Bareskrim Polri Amankan Sindikat Judi Online di Hayam Wuruk Setelah Beroperasi 2 Bulan
Important Visit – Dalam operasi penting yang dilakukan Bareskrim Polri, jaringan judi online di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, berhasil diungkap setelah beroperasi selama dua bulan. Sebanyak 321 orang, terdiri dari ratusan warga negara asing (WNA), ditangkap dalam aksi tersebut. Operasi ini menandai keberhasilan penyelidikan yang membutuhkan persiapan rapi dan koordinasi intensif antar lembaga kepolisian. Bareskrim Polri memastikan bahwa aktivitas perjudian daring ini sudah berjalan secara sistematis sebelum dilakukan pemeriksaan intensif.
Operasi Berhasil Mengungkap Modus Sindikat
Operasi penyelidikan Bareskrim Polri terhadap sindikat judi online di Hayam Wuruk Plaza Tower ini diawali dengan informasi intelijen yang memperlihatkan aktivitas kecil tetapi cukup terorganisir. Aktivitas tersebut dilakukan oleh kelompok yang tinggal di sekitar area perkantoran, terutama di lingkungan kawasan apartemen. “Mereka rata-rata tinggal di daerah seputaran tower ini. Jadi di atas itu pure hanya digunakan untuk operasional daripada kegiatan perjudian online,” jelas Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Wira Satya Triputra, dalam konferensi pers di lokasi, Sabtu (9/5/2026).
“Dari hasil pemeriksaan, kurang lebih selama 2 bulan. Dua bulan, baru dua bulan,” kata Wira.
Kelompok Tahu Tujuan Kedatangan Mereka
Menurut Wira, mayoritas pelaku sudah mengetahui tujuan mereka ke Indonesia, yaitu untuk bekerja di industri judi online. Meski demikian, polisi masih terus menginvestigasi kemungkinan adanya korban penipuan dalam proses perekrutan. “Kemudian terkait kedatangan mereka ke Indonesia, apakah dengan terpaksa ataupun dengan kesadaran sendiri, dari hasil pemeriksaan ini variatif. Namun sebagian besar mereka memang sudah tahu kalau ke sini tujuannya untuk bekerja di judi online,” lanjutnya.
Modus Operasi Berupa Platform Digital
Modus operasi sindikat ini melibatkan penggunaan platform digital untuk menarik partisipasi korban. Para pelaku mengoperasikan situs web dan aplikasi berbasis online yang menawarkan taruhan dengan berbagai jenis permainan, seperti taruhan bola, poker, dan slots. Polisi mengungkap bahwa sebagian besar korban merupakan warga negara asing yang tergoda oleh hadiah besar yang ditawarkan. “Kami ulangi bahwa ini bukan scam ya. Ini adalah pure perjudian,” terang Wira.
Dari penyelidikan sementara, polisi menyebut bahwa sebagian besar korban dari aktivitas ini berasal dari luar negeri. “Untuk korban sementara dari hasil penelusuran kami berdasarkan analisa, bahwa yang menjadi korban ini rata-rata adalah warga negara luar,” tegas Wira. Operasi ini juga menemukan bukti-bukti bahwa modusnya berupa pemilihan target korban secara sistematis, baik melalui media sosial maupun jaringan perkenalan langsung.
Kegiatan Tidak Dianggap sebagai Penipuan Daring
Bareskrim Polri memastikan bahwa kegiatan yang dijalankan kelompok tersebut adalah praktik perjudian online murni, bukan skema penipuan atau scam. “Ini adalah bentuk operasi penting Bareskrim Polri untuk menangkap kegiatan yang sudah merugikan masyarakat secara luas,” tambah Wira. Ia menjelaskan bahwa para pelaku tidak mengaku melakukan penipuan, melainkan fokus pada pengelolaan taruhan daring dengan transaksi kecil dan modal besar.
Operasi ini juga mengungkap adanya kerja sama antar pelaku di dalam dan luar negeri. Sebagian besar dari mereka bekerja dalam tim yang terstruktur, dengan peran seperti pengelola website, pengambilan data korban, dan penerimaan keuntungan. Polisi mengatakan bahwa operasi tersebut menghasilkan keterangan penting tentang cara kerja jaringan ini, termasuk penyalahgunaan mata uang digital untuk mempermudah transaksi.
Korban Terutama dari Negara-Negara Asia
Berdasarkan hasil penyelidikan, sekitar 70 persen korban berasal dari negara-negara Asia, khususnya Singapura, Filipina, dan Malaysia. Kebanyakan dari mereka terdaftar sebagai pekerja paruh waktu atau mahasiswa yang tertarik dengan keuntungan cepat dari perjudian daring. “Kami memperkirakan bahwa mereka memilih Hayam Wuruk karena lokasinya strategis dan keamanan yang lebih terjamin dibandingkan kawasan lain,” ujar Wira.
Dalam operasi penting ini, Bareskrim Polri juga mengamankan barang bukti berupa perangkat komputer, kartu kredit, dan uang tunai sejumlah besar. Aksi ini menjadi contoh nyata kinerja lembaga kepolisian dalam menekan kejahatan berbasis digital yang semakin meresahkan masyarakat. “Operasi ini memberikan pesan kuat bahwa Bareskrim Polri siap menggagalkan sindikat yang beroperasi secara diam-diam,” pungkas Wira.