Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Main Agenda: Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru

Linda Moore 3 mins read 8 views

Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru Main Agenda - Sebagai bagian dari rangkaian Main Agenda yang menggali cerita kehidupan masyarakat pedalaman, Desa

Main Agenda: Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru

Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru

Main Agenda – Sebagai bagian dari rangkaian Main Agenda yang menggali cerita kehidupan masyarakat pedalaman, Desa Wabloi di Pulau Buru, Maluku, menarik perhatian. Di tengah suasana yang tenang, kegiatan rutin seperti puasa Arafah dan persiapan kurban Iduladha tampak sedang berlangsung. Meski keheningan menghiasi suasana, desa ini kini menjadi pusat perubahan yang dibawa oleh warga Muslim yang semakin memperbanyak jumlahnya.

Di depan rumah Rosmalia, salah satu warga, suasana kehidupan kampung menggambarkan keberagaman yang berubah. Ia dengan antusias membagikan cerita tentang persiapan penyembelihan hewan kurban. Dua ekor sapi telah ditempatkan di dekat pepohonan, sementara terpal untuk tenda petugas siap digunakan. “Para ibu minta tolong buat membuat sedikit-sedikit makanan untuk kita punya kurban besok,” ujarnya, sambil menunjukkan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya.

“Selepas zuhur baru kami dirikan tenda,” tambahnya, sambil mengakui keberhasilan kolaborasi antarwarga dalam menghadirkan tradisi Islam ke kampung adat.

Aktivitas berkurban di Desa Wabloi tergolong baru, namun perlahan membesar. Puluhan kepala keluarga di sini baru kali pertama bisa menikmati daging kurban lima tahun belakangan. Faktor ini bukan tanpa sebab—sebagai desa adat, Wabloi masih memiliki keberagaman agama. Penduduk Hindu juga tinggal di sini, sehingga penyaluran hewan kurban belum sampai ke wilayah yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Namlea.

Ustaz Fauzan, suami Rosmalia, menjelaskan bahwa kepercayaan animisme masih menjadi bagian dari kehidupan kampung ini. “Di sini kampung tertua di gunung masih animisme,” ujarnya. Meski demikian, keberadaan Main Agenda menginspirasi perubahan. Fauzan aktif melakukan dakwah dari kampung ke kampung, dan upayanya tidak sia-sia. Masyarakat yang sebelumnya menganut keyakinan animisme mulai tertarik mengenal Islam, bahkan mengucapkan syahadat secara bertahap.

Pengaruh Main Agenda pada Perkembangan Komunitas

Perkembangan ini menjadi bagian dari Main Agenda yang mendorong keterbukaan masyarakat. Di kalangan pesantren Jawa Timur, Fauzan cukup dikenal. Ketika mengetahui ia tinggal di pedalaman Pulau Buru, seorang temannya di Jakarta menitipkan seekor sapi untuk 40 kepala keluarga. Momen itu menjadi pertama kalinya warga Wabloi melaksanakan kurban pada 2022.

Tahun berikutnya, jumlah hewan kurban meningkat menjadi tiga ekor. Daging hasil penyembelihan dibagikan ke berbagai kalangan, termasuk kepada warga non-Muslim. Dalam Main Agenda ini, kampung kini kembali menerima dua ekor sapi untuk tahun ini. “Kemudian 2023 ada tiga ekor dipotong di sini. Daging dibagikan ke kanan-kiri kampung, termasuk kepada yang bukan Muslim,” kata Fauzan, dengan suara penuh haru.

Secara berangsur, desa yang mayoritas Muslim ini mulai mengalami perubahan. Sebelumnya, warga harus mendaki ke kampung seberang untuk salat berjemaah di musala. Kini, Masjid Wabloi akan dibangun oleh Dompet Dhuafa. Fauzan dan warga senang bukan kepalang. Ia bahkan mewakafkan sebidang tanah di samping rumah untuk area ibadah, sementara tokoh adat juga menyumbang tanah agar masjid bisa lebih luas.

Wabloi memang dikenal sebagai kampung mualaf, namun toleransi tumbuh dengan indah. Perayaan kurban menjadi milik seluruh warga, yang menunjukkan integrasi antaragama. Bahkan, keberadaan masjid justru mempererat sikap saling menghormati antarsesama penduduk. Main Agenda ini bukan hanya tentang perubahan agama, tetapi juga tentang kolaborasi yang memperkuat ikatan sosial di kampung pedalaman.

Gabung diskusi