarakat. “Kita tidak hanya berjuang untuk kekuasaan, tetapi untuk menjadikan rakyat sebagai pusat kekuatan,” ujarnya. Dengan mengadopsi lagu ini, PDIP menegaskan komitmen untuk menjadikan Marhaenisme sebagai panduan dalam setiap aktivitas kepartaian.

Ekspansi Pemutaran Lagu

Keputusan PDIP untuk mengharuskan kader menyanyikan lagu ini berlaku secara nasional. “Ini menjadi keharusan bagi semua anggota fraksi, baik di tingkat provinsi, kabupaten, maupun kota,” jelas Djarot. Ia menegaskan bahwa lagu ini akan diputar dalam semua acara resmi partai, termasuk dalam kegiatan seperti rapat umum, pemilihan, atau upacara peringatan hari besar.

Djarot juga menyebutkan bahwa lagu ini tidak hanya menjadi pengingat akan sejarah, tetapi juga simbol perjuangan kontemporer. “Marhaenisme tidak pernah usang, karena itu adalah semangat yang selalu relevan,” katanya. Ia menambahkan bahwa lagu ini dirancang agar bisa dihayati oleh kader, bukan hanya diucapkan.

Lirik Lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme”

Sebagai penutup, lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dinyanyikan oleh peserta acara. Lirik lagu tersebut mengandung pesan yang kuat tentang persatuan dan perjuangan. Berikut liriknya:

Rakyat Marhaen, majulah bersatu, Membangun dunia yang baru. Satukanlah gerak langkahmu, Turut komando yang satu. Hiduplah Bung Karno, kita bapak Marhaenisme, Jaya. Hiduplah pemimpin kita, Marhaenisme, Pastilah jaya.

Dengan lirik yang sederhana namun berisikan makna mendalam, PDIP berharap lagu ini menjadi bagian dari identitas partai. Lagu ini diharapkan bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan menegaskan komitmen untuk keadilan sosial, yang menjadi nilai utama Marhaenisme.

Kehadiran lagu ini juga menjadi tanda bahwa PDIP terus berupaya membangun kesadaran politik yang sejati. Djarot menilai bahwa lagu ini adalah upaya untuk menjadikan Marhaenisme sebagai panduan dalam menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks. “Kita harus selalu konsisten, karena itu adalah bentuk keharmonisan,” pungkasnya.

Gabung diskusi