Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap Hutan Kalimantan

wpmanadmin - beritaterbaik.com 5 mins read

Setiap tahun, musim kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menguji ketahanan populasi orangutan yang tinggal di pulau itu. Tahun ini, ancaman tidak

Asap Karhutla Mencekik Orangutan Kalimantan: 21 Satwa di Palangka Raya Alami Gangguan Pernapasan

Beritaterbaik.com – Setiap tahun, musim kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menguji ketahanan populasi orangutan yang tinggal di pulau itu. Tahun ini, ancaman tidak selalu datang dalam bentuk kobaran api yang terlihat jelas. Di sejumlah kawasan konservasi, kabut pekat hasil pembakaran lahan gambut dan vegetasi kering telah menyusup jauh sebelum nyala api mencapai batas hutan. Bagi satwa yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di tajuk pepohonan, paparan partikel halus dan gas beracun dalam asap menjadi ancaman yang sama berbahayanya dengan kobaran api itu sendiri.

Kondisi tersebut kini terasa nyata di Hutan Kota Nyaru Menteng, Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah. Kawasan yang secara fisik belum tersentuh api itu justru menjadi titik konsentrasi masalah kesehatan bagi penghuninya. Dua puluh satu orangutan yang bermukim di dalam kawasan tersebut tercatat menunjukkan tanda-tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat terpapar asap secara terus-menerus.

“Lokasi kita ini masih aman dari api, tapi tidak aman dari asap. Dan paparan itu membuat kami di sini ada 21 orangutan yang menunjukkan gejala ISPA,” ujar Jamartin Sihite, CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), saat berada di Hutan Kota Nyaru Menteng pada Sabtu (5/9/2026).

Kenapa Asap Lebih Menakutkan bagi Orangutan daripada Api

Manusia memiliki berbagai cara untuk melindungi diri ketika kualitas udara memburuk: masker, ruang ber-AC, atau sekadar menutup jendela. Orangutan tidak memiliki akses terhadap perlindungan semacam itu. Tubuh mereka yang berbulu tebal justru menjadi media yang menyerap partikel asap ke dalam saluran pernapasan. Tidak ada mekanisme perilaku alami yang memungkinkan satwa ini menghindari paparan berkepanjangan ketika kabut menutupi seluruh kanopi hutan.

Dampaknya terlihat pada angka kasus ISPA yang melonjak di kawasan konservasi. Infeksi saluran pernapasan pada primata besar seperti orangutan dapat berkembang cepat menjadi pneumonia, terutama pada individu yang sudah lemah atau berumur lanjut. Tanpa intervensi medis tepat waktu, kondisi yang awalnya berupa batuk ringan dapat berujung pada kematian.

Lima Orangutan Dievakuasi, Termasuk Induk-Anak Raya dan Rayu

Skala ancaman yang meningkat memaksa tim konservasi bertindak lebih agresif. Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng), para pegiat konservasi telah mengevakuasi lima orangutan dari lokasi-lokasi yang habitatnya semakin tidak layak huni.

Dua di antaranya adalah pasangan induk dan anak bernama Raya dan Rayu. Keduanya ditemukan pada 2 September 2026 di kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Saat tim tiba, asap telah mengepung seluruh area. Di bawah pohon tempat mereka bertengger, lahan gambut sedang terbakar. Dalam situasi tersebut, induk dan anak itu tidak memiliki opsi untuk berpindah ke tempat yang lebih aman secara mandiri.

Operasi Penyelamatan yang Berat

Mengambil orangutan dari habitat alaminya bukanlah tugas yang sederhana. Satwa ini sering kali berada di titik yang sangat jauh dari akses jalan, tersembunyi di antara kanopi yang rapat. Ketika jalur darat tertutup oleh lahan yang terbakar atau medan yang terlalu sulit, tim penyelamat terpaksa menyusuri sungai menggunakan perahu kecil untuk mendekati lokasi.

“Sehingga kita butuh waktu untuk sampai ke titik orang utan, dan kemudian membawa mereka keluar juga butuh waktu,” ungkap Jamartin.

Setiap menit perjalanan berarti satwa terus terpapar asap. Oleh karena itu, tim evakuasi selalu membawa dokter hewan beserta peralatan medis lengkap. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa jika kondisi satwa memburuk selama perjalanan atau sesaat setelah evakuasi, penanganan dapat dilakukan secara langsung tanpa harus menunggu kedatangan tenaga medis dari luar.

“Karena kita harus antisipasi yang terburuk,” kata Jamartin.

Peran Masyarakat: Lapor Cepat, Jaga Habitat

Di balik medan yang berat, ada satu kendala lain yang sering menentukan keberhasilan penyelamatan: keterlambatan laporan dari masyarakat sekitar. Manajer Program Orangutan Foundation Indonesia (OFI) menjelaskan bahwa tidak jarang satwa yang membutuhkan pertolongan baru dilaporkan setelah berada di tengah permukiman selama satu hingga dua hari.

“Jadi kadang-kadang sudah di masyarakat satu atau dua hari baru dilaporkan ke kita,” kata dia.

Jeda waktu tersebut dapat menjadi perbedaan antara penyelamatan yang berhasil dan kehilangan nyawa. Semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang tim mencapai satwa sebelum kondisinya memburuk atau sebelum habitat di sekitarnya habis terbakar.

Para pegiat konservasi kini menggaungkan pesan yang jelas kepada masyarakat sekitar kawasan hutan: keselamatan satwa liar bukan persoalan yang bisa dikesampingkan ketika kebakaran melanda. Menjaga keutuhan habitat yang masih aman dan segera melaporkan keberadaan satwa yang terlihat di permukiman merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya penyelamatan.

“Yang utama sekarang ini juga menjaga habitat atau rumah yang masih bagus nih, sehingga satwa-satwa yang terdampak, punya tujuan yang jelas di sana,” tutur Yoga.

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu memandang satwa liar sebagai sesama makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan dan merasa aman.

“Posisikan satwa liar sama dengan kita manusia, sama-sama makhluk hidup, sehingga jaga semua alam yang ada,” imbuhnya.

Konteks Lebih Luas: Orangutan dan Siklus Karhutla

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan spesies yang sangat bergantung pada hutan hujan tropis yang utuh. Mereka membutuhkan kanopi yang rapat untuk bergerak, mencari makanan, dan membangun sarang. Ketika kebakaran berulang kali menghancurkan lahan gambut di sekitar habitat mereka, efek kumulatifnya bukan sekadar kehilangan beberapa hektar pohon, melainkan fragmentasi kawasan yang membuat populasi semakin terisolasi dan rentan terhadap penyakit.

Angka 21 kasus ISPA di satu kawasan konservasi saja menjadi pengingat bahwa tekanan lingkungan terhadap primata terbesar di dunia ini tidak lagi bersifat musiman. Setiap musim karhutla yang berulang memperpendek jendela waktu bagi upaya konservasi dan memperbesar beban kerja tim medis di lapangan. Tanpa perubahan pola pembakaran lahan dan tanpa partisipasi aktif masyarakat dalam melaporkan keberadaan satwa, siklus ancaman terhadap orangutan Kalimantan akan terus berulang setiap tahun dengan konsekuensi yang semakin berat.

Frequently Asked Questions

What is Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap?

Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap matter?

Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi