Main Agenda: Menteri Abdul Mu’ti Bicara Kesederhanaan dan Pemerataan Pendidikan
Main Agenda adalah salah satu isu utama yang diangkat dalam wawancara khusus dengan Menteri Abdul Mu’ti, yang menekankan bagaimana ia mengusahakan agar jabatan tidak menjadi alasan untuk menuntut penghormatan. Dalam kabinet pemerintahan Prabowo Subianto, Mu’ti dikenal sebagai sosok yang tak memandang rendah kehidupan sederhana, terutama dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Meski kebanyakan menteri sering terlihat dalam kemewahan, ia memilih untuk berpakaian kasual dan menggunakan transportasi umum, termasuk MRT, sebagai bagian dari komitmennya untuk hidup sederhana. Hal ini tidak hanya menjadi pilihan gaya, tetapi juga cara ia mengingatkan diri sendiri dan masyarakat bahwa seorang pejabat harus menjadi contoh yang baik.
Kesederhanaan sebagai Prinsip Kebijakan
Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa kesederhanaan adalah bagian dari filosofi pemerintahan yang ia usung. Dalam wawancara panjang dengan Titis Widyatmoko, Pemimpin Redaksi Liputan6.com, ia menjelaskan bahwa jabatan tidak boleh menjadi penentu status sosial atau kebiasaan mewah. Ia menekankan bahwa seorang menteri harus mampu “berdiri di tengah rakyat” dan menghindari kesan tidak dapat diakses. “Main Agenda tidak hanya tentang isu, tapi juga tentang cara kita membangun institusi,” katanya.
Salah satu contoh konkret dari prinsip ini terjadi saat ia berkunjung ke daerah. Alih-alih menginap di hotel bintang lima, Mu’ti memilih penginapan sederhana di balai desa atau UPT kementerian. Dalam satu kesempatan, ia menginap di hotel yang berada di kompleks SMK Negeri. Pernyataan ini diungkapkan sambil ia menonton para siswa jurusan perhotelan belajar di lingkungan yang sama. “Ini bagian dari keterlibatan langsung,” ujarnya, menambahkan bahwa kesederhanaan membuatnya lebih dekat dengan masyarakat.
Transformasi Pendidikan dan Tantangan Guru
Dalam jabatan sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah selama hampir dua tahun, Mu’ti mengakui bahwa transformasi pendidikan tidak bisa diukur hanya dari keberadaan fasilitas mewah. Ia menyoroti perubahan sistem pendidikan di Vietnam sebagai referensi, seperti yang disebutkan dalam artikel The Economist yang berjudul “Why Vietnam School Is So Good?”. Menurut Mu’ti, keberhasilan negara itu berawal dari peningkatan kualitas guru, yang menjadi tulang punggung pemberdayaan pendidikan.
Ia menegaskan bahwa guru bukan sekadar penyalur ilmu, tetapi juga agen perubahan sosial. “Main Agenda tidak bisa lepas dari usaha meningkatkan kompetensi guru,” katanya. Pada kesempatan ini, Mu’ti membahas tiga prioritas utama: pertama, peningkatan kualifikasi guru melalui gelar D4 atau S1. Kedua, pemerataan akses pendidikan di seluruh Indonesia. Ketiga, penggunaan pendekatan deep learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan ini, ia berharap menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Cerita MRT: Pengingat tentang Kepemimpinan
Mu’ti juga menceritakan pengalaman mengharuskan jabatan terkadang dianggap “tidak seharusnya” terlihat dalam MRT. Saat ia bepergian bersama seorang penumpang, orang tersebut menatap bingung lalu membuka Google untuk memastikan bahwa Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah benar-benar naik kereta tersebut. Setelah memverifikasi, penumpang tersebut menyapa dengan tawa: “Pak Mu’ti mau ke mana?”
Menurut Mu’ti, cerita ini mengingatkannya bahwa jabatan bisa menciptakan kesan mewah. Ia tidak ingin terkejut ketika suatu saat posisi tersebut diakhiri. “Main Agenda adalah untuk mengingatkan bahwa kita harus tetap konsisten, baik dalam sukses maupun kesuksesan,” tambahnya. Pernyataan ini juga memperkuat prinsip sederhananya: lebih kurang tetapi lebih bermakna. “Banyak kurang, sedikit cukup,” ujarnya, yang menjadi semboyan dari pendekatannya dalam pemerintahan.
Pendekatan Holistik dalam Pendidikan
Menurut Mu’ti, pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah sekolah atau guru. Ia menekankan pentingnya kualitas pembelajaran yang mencakup nilai-nilai karakter, budaya, dan kecakapan hidup. “Main Agenda menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tapi juga tentang manusia,” katanya.
Sebagai menteri yang pernah memimpin organisasi keagamaan, ia memperhatikan bahwa sistem pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berimbang. Dalam wawancara, ia juga menyebutkan bahwa pendidikan harus berbasis pada kebutuhan masyarakat, bukan hanya pada target pemerintah. “Kita perlu berpikir dari masyarakat, bukan hanya dari Kementerian,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi salah satu poin utama yang diangkat dalam Main Agenda, yaitu tentang kesetaraan dan keberlanjutan.
Komitmen untuk Perubahan dan Prinsip Berkelanjutan
Menjabat sebagai menteri bukanlah akhir dari usaha Mu’ti untuk mengubah pola hidup dan kebijakan. Ia menjelaskan bahwa Main Agenda adalah alat untuk memperkuat prinsip-prinsip yang ia pegang sejak lama, termasuk keadilan, transparansi, dan kecintaannya pada kehidupan sederhana. “Main Agenda adalah semangat, bukan hanya kebijakan,” katanya.
Dalam wawancara, Mu’ti juga menyebutkan bahwa keberhasilan program pendidikan bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Ia tidak ingin meninggalkan tugas ini hanya karena jabatan yang ia pegang. “Saya tidak ingin dihormati karena jabatan, tetapi karena kerja yang saya lakukan,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa Main Agenda bukan hanya tentang keberadaan, tetapi juga tentang dampak yang dihasilkan.
