Penantian Panjang Demi Sekantong Daging Kurban
Latest Program – Liputan6.com, Jakarta – Di Maluku Tengah, rempah-rempah yang melimpah sebenarnya merupakan kenikmatan yang langka. Namun di masa penjajahan, bahan-bahan itu justru menyebabkan konflik. Sejarah kolonial pernah menguasai kampung mereka, membuat warga setempat terasingkan. Trauma masa lalu masih terasa jelas di ingatan mereka. Perasaan sedih dan menyakitkan tak pernah hilang. Setelah era penjajahan berlalu, wilayah itu kembali dihantam masalah sosial di tahun 90-an. Kehidupan masyarakat kembali sulit. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa yang mereka butuhkan hanyalah kehidupan yang damai serta saling menghargai.
Kampung Terpencil di Pulau Tiga
Menggunakan mobil dari Ambon membutuhkan sekitar 2,5 jam perjalanan hingga tiba di Desa Ureng. Jalur yang sempit berada di antara pemukiman warga dan perkebunan hutan. Perjalanan naik turun, tetapi tidak pernah membosankan. Di sisi kiri jalan, lautan yang jernih menghiasi pandangan. Di belakang rumah warga, sejumlah kapal motor sudah menunggu, siap menyeberang ke Pulau Tiga. Tidak sampai 30 menit, perahu tiba di tepi pantai yang dihiasi pasir putih dan sinar karang di dasar laut.
“Kampung kami terpencil tapi indah, ya?” tanya warga sambut rombongan Dompet Dhuafa saat menyerahkan hewan kurban dalam Program The Kurban Series 1447 H. Siang itu, warga berkumpul di tembok yang menjadi gerbang kampung. Ibu-ibu mengenakan gamis putih yang serasi dengan kerudung kuning kunyit. Remaja pria berdiri rapi dalam setelan koko putih dan celana hitam. Di tangan mereka, rebana siap dihentak.
“Bagi kampung kami, tamu wajib dihormati,” ujar salah satu warga. Persiapan menyambut tamu diusahakan secara matang. Kekompakan warga terlihat dari saling bersahutan. Sementara ibu-ibu membawa umbul-umbul plastik. Jika di pulau Jawa, sambutan seperti ini mirip dengan iringan calon pengantin.
Kelimpahan yang Tidak Datang Mudah
Dulawawi, warga setempat, mengatakan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menerima tamu jauh. Mereka yang ingin membantu tetap bersungguh-sungguh dalam menyiapkan segala upaya. “Ini bagian dari cara kami berterima kasih. Apalagi yang disumbangkan adalah hewan kurban,” imbuhnya.
Dalam beberapa daerah, hewan kurban mungkin mudah diperoleh. Namun di Pulau Tiga, warga butuh waktu bertahun-tahun untuk menikmati daging sapi. Ketergantungan pada bantuan orang-orang baik membuat mereka lupa kapan terakhir kali mendapat uluran tangan. Karena bantuan seringkali tidak menentu. Jika ada, jumlahnya terbatas. Tidak cukup untuk satu kampung.
“Warga kita tidak ternak sapi, jadi kalau tidak ada yang memberikan bantuan, apa mau di kata,” tambah warga. Sebagai penduduk kepulauan, hewan kurban menjadi kerinduan mendalam. Bukan hanya karena ritual, tetapi juga karena saat itu mereka bisa makan daging sapi gratis. Itu sebabnya, ketika mendapat informasi tiga ekor sapi diserahkan, rasa senang terasa luar biasa.
Proses Penyembelihan dan Pembagian Daging
Sehari setelah salat Idul Adha, sapi-sapi itu digiring dari lapangan sambil diiringi salawat. Lalu, daging dimasukkan ke dalam tas anyaman daun kelapa yang disebut Kamboti. Dibagikan kepada 60 kepala keluarga.
“Mama di rumah selalu memasak sate serta bumbu kuning saat mendapat daging sapi,” ujar anak-anak Pulau Tiga dengan gembira.
Pimpinan Dompet Dhuafa Maluku, La Januri, menjelaskan bahwa tiga ekor sapi yang disumbangkan adalah bantuan pertama kali dari pihaknya ke Pulau Tiga. “Kami ingin memperkenalkan kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur,” katanya. Bagi warga setempat, hal tersebut adalah pengalaman langka yang tak terlupakan.
