Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Facing Challenges: Lift JPO Lenteng Agung Rusak Diprotes Warga

Daniel Smith 3 mins read 15 views

Rusak Diprotes Warga Facing Challenges - Masyarakat di Jakarta Selatan sedang menghadapi tantangan besar akibat kerusakan lift Jembatan Penyeberangan Orang

Facing Challenges: Lift JPO Lenteng Agung Rusak Diprotes Warga

Lift JPO Lenteng Agung Rusak Diprotes Warga

Facing Challenges – Masyarakat di Jakarta Selatan sedang menghadapi tantangan besar akibat kerusakan lift Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Lenteng Agung yang memicu protes warga. Fokus utama pada facings challenges ini terlihat jelas dari keluhan para pengguna, terutama lansia dan penyandang disabilitas, yang kesulitan menyeberang karena aksesibilitas yang terganggu. Saefullah (66), warga setempat, mengungkapkan kesulitannya saat menaiki ratusan anak tangga setiap hari. “Saya baru tahu, lift saat ini tidak bisa digunakan karena sedang diperbaiki,” ujarnya saat diwawancara di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Ia mengatakan, kondisi ini membuatnya merasa terbebani, terlebih setelah harus menempuh perjalanan jauh untuk bertemu dengan saudara yang belum lama tidak berjumpa.

Kerusakan lift di JPO Lenteng Agung terjadi pada Selasa (2/6), dan sejak saat itu, fasilitas tersebut menjadi hambatan utama bagi warga yang mengandalkan alat tersebut. Saefullah menjelaskan, jumlah anak tangga yang harus dinaiki mencapai 120, sehingga menguras energi dan waktu. “Ini saja sudah capek naiknya, apalagi jika harus ke tempat lain,” tambahnya. Kondisi ini tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga mengurangi kenyamanan dan keamanan dalam perjalanan sehari-hari.

Keluhan Warga dan Penggunaan Lift

Selain Saefullah, sejumlah warga lainnya juga mengeluhkan dampak serupa. Lia Yulianti (40), yang sering memanfaatkan lift untuk aktivitas harian, menyatakan kekhawatirannya terhadap kaki yang sakit. “Saya sebenarnya sering pakai lift, tapi kalau mati, saya takut naik tangga karena kaki sakit dan lemah,” tutur Lia. Ia menambahkan, lift menjadi solusi utama bagi warga yang tidak mampu berjalan jauh, terutama di jam sibuk.

Menurut Dinas Bina Marga DKI Jakarta, kerusakan lift disebabkan oleh gangguan sistem kelistrikan. Meski pihaknya sudah memperbaikinya, hingga saat ini, fasilitas tersebut belum bisa digunakan kembali. “Saya harus naik 60 anak tangga di sini, belum di sana, total 120 anak tangga kan berarti. Ini saja sudah capek naiknya,” ucap Saefullah. Keluhan ini menggambarkan facings challenges yang dihadapi oleh warga dalam mengakses fasilitas umum yang seharusnya inklusif.

Penyebab Kerusakan dan Pemeliharaan

Dinas Bina Marga DKI Jakarta menjelaskan, kerusakan lift JPO Lenteng Agung terjadi akibat putusnya sejumlah kabel listrik. Kebocoran arus listrik berdampak pada kegagalan operasional alat tersebut. “Kami sedang memperbaikinya agar segera bisa digunakan kembali,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga, Siti Dinarwenny. Ia menambahkan, pihaknya berharap masyarakat menjaga fasilitas umum agar tetap layak digunakan, terutama bagi kelompok rentan.

Sejumlah warga meminta pemerintah lebih transparan dalam menjelaskan penyebab dan durasi perbaikan. “Jika lift rusak, warga seperti saya harus beradaptasi dengan kondisi yang facings challenges,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Pemeliharaan yang kurang optimal mengakibatkan aksesibilitas terganggu, sehingga memicu kecemasan dan ketidakpuasan di tengah masyarakat. Dinas Bina Marga berkomitmen untuk mempercepat proses perbaikan, tetapi masih perlu waktu untuk memastikan semua komponen lift berfungsi dengan baik.

Pemakai lift lainnya, seperti tukang becak dan pejalan kaki, juga mengalami kesulitan. Seorang tukang becak mengatakan, ia sering mengangkut penumpang menuju JPO, tetapi kini harus mengubah rute perjalanan karena lift tidak bisa digunakan. “Warga seperti saya jadi repot karena harus menunggu lebih lama atau mengambil jalur yang tidak efisien,” katanya. Facings challenges ini memperlihatkan bagaimana fasilitas umum yang seharusnya memudahkan bisa menjadi penghalang jika tidak dikelola dengan baik.

Sebagai bentuk respons, warga mengusulkan beberapa solusi, seperti penggunaan lift cadangan atau pemasangan perahu pengangkut untuk mempercepat perjalanan. Namun, hingga saat ini, tidak ada tindakan konkret yang diambil. “Kalau lift rusak, kita harus facings challenges yang lebih besar, terutama untuk warga lanjut usia yang rentan cedera,” kata seorang aktivis lokal. Dengan kondisi ini, masyarakat berharap pemerintah lebih peduli terhadap kebutuhan aksesibilitas, terlepas dari facings challenges yang dihadapi dalam pengerjaan proyek infrastruktur.

Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana kerusakan infrastruktur bisa menimbulkan dampak sosial yang signifikan. Dinas Bina Marga mengakui adanya keterlambatan dalam pemeliharaan, dan berkomitmen untuk memperbaiki sistem tersebut. Namun, untuk mengatasi facings challenges yang dihadapi warga, perlu diperkuat koordinasi antara pihak pemerintah, warga, dan organisasi pendamping. “Lift adalah bagian dari fasilitas umum yang penting, dan kegagalan dalam menjaga keberfungsian memicu protes dari masyarakat,” pungkas Siti Dinarwenny. Dengan kepedulian yang lebih tinggi, diharapkan facings challenges ini bisa diminimalkan, sehingga warga dapat menikmati aksesibilitas yang optimal.

Gabung diskusi