Candi Borobudur Tetap Buka Saat Waisak Minggu 31 Mei 2026, Cek Jam Operasional
Historic Moment – Dalam rangka merayakan Hari Waisak 2026, Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, akan tetap menerima pengunjung hingga pukul 14.00 WIB pada hari pelaksanaan, Minggu 31 Mei. Hal ini dijelaskan oleh Gistang Richard Panutur, Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, dalam wawancara yang dilansir Antara, Rabu 27 Mei 2026.
Persiapan untuk Ibadah dan Acara Puncak
Menurut Gistang, batasan waktu kunjungan wisata diterapkan agar tidak mengganggu persiapan acara keagamaan yang akan dilangsungkan. “Setelah pukul 14.00 WIB, pengunjung akan diberi arahan untuk meninggalkan area candi agar tidak menghambat prosesi ibadah dan upacara Waisak,” ujar dia. Keputusan ini diambil untuk memastikan jalannya perayaan berjalan lancar, sekaligus menciptakan suasana khusus bagi para penyelenggara dan pengunjung yang hadir.
“Secara operasional kami tetap buka sampai jam dua siang. Setelah jam dua siang kami akan mulai menganjurkan para pengunjung untuk meninggalkan lokasi karena kami mempersiapkan rangkaian Waisak. Untuk naik ke atas candi juga tidak bisa pada hari tersebut, hanya sampai pelataran saja,” jelas Gistang.
Pengunjung yang masuk ke area candi akan dibatasi hanya pada pelataran. Mereka tidak diperkenankan mengakses bagian utama candi selama acara ibadah berlangsung. Gistang menekankan bahwa pengaturan ini dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengunjung, sekaligus menghormati tradisi serta kebutuhan pengurus tempat ibadah.
Kenaikan Jumlah Lentera Perdamaian
Sementara itu, Fatmawati, Ketua Lentera Perdamaian Waisak Borobudur, mengungkapkan bahwa jumlah lentera yang diterbangkan pada tahun ini mencapai 2.570 unit. Jumlah ini mengalami peningkatan satu unit dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi simbol keberuntungan dan harapan baik bagi umat Buddha. “Setiap tahun kami selalu menambah satu lentera supaya tambah hoki. Tahun ini jumlahnya 2.570 lentera perdamaian,” tutur Fatmawati.
“Perayaan Waisak di Borobudur setiap tahunnya menjadi magnet wisata religi dan budaya yang menarik ribuan umat Buddha maupun wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara,” pungkas Fatmawati.
Lentera perdamaian, yang menjadi bagian integral dari perayaan Waisak, akan diterbangkan sejak malam hari hingga dini hari. Fatmawati menjelaskan bahwa keberadaan lentera ini bertujuan untuk menciptakan suasana spiritual dan menghiasi langit kawasan Borobudur dengan cahaya yang menggambarkan keindahan budaya serta simbol-simbol agama. Jumlah lentera yang ditambahkan ini juga dipandang sebagai bentuk perayaan yang lebih meriah, menunjukkan semangat kolaborasi antara pengelola tempat dan komunitas lokal.
Pertunjukan Drone yang Lebih Menarik
Di samping lentera perdamaian, teknologi drone akan menjadi daya tarik baru dalam perayaan Waisak 2026. Fatmawati menyampaikan bahwa sebanyak 570 drone akan diterbangkan untuk memperkaya pemandangan malam hari di kawasan Borobudur. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya menggunakan 450 drone.
“Kalau tahun kemarin baru 450 drone, sekarang menjadi 570, mengambil tiga digit terakhir tahun Buddhis,” terang Fatmawati.
Pertunjukan drone ini dirancang untuk menghadirkan visual yang lebih spektakuler dan menghibur. Berbagai efek cahaya, musik, serta gerakan drone akan disusun agar selaras dengan tema perayaan Waisak. Fatmawati menambahkan bahwa penggunaan teknologi ini bertujuan untuk menarik minat generasi muda serta wisatawan internasional yang mencari pengalaman budaya yang inovatif. Dengan kenaikan jumlah drone, perayaan tahun ini akan lebih menunjukkan kecanggihan dan keakuratan dalam mempersembahkan keindahan budaya Jawa kepada masyarakat.
Tradisi Waisak dan Makna Historis
Waisak, atau Wesak, adalah hari besar keagamaan Buddha yang dirayakan untuk memperingati lahirnya Siddharta Gautama, atau Buddha Gotama. Borobudur, sebagai candi tertinggi di dunia, memiliki peran penting dalam perayaan ini. Sejak berabad-abad lalu, tempat ini menjadi pusat kegiatan spiritual dan budaya, terutama pada bulan Mei yang menjadi waktu utama perayaan Waisak.
Pada tahun 2026, pengelolaan Candi Borobudur terus berupaya memperkaya pengalaman wisatawan. Kebukaan hingga pukul 14.00 WIB, sekaligus pengaturan akses ke area pelataran, menjadi salah satu strategi untuk menjaga keseimbangan antara atraksi wisata dan kebutuhan ritual. Fatmawati menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menggali makna sejarah dan budaya tempat tersebut.
Borobudur yang terletak di tengah lereng Gunung Merapi ini bukan hanya icon wisata, tetapi juga simbol keagamaan yang menjadi ajang pertemuan antara kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai spiritual. Berbagai kegiatan, mulai dari ibadah bersama, pertunjukan seni, hingga pertunjukan teknologi, akan dihadirkan untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Fatmawati menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur terus berkembang, baik secara jumlah pengunjung maupun kualitas penyelenggaraannya.
Menurut Fatmawati, jumlah pengunjung Waisak di Borobudur pada tahun ini diperkirakan meningkat karena kehadiran pertunjukan drone dan penambahan lentera. “Kedua elemen ini menjadi daya tarik yang tidak pernah ada sebelumnya, tetapi tetap mempertahankan nuansa tradisional dan spiritual,” kata dia. Pengelola juga mengantisipasi lonjakan pengunjung dengan memperketat protokol kebersihan serta keselamatan, terutama pada jam operasional yang diperpanjang.
Struktur dan Skenario Acara
Acara Waisak 2026 akan berlangsung dalam beberapa tahap, mulai dari pagi hari hingga malam hari. Masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam ibadah dapat memanfaatkan waktu kunjungan hingga pukul 14.00 WIB untuk mengikuti prosesi ritual. Setelahnya, tempat akan diperlakukan sebagai area khusus bagi para peserta upacara, termasuk para umat Buddha dan penganugerah gelar spiritual.
Pengelolaan acara ini melibatkan kerja sama antara pihak Taman Wisata Candi Borobudur dengan komunitas lokal, serta pengurus keagamaan. Fatmawati menuturkan bahwa perayaan Waisak di Borobudur dirancang secara terpadu, menggabungkan elemen budaya, keagamaan, dan teknologi modern. “Kami berharap pengunjung merasa terhibur dan terinspirasi selama mengikuti acara ini,” tambahnya.
Pengunjung yang ingin men
