BRIN Kembangkan Teknologi Penyimpanan Gas, Bisa Pangkas Subsidi LPG Rp 26 Triliun
Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menggarap terobosan penting dalam sektor energi nasional. Melalui pertemuan dengan ratusan peneliti
BRIN Kembangkan Teknologi Penyimpanan Gas Bisa Hemat Subsidi
Beritaterbaik.com – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menggarap terobosan penting dalam sektor energi nasional. Melalui pertemuan dengan ratusan peneliti di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (6/8/2026), Presiden Prabowo Subianto menerima paparan mendalam mengenai inovasi penyimpanan gas alam. Inovasi ini diproyeksikan mampu memangkas subsidi LPG hingga Rp 26 triliun setiap tahunnya. BRIN Kembangkan Teknologi Penyimpanan Gas Bisa menjadi salah satu program strategis yang diharapkan mengubah lanskap energi Indonesia ke depan.
Prinsip Kerja Teknologi ANG dengan Material MOF
Kepala BRIN, Arif Satria, memaparkan bahwa sistem Adsorbed Natural Gas (ANG) menjadi tulang punggung inovasi ini. Berbeda dengan teknologi Compressed Natural Gas (CNG) yang membutuhkan tekanan sangat tinggi, ANG beroperasi pada tekanan sekitar 30 bar. Proses penyerapan gas ini memanfaatkan material Metal Organic Framework (MOF), yaitu senyawa berpori dengan kemampuan menyerap gas alam secara efisien. Material ini memiliki struktur unik yang memungkinkan penyimpanan gas dalam volume lebih besar dengan tekanan lebih rendah.
“BRIN telah membangun sister-lab bersama peraih Nobel dari Jepang itu. Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp 26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG,” ujar Arif Satria.
Kolaborasi riset ini tidak lepas dari kerja sama dengan ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, yang dikenal sebagai pelopor teknologi MOF di dunia. Melalui sinergi ini, BRIN menargetkan pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Teknologi penyimpanan gas ini juga mendukung pemanfaatan gas alam domestik yang selama ini belum termanfaatkan optimal.
Fasilitas Riset Strategis dan Peta Jalan 2026-2045
BRIN tidak hanya fokus pada satu teknologi saja. Lembaga ini terus mengembangkan berbagai inovasi di sektor energi, mulai dari biofuel, energi biomassa, energi terbarukan, hingga pengembangan baterai. Arif Satria menegaskan bahwa riset akan dipusatkan pada teknologi-teknologi maju yang menjadi penentu daya saing Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Teknologi tersebut mencakup semikonduktor, kecerdasan buatan, genomik, teknologi kuantum, nuklir, dan antariksa.
“Penguasaan teknologi-teknologi inilah yang akan menentukan apakah Indonesia menjadi pengguna teknologi atau pemilik teknologi kita ke depan,” kata Arif.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, BRIN mengoperasikan berbagai fasilitas riset strategis di seluruh nusantara. Infrastruktur yang tersedia meliputi reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomik, pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk jajaran Top 500 dunia, serta fasilitas pengujian pesawat, kereta api, roket, dan teknologi kemaritiman.
BRIN juga telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026-2045 bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dokumen ini menjadi acuan pembangunan ilmu pengetahuan yang selaras dengan RPJMN, Asta Cita, dan target Indonesia Emas 2045. Hilirisasi hasil riset menjadi tantangan berikutnya agar inovasi BRIN dapat diadopsi oleh dunia usaha dan memberikan dampak nyata terhadap ekonomi nasional.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Teknologi Penyimpanan Gas BRIN
Apa itu teknologi ANG? Teknologi ANG (Adsorbed Natural Gas) adalah sistem penyimpanan gas alam menggunakan material berpori yang memungkinkan penyimpanan pada tekanan lebih rendah dibandingkan CNG konvensional.
Berapa potensi penghematan subsidi LPG? Berdasarkan perhitungan awal BRIN, teknologi ini mampu menghemat hingga Rp 26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG nasional.
Siapa mitra riset BRIN dalam pengembangan teknologi ini? BRIN berkolaborasi dengan ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, peraih Nobel yang diakui sebagai pelopor teknologi MOF di dunia.
Bagaimana teknologi ini membantu kemandirian energi? Dengan memanfaatkan gas alam domestik melalui teknologi penyimpanan yang efisien, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
