Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Key Strategy: Jaksa Sebut Program Chromebook Nadiem Salah Sasaran, Ini Alasannya

Barbara Miller 3 mins read 12 views

Key Strategy: Jaksa Kritik Program Chromebook Nadiem, Ini Penjelasannya Key Strategy - Dalam persidangan replik di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa

Key Strategy: Jaksa Sebut Program Chromebook Nadiem Salah Sasaran, Ini Alasannya

Key Strategy: Jaksa Kritik Program Chromebook Nadiem, Ini Penjelasannya

Key Strategy – Dalam persidangan replik di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (9/6/2026), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebutkan bahwa pengadaan Chromebook oleh Nadiem Makarim selama menjabat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) dinilai tidak tepat sasaran. Program ini, yang berlangsung sejak 2020, mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 2,1 triliun. Jaksa mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut lebih menguntungkan wilayah perkotaan, sementara pelajar di daerah terpencil kurang mendapat manfaat. Nadiem sendiri diduga mengejar strategi pemanfaatan Chromebook untuk mendorong adopsi teknologi digital dalam pendidikan.

Key Strategy: Tantangan dalam Implementasi Program

Program Chromebook yang diusung Nadiem dianggap sebagai bagian dari Key Strategy dalam transformasi pendidikan nasional. Namun, kejaksaan menyoroti bahwa distribusi perangkat ini tidak merata. Banyak sekolah di kota besar yang lebih dulu menerima laptop tersebut, sementara daerah 3T—tertinggal, terdepan, dan terluar—tertinggal. Dalam persidangan, Paul, salah satu anggota JPU, menyatakan bahwa data penggunaan Chromebook yang digunakan sebagai dasar keputusan tidak mencerminkan kondisi nyata di seluruh Indonesia.

“Key Strategy ini seharusnya menyasar siswa yang paling membutuhkan. Namun, pengadaan Chromebook lebih banyak ditujukan pada sekolah dengan akses internet yang memadai. Ini membuat program tersebut tidak efektif dalam membangun pendidikan inklusif,” ujar Paul.

Key Strategy: Peran Konflik Kepentingan dalam Kebijakan

Kejaksaan mengungkapkan bahwa konflik kepentingan antara Nadiem dan Google menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Di tahun 2020-2022, saat program Chromebook dijalankan, penggunaan perangkat tersebut belum optimal. Namun, ketika data diungkapkan pada 2023, terlihat peningkatan signifikan. Paul menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena data yang digunakan dalam penilaian awal masih tidak lengkap, sehingga menyebabkan kesan bahwa Chromebook kurang bermanfaat.

“Key Strategy ini sebenarnya berpotensi baik, tetapi pelaksanaannya kurang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Data yang dipakai hanya mencakup tiga tahun, padahal ada potensi peningkatan dalam penggunaan Chromebook setelah perioda tersebut,” jelas Nadiem.

Key Strategy: Evaluasi dari Pihak Luar

Eksperimen penggunaan Chromebook di beberapa daerah dinilai sebagai bagian dari Key Strategy untuk mencari solusi pendidikan berbasis digital. Namun, para pihak yang berkepentingan mengkritik pendekatan ini. Kementerian Pendidikan mengakui bahwa program Chromebook tidak cukup memenuhi kebutuhan semua siswa, terutama di daerah yang kurang memiliki infrastruktur teknologi. Pada 2023, data menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan Chromebook terjadi setelah tahun pertama pelaksanaan.

“Key Strategy dalam program Chromebook perlu lebih terukur. Tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap pendidikan nasional,” kata seorang ahli pendidikan dalam wawancara terpisah.

Key Strategy: Strategi Masa Depan untuk Pendidikan

Kritik terhadap program Chromebook menjadi momentum untuk merevisi Key Strategy di bidang pendidikan. Nadiem dan pihak terkait menegaskan bahwa program ini merupakan langkah awal dalam menciptakan sistem pendidikan digital. Namun, perlu ada penyesuaian strategi agar lebih merata. Beberapa daerah mulai mengadopsi pendekatan alternatif, seperti menggabungkan Chromebook dengan tablet atau komputer lainnya untuk memperluas akses.

“Key Strategy ini harus berkelanjutan. Dengan pengadaan Chromebook, kita bisa membangun fondasi digital, tetapi harus disertai dengan peningkatan infrastruktur internet di daerah terpencil,” tambah Nadiem.

Key Strategy: Perbandingan dengan Program Lain

Perbandingan dengan program pendidikan digital lainnya menunjukkan bahwa Key Strategy Chromebook masih memiliki ruang untuk perbaikan. Pada 2020, pengadaan Chromebook menghabiskan anggaran besar, sementara program seperti AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang juga diluncurkan Nadiem menawarkan pendekatan berbeda. Meski demikian, hasil penggunaan Chromebook di 2023 menunjukkan bahwa Key Strategy tersebut mulai menunjukkan dampak positif, meski belum merata.

“Key Strategy ini tidak salah, tetapi harus disempurnakan. Data yang kurang lengkap menjadi alasan utama kritik, namun setelah diperbaiki, program Chromebook bisa memberikan manfaat lebih besar,” kata salah satu penganalisis pendidikan.

Dengan Key Strategy yang terus diperbaiki, diharapkan program Chromebook bisa menjadi salah satu inisiatif yang memberikan dampak signifikan bagi pendidikan nasional. Namun, tantangan utama tetap ada, seperti ketimpangan akses teknologi dan kebutuhan infrastruktur yang lebih memadai. Kejaksaan, pihak pemerintah, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menyempurnakan strategi ini agar benar-benar bermanfaat bagi semua pelajar di Indonesia.

Gabung diskusi