Key Strategy: Bima Arya Mengungkap Ketidaktahuan Kepala Daerah Terhadap Ekonomi Kreatif
Key Strategy menjadi strategi utama dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, yang kini semakin menjadi perhatian para pemimpin daerah. Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri, menyoroti pentingnya pendekatan ini dalam Diklatda V BPD HIPMI Jawa Barat yang berlangsung di Gedung Daan Mogot Pusdikif, Kota Bandung, Sabtu (9/5/2026). Acara tersebut menjadi ajang dialog antara para pejabat pemerintahan dengan pengusaha muda, di mana Bima menggarisbawahi perlunya kerja sama untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai pilar kemandirian keuangan daerah.
Mendorong Pemahaman dan Implementasi Ekonomi Kreatif
Dalam sesi diskusi, Bima Arya secara terbuka mengungkapkan bahwa masih banyak kepala daerah yang belum sepenuhnya memahami konsep ekonomi kreatif. Ia menekankan bahwa pendekatan Key Strategy harus diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah, karena sector ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Key Strategy bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tapi juga memanfaatkan kekayaan lokal melalui inovasi dan kreativitas,” jelasnya. Menurut Bima, pemahaman yang kurang dari pemimpin daerah seringkali menjadi hambatan dalam mengembangkan ekonomi kreatif secara optimal.
Ekonomi kreatif, menurut Bima, merupakan bagian integral dari transformasi ekonomi nasional. Sector ini mencakup berbagai bidang seperti seni, budaya, kuliner, dan teknologi, yang dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan komitmen kuat dari para pemimpin yang mampu mengubah cara berpikir dan pola pengambilan keputusan. “Key Strategy harus menjadi bantuan untuk daerah-daerah yang ingin bersaing di pasar global,” tambah Bima.
Bima Arya juga menyoroti peran organisasi pengusaha muda, seperti HIPMI, dalam mendampingi kepala daerah. Ia menegaskan bahwa organisasi-organisasi tersebut bisa menjadi pendorong utama untuk menerapkan strategi Key Strategy dalam pengelolaan daerah. “Dengan bantuan HIPMI, kami bisa memastikan bahwa program ekonomi kreatif tidak hanya terdengar, tetapi juga terwujud secara nyata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyak kepala daerah membutuhkan edukasi lebih lanjut untuk memahami bagaimana ekonomi kreatif bisa diintegrasikan ke dalam pembangunan daerah.
“Kepala daerah kadang belum memahami konsep ini. Jadi, kita bisa bekerja sama agar mereka lebih kreatif dan inovatif dalam pengelolaan daerah,” ujar Bima. Pernyataan ini menyoroti kebutuhan akan kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas pengusaha muda untuk menggerakkan Key Strategy secara efektif. Dengan menumbuhkan kesadaran tersebut, Bima berharap akan ada perubahan mendasar dalam cara pemerintahan memperkuat perekonomian lokal.”
Peluang dengan Optimalisasi Prioritas Nasional
Bima Arya mencontohkan keberhasilan Pemerintah Kota Jambi sebagai contoh penerapan Key Strategy dalam memperkuat ekonomi kreatif. Kota tersebut berhasil menurunkan angka pengangguran melalui program prioritas nasional yang dimodifikasi sesuai kebutuhan lokal. “Key Strategy harus diadaptasi ke dalam konteks masing-masing daerah agar tidak hanya menjadi teori, tetapi juga implementasi nyata,” terangnya. Ia berharap daerah-daerah lain bisa mengambil pelajaran dari keberhasilan ini untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif.
Bima juga menekankan bahwa momentum bonus demografi menjadi peluang besar bagi Key Strategy. Dengan populasi muda yang besar, daerah-daerah perlu memanfaatkan inovasi dan kreativitas generasi muda sebagai kekuatan penggerak. “Key Strategy adalah kunci untuk memanfaatkan sumber daya manusia daerah secara maksimal,” tutur Bima. Ia berharap pemerintah daerah lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif, baik melalui kebijakan maupun kolaborasi dengan stakeholder terkait.