Curhat Calon Jemaah Umrah Gagal, Owner Hanania Travel Dibawa ke Polisi
Key Discussion menjadi sorotan publik setelah sejumlah calon jemaah umrah menunjukkan ketidakpuasan terhadap layanan Hanania Travel. Pemilik perusahaan, Farhan, dibawa ke Mapolda Metro Jaya pada Kamis (28/5/2026) setelah pertemuan ricuh di kantor cabangnya di gedung EightyEight, Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan. Kegagalan keberangkatan yang memicu emosi para jemaah menjadi isu utama dalam Key Discussion ini, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan mengenai transparansi dan keandalan penyedia jasa umrah.
Proses Pendaftaran dan Pengalaman Calon Jemaah
Sebelumnya, para calon jemaah mengalami kebingungan terkait jadwal keberangkatan yang terus berubah. Pada awalnya, mereka percaya bahwa Hanania Travel akan memberikan kepastian lebih baik setelah periode Syawal. Namun, kejadian di bulan Maret 2026 telah memicu ketidakpercayaan terhadap komitmen perusahaan. Dalam Key Discussion yang berlangsung, para jemaah berusaha menegaskan bahwa transparansi adalah kunci dalam membangun kepercayaan.
“Saya sudah memilih Hanania Travel berdasarkan rekomendasi orang terdekat. Tapi dari awal, ada kejanggalan soal pembatalan,” ujar Vivi, calon jemaah dari Bekasi yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Menurut Vivi, harga paket umrah yang ditawarkan mencapai Rp 34,9 juta per orang. Ia mengaku mempercayai perusahaan karena reputasinya yang dianggap baik. Namun, ketidakpastian pembatalan membuatnya merasa bahwa pihak Hanania Travel tidak menjalankan proses secara transparan. “Saya bisa memahami masalah teknis, tapi yang jelas mereka harus memberikan penjelasan jelas ke kami,” tambahnya.
Respons Pihak Hanania Travel dan Tuntutan Calon Jemaah
Dalam Key Discussion, pihak Hanania Travel menjelaskan bahwa dana yang telah dikumpulkan digunakan untuk memberangkatkan jemaah di bulan sebelumnya. Namun, para calon jemaah menilai penjelasan itu kurang memadai. Mereka menuntut transparansi lebih lanjut dan kepastian bahwa uang mereka akan dikembalikan secara utuh.
“Dulu mereka bilang tidak ada masalah. Tapi sekarang semua terjadi, jadi saya ingin tahu kapan uang kami bisa kembali,” kata salah satu peserta yang tidak ingin disebutkan nama.
Kegugupan para calon jemaah semakin memuncak saat mengetahui bahwa salah satu jemaah yang sebelumnya sudah diberangkatkan juga mengalami masalah. Beberapa dari mereka menyebutkan bahwa kegagalan ini bukan hanya soal pembatalan, tapi juga bisa berdampak pada kondisi finansial keluarga. “Jika tidak diadili, kami khawatir ada korban yang lebih besar,” tegas salah satu peserta yang menghadiri Key Discussion.
Para calon jemaah juga menyoroti kurangnya komunikasi dari pihak penyelenggara. Beberapa dari mereka merasa tidak mendapat informasi terkini hingga hari keberangkatan yang sudah mendekat. “Kami ingin tahu alasan pasti, bukan hanya pengulangan cerita yang sama,” ujar salah satu pengunjuk rasa. Hal ini menjadi poin utama dalam Key Discussion yang berlangsung lebih dari satu jam.
Pola Perusahaan dan Tanggung Jawab Pemilik
Sebagai penyelenggara jasa umrah, Hanania Travel diduga terlibat dalam kegagalan ini karena kurangnya pengelolaan dana dan riset keberangkatan. Dalam Key Discussion, para calon jemaah menuntut bahwa pemilik perusahaan, Farhan, harus bertanggung jawab secara hukum. Mereka berharap penyelidikan lebih lanjut akan membuka fakta mengenai keputusan terkini yang menggagalkan perjalanan umrah.
“Dengan pihak pemilik yang tidak responsif, kami merasa diabaikan. Ini adalah Key Discussion yang mesti diakhiri dengan kejelasan,” kata salah satu anggota keluarga calon jemaah.
Para calon jemaah juga menyebutkan bahwa sistem pendaftaran dan pengelolaan dana perlu diperbaiki agar tidak terulang. Dalam Key Discussion, mereka meminta polisi untuk mengecek apakah ada kecurangan dalam penggunaan dana. “Kalau tidak ada yang salah, kenapa kami harus merasa kecewa?” tanya salah satu peserta yang mengaku merasa dipermainkan.
Menurut informasi terkini, kegagalan ini menyebabkan banyak kekacauan di kalangan calon jemaah. Beberapa dari mereka bahkan mengancam akan menarik semua dana yang sudah dikeluarkan jika tidak ada solusi. Key Discussion ini semakin menjadi momentum untuk mendiskusikan kesehatan perusahaan dan tanggung jawab pemilik dalam mengelola bisnis yang menggandengkan kepercayaan masyarakat.
