Aksi Darto Terobos Kobaran Api Selamatkan Cucu saat Kebakaran Tambora
Key Issue – Kebakaran yang mengguncang wilayah Tambora, Jakarta Barat, terjadi pada malam hari Kamis, 28 Mei 2026. Pukul 19.30 WIB, api mulai membesar di lantai dua bangunan kontrakan yang berada tepat di sebelah warung kelontong milik Darto (43) dan istrinya. Suasana yang semula hening tiba-tiba berubah menjadi kacau karena kobaran api yang semakin ganas. Saat kejadian, Darto sedang melayani pembeli di toko kecilnya, yang letaknya berdekatan dengan rumah kontrakan mereka.
Moment Darurat dan Keberanian Darto
Mendengar api melahap lantai dua, Darto langsung teringat pada anak dan cucunya yang berada di dalam rumah. Dengan tanpa ragu, ia memutuskan untuk menyelamatkan keluarga tercinta meski risiko membahayakan diri sendiri. Ia meminta istrinya berlari ke titik aman, sementara dirinya bergerak cepat menuju rumah kontrakan yang pintunya tertutup rapat. “Saya enggak pikir panjang, langsung lari ke rumah dengan mendobrak pintu yang terkunci untuk nyelamatin anak dan cucu,” ujarnya dengan suara masih terdengar tegang.
“Saya lagi jualan tuh semalam. Warung saya depan kontrakan. Tiba-tiba dari sini api udah membesar, sekitar pukul 19.30 WIB,” kenang Darto saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat sore (29/5/2026).
Api yang sudah mengancam rumah kontrakan memaksa Darto berjuang melawan waktu. Ia menghantam pintu hingga terbuka, lalu berlari naik ke lantai dua. Di tengah kepulan asap yang makin menyengat, Darto berusaha menyelamatkan keluarga. “Anak sama cucu saya di lantai dua. Saya lari ke atas. Syukurnya kita empat-empatnya selamat,” tambahnya dengan nada lega.
Kehilangan Harta Benda, Keberhasilan Menyelamatkan Nyawa
Meski berhasil menyelamatkan anggota keluarganya, Darto harus menerima kehilangan barang-barang berharga. Karena situasi memburuk, ia tidak sempat mengemas ponsel, KTP, Kartu Keluarga (KK), atau tabungannya. Semua barang tersebut menjadi abu dalam hitungan menit. “Semuanya ludes, tapi intinya anak sama cucu saya selamatlah, kita berempat sama istri saya,” katanya dengan sikap tegar.
Kebakaran yang meluluhlantakkan sebagian besar rumah di Tambora memaksa ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Dari laporan, total 250 jiwa harus mengungsi ke musala dan tenda darurat yang dibangun pemerintah setempat. Tak ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan dalam insiden tersebut, meski kerugian material cukup besar.
Kebakaran Menghanguskan 27 Rumah dan 113 KK
Berdasarkan informasi dari Darto, penyebab kebakaran diduga berkaitan dengan korsleting listrik di lantai dua bangunan milik tetangganya. “Semalam sih dari lantai dua, korsleting listrik katanya. Jam setengah delapan itu udah membesar aja apinya gitu,” terangnya. Kebakaran memang cepat merambat, sehingga warga sekitar sempat kewalahan.
Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat, Syaiful Kahfi, mengonfirmasi bahwa dampak kebakaran mencakup 27 rumah tinggal. “Objek yang terdampak, 27 rumah tinggal,” sebut Syaiful saat dikonfirmasi, Jumat. Jumlah ini mencakup 113 kepala keluarga (KK) yang terpaksa berpindah dari tempat tinggal mereka.
Perjuangan dan Keceriaan di Tengah Bencana
Saat api mulai membesar, kepanikan warga mencapai puncaknya. Namun, tindakan cepat Darto menjadi saksi bisu keberanian orang biasa di tengah krisis. Dengan berlari ke lantai dua, ia berhasil menyelamatkan dua generasi anggota keluarganya. Meski rumah mereka hancur, kehilangan fisik tidak bisa dibandingkan dengan kehilangan nyawa.
Darto menggambarkan peristiwa itu sebagai pengalaman tak terlupakan. “Api langsung membesar dalam hitungan detik. Saya hanya berpikir tentang anak dan cucu, sampai akhirnya kita empat berempat selamat,” ujarnya. Kebakaran di Tambora juga menggambarkan betapa rentannya perumahan padat penduduk terhadap bencana. Kebakaran yang memakan korban paling parah di area tersebut menjadi peringatan bagi warga untuk selalu waspada terhadap potensi kecelakaan serupa.
Sementara itu, keberhasilan penyelamatan nyawa seluruh keluarga Darto menjadi cerita inspiratif. Banyak warga lain juga berhasil menyelamatkan diri karena reaksi cepat dan koordinasi yang baik dari warga sekitar. Meski banyak yang kehilangan harta benda, rasa syukur terhadap kehidupan justru menjadi fokus utama mereka saat ini.
Kerja Sama dalam Menghadapi Bencana
Kebakaran yang terjadi di Tambora menunjukkan kolaborasi antara warga dan pihak berwenang. Setelah api berada di titik puncak, petugas pemadam dan warga bantu membantu mencegah penyebaran lebih luas. “Luar biasa kerja sama warga. Tanpa bantuan mereka, kejadian bisa lebih parah lagi,” kata Syaiful Kahfi. Pemerintah setempat juga langsung mengambil tindakan darurat, termasuk menyiapkan tempat pengungsian untuk keluarga yang terdampak.
Insiden ini menyisakan kenangan tak terlupakan bagi warga Tambora. Kebakaran yang terjadi di malam hari menjadi momen kecil dalam kehidupan sehari-hari, tapi berdampak besar bagi kehidupan mereka. Darto, sebagai salah satu korban, menceritakan kembali peristiwa itu dengan semangat. “Kita berempat selamat, itu yang paling penting,” ujarnya sambil menatap ke arah tempat tinggal yang telah ludes.
Di tengah kerusakan yang terjadi, kehidupan warga Tambora tetap berjalan. Mereka mulai membangun kembali rumah-rumah dan merencanakan masa depan setelah kejadian memiluhi. Darto juga berharap kejadian serupa tidak terulang, sebab risiko kebakaran di area perumahan memang selalu mengintai. “Semoga ke depannya warga lebih waspada, terutama terhadap masalah kelistrikan,” harapnya.
Kebakaran di Tambora menjadi peringatan bagi seluruh warga Jakarta Barat. Dengan kecepatan api yang sangat tinggi, waktu menjadi faktor utama dalam penyelamatan. Kehilangan harta benda bukan hal terpenting, sebab kehidupan justru yang harus dijaga. Darto, dengan tindakannya, menjadi contoh nyata tentang pengorbanan dan keberanian manusia dalam situasi darurat.
