Dorong Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan, Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai Guna
Latest Program – Liputan6.com, Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN, Subholding Gas Pertamina, terus mengambil langkah nyata dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan ini menghadirkan berbagai inisiatif yang bertujuan memperkuat partisipasi masyarakat, mendorong pengelolaan lingkungan secara lebih efektif, serta menciptakan nilai tambah dengan mengintegrasikan ekonomi sirkular. Dalam wawancara bersama Liputan6.com, Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN, menjelaskan bahwa salah satu langkah utama adalah mengubah limbah plastik di lingkungan perusahaan menjadi produk yang memiliki manfaat praktis. “Ini bukan hanya upaya mengelola sampah secara lokal, tetapi juga mengarah pada kemandirian dalam pengurangan limbah, yang sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya pada hari Sabtu (9/5/2026).
Integrasi Sistem Pengelolaan Sampah Plastik
Menurut Fajriyah, implementasi program ini melibatkan sistem yang terstruktur dan berkelanjutan. PGN menyediakan mekanisme pemilahan sampah plastik dari seluruh karyawan, dilanjutkan dengan pengumpulan dan pemanfaatan oleh Kertabumi Recycling Centre. Proses akhir dilakukan bekerja sama dengan Bank Sampah Al-Bustaniyah, yang mengubah limbah menjadi bahan baku baru. “Dengan kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami berharap membentuk ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab,” jelasnya. “Ini juga memperkuat kesadaran tentang ESG di internal perusahaan, sekaligus menunjukkan bahwa sampah bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat,” tambah Fajriyah.
“Program ini menunjukkan komitmen nyata PGN dalam menciptakan dampak lingkungan dan sosial yang berkelanjutan,” ucap Fajriyah Usman.
Untuk memperluas cakupan program, PGN mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kompas, National Geographic (NatGeo) Indonesia, dan Kertabumi Recycling Centre. Tujuannya adalah membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah secara bijak. “Kami yakin, dengan inisiatif seperti ini, masyarakat akan lebih terdorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan partisipasi dalam pengelolaan lingkungan,” katanya.
Kondisi Sampah Plastik yang Semakin Darurat
Dalam wawancara terpisah, Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre mengungkapkan bahwa jumlah sampah plastik yang tidak terkelola mencapai 109 ton per hari. Angka ini merupakan sekitar 75% dari total sampah yang dihasilkan, yang berpotensi menyebabkan berbagai masalah lingkungan. “Sampah plastik yang menumpuk dapat memicu pencemaran, peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga kerusakan ekosistem,” kata Ikbal. Menurutnya, ini menjadi alasan penting mengapa kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat sangat dibutuhkan.
“Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor untuk membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab,” ujar Ikbal Alexander.
Ikbal menambahkan bahwa pendekatan PGN, yang mencakup edukasi, pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai, merupakan langkah strategis. “Ini tidak hanya berdampak pada lingkungan perusahaan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat secara luas,” tuturnya. “Dengan sistem ini, sampah plastik bisa diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat,” pungkas Ikbal.
Sampah Plastik sebagai Ancaman Kesehatan
Editor dari National Geographic Indonesia, Ade Sulaeman, menyoroti dampak jangka panjang sampah plastik terhadap kesehatan manusia. “Sampah plastik kini tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan manusia melalui partikel mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa ke udara, air hujan, dan bahkan aliran darah,” jelas Ade. Menurutnya, situasi ini menunjukkan bahwa masalah sampah plastik semakin kompleks dan memerlukan perubahan perilaku serta peningkatan kesadaran masyarakat.
“Kondisi ini menunjukkan dampak sampah plastik yang semakin luas, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap penggunaan plastik yang berlebihan,” tegas Ade Sulaeman.
Ade menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah ini. “Melalui komunikasi yang terus-menerus dan partisipasi berbagai pihak, upaya mengurangi sampah plastik bisa lebih efektif,” tambahnya. “Dengan program seperti ini, kita bisa menciptakan kebiasaan yang sehat dan berkelanjutan, serta mengubah sampah menjadi barang bernilai,” pungkas Ade.
Pelaksanaan Program dengan Keterlibatan Masyarakat
Menurut Fajriyah Usman, program ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengelola lingkungan. “Seluruh elemen perusahaan terlibat langsung, mulai dari pemilahan sampah hingga pemanfaatan,” jelasnya. “Kami juga mendorong kerja sama dengan komunitas dan institusi lain untuk memperluas dampak program ini,” tambah Fajriyah. Hal ini sejalan dengan visi PGN untuk menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Dalam menjalankan program ini, PGN tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah di lingkungan perusahaan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat luas. “Kami percaya bahwa kesadaran lingkungan yang tinggi dapat menjadi tolak ukur keberhasilan program,” ujar Fajriyah. “Dengan partisipasi aktif, masyarakat akan lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Langkah Nyata untuk Masa Depan
Ikbal Alexander mengakui bahwa program PGN menjadi contoh nyata inisiatif berkelanjutan. “Dengan mengubah sampah plastik menjadi bahan baku baru, kami mengurangi jumlah limbah yang terbuang percuma,” katanya. “Ini juga membantu meningkatkan ekonomi lokal melalui pemanfaatan sampah secara kreatif,” pungkas Ikbal. Ade Sulaeman menyetujui hal tersebut, menegaskan bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam mengatasi masalah lingkungan.
“Program seperti ini mendorong transformasi siklus hidup sampah, dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat,” kata Ade. Ia juga menyoroti bahwa tindakan yang dilakukan PGN bisa menjadi inspirasi bagi bisnis lain. “Dengan kesadaran masyarakat yang meningkat, kita bisa menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya. Fajriyah Usman menutup wawancaranya dengan harapan program ini bisa menjadi gerakan besar yang berdampak jangka panjang.
“Kami berharap program ini menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi tantangan lingkungan yang semakin kompleks,” tutur Fajriyah Usman.
Dengan sistem yang terpadu dan keterlibatan berbagai pihak, PGN berkomitmen untuk mengurangi dampak negatif sampah plastik. “Kami percaya bahwa keberlanjutan lingkungan bisa dicapai dengan upaya kolaboratif dan konsisten,” jelas Fajriyah. Selain itu, program ini juga menjadi bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia. Ikbal dan Ade sepakat bahwa transformasi ini perlu dilakukan segera, karena waktu tidak menunggu.