Rano Ungkap Dampak Ekonomi Acara Keagamaan Jakarta, Angkanya Tembus Triliunan
Important Visit – Liputan6.com, Jakarta – Dalam kunjungan pentingnya ke acara keagamaan, Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengungkapkan bahwa serangkaian upacara agama dan budaya yang digelar Pemprov DKI Jakarta berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi ibu kota. Angka yang diungkapkan Rano menunjukkan total perputaran ekonomi mencapai 67 triliun rupiah, sepanjang periode Desember hingga Maret 2026, yang memperkuat peran acara keagamaan sebagai penggerak ekonomi lokal.
Perayaan Agama sebagai Pendorong Ekonomi
Dalam Important Visit ke Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rano Karno menekankan bahwa acara keagamaan seperti Waisak, Natal, dan Idul Fitri tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi pemicu aktivitas ekonomi massal. Menurut Rano, perayaan lintas agama yang diadakan selama beberapa bulan tersebut menunjukkan bahwa Jakarta memiliki kapasitas besar untuk menggerakkan sektor-sektor ekonomi seperti pariwisata, usaha kecil menengah (UKM), dan industri kreatif.
“Pengemasan acara keagamaan dengan konsep budaya dan religi yang beragam telah membuktikan bahwa Jakarta bisa menjadi pusat perekonomian lintas agama. Perputaran ekonomi yang mencapai 67 triliun rupiah adalah bukti nyata dari potensi ini,” kata Rano, menjelaskan hasil analisis keterlibatan masyarakat dan pengeluaran selama acara.
Strategi Pemprov DKI dalam Meningkatkan Perekonomian
Rano menyebutkan bahwa rangkaian acara yang dimulai akhir 2025 dirancang untuk menarik lebih banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan menggabungkan tradisi lokal dan perayaan agama besar. Strategi ini memberikan peluang bagi pengusaha lokal untuk meningkatkan penjualan, sekaligus mempromosikan budaya Jakarta secara nasional.
“Dari Natal hingga Waisak, acara tersebut dirancang agar menghasilkan dampak ekonomi yang berkelanjutan. Waisak menjadi momen yang tepat sebagai akhir tahun, sekaligus menunjukkan komitmen Jakarta dalam mendorong kerukunan umat beragama sekaligus perekonomian,” tambah Rano, menjelaskan tujuan acara tersebut.
Menurut data yang diberikan, acara seperti Waisak yang digelar di Bundaran HI menarik ribuan pengunjung, menciptakan momentum bagi pengeluaran di sektor kuliner, transportasi, dan perhotelan. Selain itu, partisipasi UKM dalam menyediakan makanan khas, suvenir, dan jasa lainnya juga meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan. Rano menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ekonomi sirkular dan mendorong kerja sama antar komunitas.
Analisis Dampak Ekonomi dan Potensi Masa Depan
Angka 67 triliun rupiah tersebut dihitung berdasarkan data pengeluaran masyarakat selama acara, termasuk pembelian tiket, kebutuhan logistik, dan penginapan. Rano juga mengungkapkan bahwa perayaan keagamaan yang dilakukan secara massal mampu menggerakkan sektor informal, seperti jasa transportasi dan penginapan rumahan, yang biasanya tidak terukur dalam data resmi.
“Jika dilihat dari dampak tahunan, acara keagamaan bisa menjadi penggerak utama ekonomi Jakarta. Ini tidak hanya menguntungkan UMKM, tetapi juga meningkatkan penerimaan negara melalui pajak,” jelas Rano, menjelaskan bagaimana keterlibatan masyarakat dalam acara tersebut berdampak pada perekonomian.
Menurut Rano, keberhasilan ini menunjukkan bahwa Jakarta mampu menjadi pusat perekonomian keagamaan yang terintegrasi dengan kegiatan budaya. Ia berharap pemerintah daerah terus memperluas konsep ini ke acara lain, seperti Maulid Nabi atau perayaan khas kota-kota lain, sehingga bisa menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas. “Ini adalah bagian dari Important Visit ke acara keagamaan yang menjadi jembatan antara keimanan dan kehidupan ekonomi,” pungkasnya.
Perayaan lintas agama yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta ini juga memberikan dampak sosial yang besar. Dengan menghadirkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, acara tersebut mendorong kerukunan umat beragama, sekaligus memperkuat citra Jakarta sebagai kota yang inklusif dan beragam. Selain itu, keberhasilan ekonomi dari acara ini bisa menjadi contoh untuk kota-kota lain di Indonesia yang ingin memaksimalkan potensi pariwisata religius.
