New Policy: Ketika Sampah Plastik Menjadi Sekolah Tahan Gempa
Ketika Sampah Plastik Menjadi Sekolah Tahan Gempa New Policy - Dalam rangka mengimplementasikan New Policy yang berfokus pada keberlanjutan dan ketahanan
Ketika Sampah Plastik Menjadi Sekolah Tahan Gempa
New Policy – Dalam rangka mengimplementasikan New Policy yang berfokus pada keberlanjutan dan ketahanan bencana, pemerintah lokal berkolaborasi dengan organisasi internasional untuk mengubah pola penggunaan sampah plastik menjadi solusi infrastruktur pendidikan. Proyek ini berlangsung di SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kini menjadi contoh nyata bagaimana New Policy mampu menggabungkan inovasi lingkungan dengan kenyamanan belajar. Empat ruang kelas baru, terbuat dari blok plastik daur ulang, berdiri rapi di sana setelah sekolah tersebut mengalami kerusakan parah akibat gempa besar pada 2018.
Background New Policy: Mengatasi Dampak Bencana
Sebelumnya, SDN 2 Pohgading sempat mengalami hambatan serius dalam proses belajar mengajar karena bangunan utama rusak berat. Gempa 7,0 SR pada 2018 menyebabkan struktur sekolah terpecah, memaksa pihak sekolah dan warga setempat untuk membangun kelas darurat selama beberapa tahun. New Policy lahir sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak ini, dengan konsep bahwa sampah plastik bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga bisa menjadi bahan baku yang bernilai untuk membangun infrastruktur tahan bencana. Proyek ini menunjukkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatannya secara kreatif.
Inovasi Sekolah Tahan Gempa: Teknologi Blok Plastik
Dengan New Policy, sekolah SDN 2 Pohgading kini memiliki empat ruang kelas baru yang dirancang khusus untuk tahan gempa. Material yang digunakan adalah blok plastik daur ulang, hasil karya perusahaan lokal di Mataram, Block Solutions. Proses pembangunan berlangsung relatif cepat karena blok tersebut disusun tanpa memerlukan semen, mirip seperti menyusun puzzle. Menurut Rachel Conroy, Manajer Program Classroom of Hope, organisasi dari Australia yang memimpin proyek ini, “Kami dihubungi oleh pihak sekolah dan memutuskan untuk membangun sekolah pop-up sebagai solusi sementara, lalu berkembang menjadi sekolah permanen berbasis New Policy.”
Kekuatan Material: Ramah Lingkungan dan Tahan Gempa
Blok plastik dipilih karena memiliki sifat fleksibel dan ringan, yang menjadikannya ideal untuk membangun struktur tahan gempa. Material ini tidak hanya mengurangi dampak sampah plastik yang terus menumpuk di lingkungan, tetapi juga meminimalkan penggunaan bahan baku tradisional. “Kami berpikir bagaimana mendapatkan material yang bisa dibangun cepat dan tahan gempa hingga 8 SR,” kata Satriawan Amri, perwakilan Classroom of Hope. Selain itu, konsep ini membuka peluang untuk memperkenalkan New Policy ke berbagai daerah yang memiliki masalah serupa, seperti keterbatasan anggaran dan kebutuhan mendesak untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan.
Dengan memanfaatkan sampah plastik, proyek ini juga mengurangi beban lingkungan. Rachel menjelaskan bahwa setiap ruang kelas membutuhkan sekitar 1,5 ton plastik, yang kemudian diolah menjadi blok-blok berguna. “Ini adalah contoh New Policy yang menggabungkan ekonomi sirkular dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya. Proses daur ulang ini tidak hanya menghasilkan bangunan yang aman, tetapi juga menciptakan lapangan kerja lokal, membantu warga sekitar mengelola sampah dengan lebih efektif.
Manfaat New Policy: Meningkatkan Pendidikan dan Lingkungan
Kehadiran sekolah tahan gempa ini berdampak signifikan pada kehidupan siswa dan masyarakat. Sebelumnya, sekolah hanya memiliki 342 siswa dan 14 kelompok belajar. Kini, dengan tambahan empat ruang kelas, kebutuhan akan ruang belajar berkurang secara signifikan, memungkinkan lebih banyak siswa mengakses pendidikan secara optimal. New Policy juga memastikan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan, menunjukkan bahwa sampah bisa diubah menjadi aset berharga.
Selain itu, New Policy ini menjadi bukti bahwa inovasi ramah lingkungan bisa diadopsi secara luas. Hingga kini, Classroom of Hope telah menyelesaikan pembangunan 50 sekolah di Lombok, termasuk 184 ruang kelas dan 104 toilet. Upan Thamrin, Project Coordinator Happy Hearts Indonesia, menekankan bahwa proyek ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga menginspirasi komunitas lain untuk mengadopsi New Policy dalam membangun ruang publik yang lebih berkelanjutan. “Bangunan ini dirancang dengan kekuatan struktural yang memadai, dan pembangunannya cepat karena blok plastik bisa disusun tanpa perlu waktu lama,” katanya.
Masa Depan New Policy: Strategi Berkelanjutan
Dengan keberhasilan proyek SDN 2 Pohgading, New Policy berpotensi diaplikasikan di sekolah-sekolah lain di Indonesia yang terdampak bencana alam. Upan Thamrin menyebutkan bahwa pihaknya sedang berupaya menyebarluaskan konsep ini ke provinsi lain, seperti Kalimantan dan Sulawesi. “Kami ingin memastikan bahwa setiap sekolah bisa memiliki struktur yang tahan bencana dan ramah lingkungan, berkat New Policy ini,” ujarnya. Selain itu, perusahaan Block Solutions juga berencana mengembangkan teknologi serupa untuk proyek infrastruktur lain, seperti rumah layak huni atau pusat kesehatan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
