Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo, “Saya Tidak Menulis, Hanya Diwawancarai”

wpmanadmin - beritaterbaik.com 4 mins read

Perdebatan publik mengenai buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam terus bergulir sejak peluncurannya pada akhir

Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo, “Saya Tidak Menulis, Hanya Diwawancarai”

Klarifikasi Yusril Ihza Mahendra: Perannya dalam Buku “Islam ala Prabowo” Hanya sebagai Narasumber

Beritaterbaik.com – Perdebatan publik mengenai buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam terus bergulir sejak peluncurannya pada akhir Agustus 2025. Di tengah sorotan yang mengarah pada sejumlah nama besar yang tercantum di dalamnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan bahwa keterlibatannya dalam karya tersebut tidak lebih dari sekadar menjadi narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun, bukan sebagai penulis maupun kontributor gagasan.

Bukan Penulis, Hanya Sumber Wawancara

Yusril menjelaskan bahwa proses wawancara dengannya berlangsung jauh sebelum dirinya resmi dilantik ke dalam Kabinet Merah Putih. Setelah sesi tanya-jawab itu selesai, ia tidak pernah menerima transkrip, draf, maupun naskah akhir hasil wawancara tersebut. Buku baru sampai ke tangannya setelah diterbitkan secara resmi. Bahkan, ia mengaku tidak lagi mengingat secara jelas siapa yang melakukan wawancara dengannya, mengingat jarak waktu yang sudah cukup panjang.

“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” ujar Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam proses penetapan judul, penggalian gagasan utama, maupun pendanaan penerbitan. Dengan kata lain, seluruh arsitektur intelektual buku tersebut berada di luar kendalinya.

Penilaian Setelah Membaca Secara Utuh

Setelah membaca buku tersebut dari awal hingga akhir, Yusril menyatakan bahwa sebagian besar keterangan yang pernah ia sampaikan dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup akurat. Ia tidak menemukan distorsi substansial atau penyimpangan mendasar dari apa yang pernah ia utarakan. Pandangan-pandangan yang termuat, menurutnya, merupakan refleksi dari pemikiran akademiknya sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” tuturnya.

Ia juga menegaskan tidak keberatan jika pandangannya dimuat dalam buku tersebut, selama substansinya disampaikan secara proporsional dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka akademik.

Konteks Peluncuran dan Inisiator Buku

Buku Islam ala Prabowo diperkenalkan kepada publik dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025 yang digelar di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Dalam keterangan resmi BAZNAS serta pemberitaan pada saat peluncuran, karya tersebut disebut diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. Peluncuran di forum zakat nasional ini menambah dimensi tersendiri pada diskusi publik, mengingat buku yang membahas praktik keislaman seorang pemimpin nasional diperkenalkan dalam konteks lembaga pengelola zakat.

Kehadiran nama-nama tokoh politik dan keagamaan di level tertinggi dalam proses inisiasi buku semacam ini kerap memicu pertanyaan publik mengenai batas antara dukungan kelembagaan, advokasi ideologis, dan partisipasi intelektual. Klarifikasi Yusril, dalam konteks ini, menjadi salah satu titik penting untuk memetakan siapa sebenarnya yang berkontribusi secara substansial dan siapa yang hanya menjadi sumber data.

Isu Pencantuman Nama di Bagian Hak Cipta

Salah satu aspek yang turut memicu perhatian publik adalah pencantuman nama Yusril di bagian hak cipta buku. Ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak pernah dibicarakan dengannya sebelumnya. Menurutnya, pencantuman nama perlu dilihat secara proporsional mengingat buku melibatkan banyak penulis dan sumber informasi.

“Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya, tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta,” ujar Yusril.

Isu hak cipta dalam karya kolektif yang menggabungkan wawancara, esai, dan kompilasi memang kerap menjadi area abu-abu. Dalam praktik penerbitan akademik, narasumber wawancara umumnya tidak otomatis memperoleh status “penulis” atau pemegang hak cipta, melainkan tercantum sebagai sumber atau kontributor. Namun, tanpa kejelasan dari pihak penerbit mengenai kriteria pencantuman nama, publik cenderung menginterpretasikan setiap nama yang muncul di halaman kredit sebagai bentuk kepengarangan.

Pesan tentang Budaya Membaca dan Menilai Karya

Di luar klarifikasi personal, Yusril menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai cara masyarakat menilai sebuah karya tulis. Ia mengkritik kecenderungan untuk menghakimi buku semata-mata dari judul atau potongan informasi yang beredar di media sosial, tanpa pernah membaca keseluruhan isinya. Judul yang provokatif atau ambigu, menurutnya, dengan mudah memunculkan tafsir yang beragam dan sering kali keliru.

“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan saksama,” ungkapnya.

Pesan ini relevan dalam konteks di mana diskusi publik tentang buku-buku bernuansa politik-keagamaan kerap berlangsung di ruang digital dengan kecepatan yang melampaui kemampuan membaca secara utuh. Tanpa kebiasaan membaca menyeluruh, setiap judul berpotensi menjadi medan perdebatan yang terlepas dari konteks akademik maupun metodologis karya tersebut.

Implikasi bagi Diskursus Publik

Klarifikasi Yusril ini menambah lapisan baru pada diskusi mengenai batas antara partisipasi intelektual, dukungan simbolik, dan kepengarangan dalam karya kolektif. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan buku-buku bernuansa keagamaan-politik di Indonesia, peristiwa ini mengingatkan bahwa pencantuman nama di halaman kredit tidak selalu setara dengan kontribusi substantif terhadap isi karya. Memahami posisi masing-masing pihak—penulis, narasumber, inisiator, dan penerbit—menjadi langkah penting sebelum membentuk penilaian terhadap sebuah buku.

Frequently Asked Questions

What is Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo?

Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo matter?

Menko Yusril Soal Buku Islam Ala Prabowo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi