Latest Program: Masyarakat Jayapura Diajak Pilah Sampah untuk Cegah Polusi
Latest Program – Kota Jayapura, Papua, terus menjadi sorotan karena volume sampah yang dihasilkan mencapai 240 ton per hari. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) setempat, jumlah ini bisa meningkat hingga 300 ton pada hari raya keagamaan. “Pada hari biasa, sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mencapai 240 ton per hari, tetapi pada hari besar bisa mencapai 300 ton,” kata Simon Petrus Koirewoa, Pelaksana Tugas Kepala DLHK Kota Jayapura, dalam wawancara dengan Antara, Rabu 27 Mei 2026.
Upaya Pengurangan Sampah di Tengah Tantangan
“Kami juga berharap ke depan ada pihak ketiga yang mau berinvestasi di bidang persampahan, karena ada sampah yang bernilai ekonomi,” tambah Simon.
Keluhan terkait pengelolaan sampah terus muncul karena armada dan tenaga kesehatan yang dimiliki masih kurang memadai. Menurut Simon, beberapa wilayah seperti Koya Barat, Koya Timur, Distrik Muara Tami, dan kampung sekitar perkotaan belum bisa terlayani secara optimal. “Kendaraan yang kami miliki untuk mengangkut sampah meliputi 14 unit roda empat, 14 mobil ambrol, serta 36 dump truck,” jelasnya. Selain itu, SDM yang terbatas menjadi kendala utama dalam efisiensi pengelolaan sampah. Dalam catatan DLHK, setiap tahun terdapat peningkatan volume sampah sekitar 10% akibat pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi.
Program Pilah Sampah di Kota Jayapura
Dalam rangka mengatasi masalah ini, pemerintah Kota Jayapura meluncurkan program pilah sampah dari rumah tangga. Tujuan utamanya adalah mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, serta meningkatkan pemilahan sampah organik dan anorganik untuk daur ulang. “Program ini juga mencakup pengelolaan sampah terpadu melalui kolaborasi dengan masyarakat, yang merupakan bagian dari Latest Program,” terang Simon. Kebijakan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif pada lingkungan dan ekonomi lokal.
Sejumlah wilayah strategis di Kota Jayapura menjadi prioritas dalam implementasi program. “Wilayah dengan tingkat sampah tinggi seperti Koya Barat dan Distrik Muara Tami menjadi fokus utama,” tambah Simon. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan warga dalam mengelola sampah secara mandiri. “Dengan memilah sampah di tingkat rumah tangga, kita bisa mengurangi beban pengelolaan di TPA hingga 30%,” ujarnya.
Langkah Pemkab Bekasi dalam Penanganan Sampah
Sebagai contoh, Pemkab Bekasi juga menerapkan strategi serupa dalam pengelolaan sampah. Mansyur Sulaiman, Kabid Pengendalian dan Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Bekasi, mengungkapkan bahwa instruksi ini dikeluarkan untuk mendorong kolaborasi dalam pengelolaan sampah terpadu. “Latest Program di Kabupaten Bekasi bertujuan menekan volume sampah dari sumber atau hulu melalui penguatan fasilitas pengelolaan yang ditunjang program 1 RW 1 Bank Sampah,” kata Mansyur dalam wawancara dengan Antara, Senin 25 Mei 2026.
“Seluruh masyarakat diimbau mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah tangga serta tidak membuang atau membakar sampah secara sembarangan, karena dapat menimbulkan polusi dan merusak lingkungan,” lanjut Mansyur.
Langkah Pemkab Bekasi mencakup instruksi kepada seluruh camat untuk memastikan kegiatan penanganan sampah berjalan efektif. “Setiap kecamatan diminta memfasilitasi sosialisasi pengelolaan sampah berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R), mengawasi pembuangan sampah liar, serta memantau dan melaporkan tindakan pencemaran atau pembuangan sampah sembarangan,” papar Mansyur. Ia menambahkan bahwa program ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan bank sampah, termasuk membuka akses pasar hasil pengolahan sampah melalui kegiatan business matching.
Program pilah sampah dari rumah tangga bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan membentuk Bank Sampah Unit (BSU), warga dapat memanfaatkan sampah yang biasanya dibuang percuma menjadi barang bernilai ekonomi. “Kita bisa menjual sampah organik sebagai bahan baku kompos, serta sampah anorganik untuk daur ulang,” jelas Mansyur. Selain itu, pelatihan dan pendampingan dalam budidaya maggot atau pembuatan kompos menjadi bagian dari inisiatif pemerintah setempat.
“Latest Program ini merupakan bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan akibat peningkatan sampah di kota-kota besar,” terang Mansyur. “Dengan melibatkan masyarakat, kita bisa menciptakan kesadaran lingkungan yang lebih luas.”
Program pilah sampah juga diharapkan menjadi langkah awal untuk mencapai target pengurangan sampah hingga 25% dalam lima tahun ke depan. “Kita akan terus memperluas cakupan program ini ke seluruh wilayah Kota Jayapura, termasuk memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan lainnya,” tambah Simon. Dengan menggandeng lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan pengusaha, pemerintah ingin menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih holistik.
