Key Discussion: Suasana Kantor Pusat Hanania Travel Pasca Digeruduk Kasus Penipuan Umrah
Key Discussion – Jakarta – Setelah beredarnya laporan soal penipuan umrah, kantor pusat Hanania Travel di Tower 88 lantai 20G, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, kini terlihat sepi dan terkunci. Pada Jumat (29/5/2026), sejumlah calon jemaah yang merasa tertipu mengisi ruangan dengan kehadiran mereka sejak hari sebelumnya. Meskipun listrik dalam gedung mati dan pintu kaca tertutup, tidak ada indikasi penyegelan yang jelas, memperlihatkan kondisi kantor masih dalam proses pemeriksaan.
Operasional Tetap Berjalan, Tapi Ada Ketegangan
Berdasarkan postingan Instagram @hananiagroup.id, jadwal kerja Hanania Travel tetap terpampang normal, yaitu Senin hingga Jumat pukul 09.00–17.00 WIB, Sabtu pukul 10.00–16.00 WIB, dan hari libur nasional serta Minggu sebagai hari istirahat. Key Discussion menunjukkan bahwa kantor tetap menerima tamu meski situasi di dalam ruangan terasa tegang. Sejumlah korban menunggu di depan pintu, sementara manajemen perusahaan berupaya menjelaskan kondisi keuangan mereka.
Kasus Penipuan Umrah Berdampak pada Kepercayaan Konsumen
Pasca penyelidikan, keberadaan kantor Hanania Travel masih menyimpan ketegangan. Key Discussion mengungkapkan bahwa koridor menuju gedung terlihat lengang, dengan sedikit aktivitas layanan dibanding hari biasa. Meski akses door lock elektronik masih menyala dan papan penunjuk ruangan tetap terpasang, suasana tenang tidak menghilangkan kecemasan calon jemaah yang merasa tidak yakin lagi dengan keandalan perusahaan. Banyak dari mereka mengungkapkan keluhan terkait pengembalian dana yang tidak jelas.
Pemanggilan Direktur Utama dan Mediasi di Polda Metro Jaya
Kamis (28/5/2026), Ahmad Syah Farhan Rachman, direktur utama Hanania Group, diperlihatkan meninggalkan Gedung SPKT Polda Metro Jaya sekitar pukul 19.39 WIB. Key Discussion menyebutkan bahwa pemanggilan tersebut terjadi setelah mediasi antara perwakilan calon jemaah dan manajemen. Sejumlah korban langsung menunggu di luar gedung, sementara yang lain menyoraki.
“Teman-teman rata-rata sudah lunas, tapi proses keberangkatannya enggak jelas. Refund juga enggak berhasil meyakinkan kami,” ujar Joko, salah satu perwakilan jemaah, di Polda Metro Jaya.
Keluhan Penipuan Umrah Muncul Sejak 2025
Key Discussion menyoroti bahwa masalah ini telah terjadi sejak awal 2025. Pada periode Maret dan Syawal 2026, banyak jemaah sudah melunasi pembayaran tetapi belum mendapatkan kepastian keberangkatan. Bahkan, jemaah untuk pemberangkatan 11 Juni hingga 17 Juni, Juli, dan Agustus masih menunggu kabar. Dalam mediasi, Ahmad Syah Farhan mengakui adanya kesulitan internal perusahaan, termasuk ketidakseimbangan keuangan yang terus menggerogoti operasionalnya.
Penyelidikan Masih Berlangsung, Tunggu Hasil Investigasi
Laporan polisi dengan nomor LP/B/3825//2026/SPKT/POLDA METRO JAYA menunjukkan bahwa kasus penipuan umrah ini masih dalam proses penanganan. Key Discussion memperlihatkan bahwa manajemen Hanania Travel berharap hasil investigasi bisa memberikan kejelasan mengenai penyebab ketidakmampuan mereka memenuhi komitmen. Namun, kebanyakan calon jemaah merasa frustrasi karena belum ada solusi yang konkret.
Dalam rangka meningkatkan transparansi, perusahaan menjanjikan pemeriksaan internal serta komunikasi lebih baik dengan konsumen. Key Discussion mengingatkan bahwa walaupun operasional kantor masih berjalan, kepercayaan publik terhadap brand Hanania Travel semakin menurun. Pemerintah setempat juga menunggu hasil dari penyelidikan tersebut untuk menentukan langkah selanjutnya, baik itu tindakan perbaikan maupun hukum.
Key Discussion menegaskan bahwa kasus penipuan ini tidak hanya memengaruhi pengalaman calon jemaah, tetapi juga menimbulkan efek domino pada reputasi perusahaan. Pemanggilan Direktur Utama dan mediasi di Polda Metro Jaya menjadi bukti bahwa pihak terkait berusaha menyelesaikan masalah. Namun, dampak dari keluhan para korban tetap terasa, bahkan menyebabkan sebagian besar jemaah menunda keputusan untuk menggunakan layanan Hanania Travel.
