Key Strategy: Program AG4T, Dari Ladang Kangkung ke Industri Wisata
Program AG4T: Menyatukan Petani dan Pariwisata dalam Strategi Utama Key Strategy - Dalam upaya mengembangkan keterlibatan petani kecil dengan sektor
Program AG4T: Menyatukan Petani dan Pariwisata dalam Strategi Utama
Key Strategy – Dalam upaya mengembangkan keterlibatan petani kecil dengan sektor pariwisata, Key Strategy berupa Program Agriculture for Tourism (AG4T) menjadi inisiatif penting yang dijalankan di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Proyek ini merupakan kolaborasi antara Indonesia dan Australia, khususnya melalui Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), yang bertujuan mengintegrasikan pertanian lokal dengan industri wisata. Dengan pendekatan ini, program AG4T berharap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi petani sekaligus meningkatkan daya saing produk pertanian dalam pasar wisata yang semakin berkembang.
Kolaborasi Indonesia-Australia dalam Pendekatan Key Strategy
Program AG4T, yang didanai oleh Pemerintah Australia, bekerja sama dengan Universitas Mataram serta institusi lainnya, dirancang untuk meningkatkan keterlibatan produsen lokal dalam memenuhi kebutuhan industri wisata. Menurut Jeremy Badgery Parker, Wakil Direktur Manajemen Proyek dari Universitas Adelaide, pendekatan Key Strategy ini menekankan pentingnya kesinambungan antara pertanian dan pariwisata, sehingga petani tidak hanya menjadi penyuplai bahan baku tetapi juga mitra aktif dalam pengembangan destinasi wisata. “Keterlibatan petani secara langsung akan menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan bagi kedua sektor,” tambah Jeremy saat mengunjungi lokasi, Kamis (11/6/2026).
Proyek ini berlangsung selama lima tahun, dimulai pada akhir 2023, dan diterapkan di tiga wilayah, yaitu Lombok, Bali, serta Sulawesi Utara. Tujuan utama Key Strategy AG4T adalah membantu petani memahami bahwa usaha pertanian mereka bisa menjadi bagian dari bisnis wisata. Dengan demikian, para petani diberikan kemampuan untuk menjual produknya ke pasar hotel, restoran, dan katering (horeka) dengan memastikan standar kualitas dan keamanan pangan yang konsisten.
Kendala yang Membatasi Keterlibatan Petani di Pariwisata
Di Desa Dasan Tereng, petani menghadapi beberapa tantangan dalam memasuki industri wisata. Dosen dari Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram, Sri Widyastuti, menjelaskan bahwa kangkung air Lombok memiliki nilai geografis yang unik dan telah memperoleh sertifikasi, namun keterlibatan mereka di pasar wisata masih terbatas. “Spek produk belum jelas, dan akses ke pelaku wisata pun masih perlu diperluas. Model kerja sama antara petani dan sektor pariwisata juga perlu lebih konkret,” ujarnya.
Kendala utama yang dihadapi petani adalah kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan industri wisata, termasuk standar kualitas dan pengemasan yang sesuai. Selain itu, komunikasi antara produsen dan pelaku wisata seringkali tidak efektif, sehingga produk pertanian kesulitan menjangkau konsumen yang lebih luas. Key Strategy AG4T berupaya mengatasi masalah ini dengan memberikan pelatihan serta intervensi terkait peningkatan kualitas dan pengujian keamanan pangan. Dengan demikian, petani diberi keterampilan untuk memenuhi permintaan pasar wisata secara lebih profesional.
Manfaat Ekonomi Melalui Key Strategy AG4T
Keterlibatan petani dalam pariwisata mulai menunjukkan hasil yang positif. Di Dasan Tereng, sejumlah petani yang bekerja sama dalam program ini melaporkan peningkatan pendapatan yang signifikan. Seorang petani yang juga kolektor kangkung mengelola sekitar 14–15 hektare lahan dengan 10–12 mitra, dan hasil panen setiap hari dipasarkan ke Denpasar, Bali, serta Lombok Utara. Menurut para petani, pendapatan dari kangkung bisa meningkat hingga 20 persen dibandingkan penghasilan dari beras biasa.
“Penghasilan dari kangkung jauh lebih baik. Dengan Key Strategy ini, kami bisa menjual produk langsung ke pelaku wisata, sehingga tidak ada kehilangan nilai tambah,” ujar salah satu petani yang terlibat.
Sistem pembayaran langsung kepada pekerja dan petani juga diterapkan untuk memastikan keadilan dan transparansi. Seorang pekerja pemetik kangkung, Andre, menjelaskan bahwa pendapatan per hari mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu, dengan rata-rata 2–3 bal kangkung yang diumpulkan dalam sehari. “Kerja sama ini memberi peluang usaha baru bagi ibu-ibu rumah tangga, yang sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan dari sektor pertanian tradisional,” tambah Andre.
Pengembangan Model Kerja Sama dalam Key Strategy
Salah satu strategi utama AG4T adalah membangun model kerja sama yang lebih jelas antara petani dan pelaku pariwisata. Tim peneliti bekerja sama dengan para pengusaha hotel dan katering untuk menyusun kontrak kerja yang menjamin kualitas produk dan pengiriman yang teratur. Dengan Key Strategy ini, para petani tidak hanya menjadi penyuplai bahan baku tetapi juga memiliki peran aktif dalam mengatur produksi dan pengemasan sesuai permintaan pasar wisata.
“Kami fokus pada penguatan rantai pasok yang terstruktur. Dengan demikian, petani bisa memastikan hasil panen mereka selalu sesuai standar yang dibutuhkan wisatawan,” kata Sri Widyastuti.
Model ini juga mencakup pelatihan tentang pemasaran produk, pengelolaan koperasi pertanian, serta penerapan teknologi dalam meningkatkan produktivitas. Dengan Key Strategy yang terpadu, harapan besar diusahakan agar para petani tidak hanya meningkatkan pendapatan tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan dan peran mereka dalam ekosistem pariwisata.
Potensi Key Strategy untuk Pemulihan Ekonomi Daerah
Pendekatan Key Strategy AG4T tidak hanya fokus pada pengembangan produk pertanian tetapi juga pada pemulihan ekonomi daerah secara keseluruhan. Dengan memasukkan pertanian ke dalam industri wisata, program ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. “Pertanian dan pariwisata bisa saling melengkapi. Dengan Key Strategy yang tepat, Desa Dasan Tereng bisa menjadi contoh keberhasilan integrasi dua sektor ini,” kata Jeremy Badgery Parker.
“Kami berharap model ini bisa diaplikasikan di wilayah lain, sehingga lebih banyak petani bisa menikmati manfaat dari hubungan yang lebih kuat dengan sektor pariwisata,” ujarnya.
Dengan Key Strategy yang terus disempurnakan, proyek AG4T menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya merupakan sumber bahan baku tetapi juga bisa menjadi bagian dari industri ekonomi yang berkelanjutan. Keterlibatan petani dalam pariwisata menurutnya bukan hanya tentang ekspor hasil panen, tetapi juga tentang membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan. Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6.
