Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Siasat Agar Tak Antre di SPBU Berjam-jam

James Brown - beritaterbaik.com 4 mins read 2 views

Di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum, pemandangan kendaraan yang bergerak satu per satu menuju dispenser kini telah menjadi hal yang biasa. Antrean

Strategi Pengendara Menghindari Antrean Panjang di SPBU

Beritaterbaik.com – Di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum, pemandangan kendaraan yang bergerak satu per satu menuju dispenser kini telah menjadi hal yang biasa. Antrean yang membentang panjang bukan lagi sekadar masalah waktu beberapa menit, melainkan menjadi bagian dari perencanaan para pengendara agar perjalanan mereka tidak terhambat. Bagi Amran, seorang pengemudi ojek online berusia 44 tahun yang berasal dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, proses mengisi bahan bakar telah berubah menjadi aktivitas yang memerlukan perhitungan matang.

Pada Kamis pagi, 6 Agustus 2026, Amran memutuskan untuk mematikan mesin Honda Scoopy miliknya di SPBU COCO Cikini 31.103.03 Pertamina. Dengan mengenakan seragam hijau dan helm bertuliskan “Gojek”, ia menunggu sekitar lima menit sebelum akhirnya mendorong motornya ke dispenser Pertalite. “Saya baru saja selesai mengantarkan penumpang ke Gondangdia. Tadi malam saya lupa mengisi bensin,” jelas Amran setelah menyelesaikan pengisian BBM senilai Rp25 ribu.

Menurut Amran, pagi hari bukanlah waktu yang paling ideal untuk mengisi bahan bakar. Selain berada di tengah jam sibuk, antrean kendaraan menyebabkan waktu terbuang lebih banyak. Meskipun indikator bensin motornya masih menunjukkan satu bar, ia lebih memilih mengisi lebih awal daripada berisiko kehabisan bensin saat sedang bekerja. “Jika terus ditunda, dikhawatirkan bensin akan habis dan tidak menemukan pom bensin,” ujarnya.

Waktu Terbaik Mengisi Bahan Bakar

Berdasarkan pengalamannya, Amran menemukan bahwa waktu optimal untuk mengisi bensin adalah pada siang hingga sore hari, antara pukul 11.30 hingga 15.00 WIB, atau larut malam setelah pukul 21.30 WIB. Meskipun tidak menjamin SPBU benar-benar sepi, antrean pada waktu-waktu tersebut cenderung tidak sepanjang pagi. “Jadi, kita tidak perlu menunggu terlalu lama,” katanya.

Situasi serupa dialami oleh Dede, seorang pengemudi ojek online berusia 37 tahun yang menjadikan pekerjaan tersebut sebagai penghasilan tambahan setelah bekerja sebagai office boy. Bagi Dede, malam hari merupakan waktu yang paling logis untuk mengisi bensin. “Kita mencoba meminimalisir antrean dengan mengisi pada malam hari, biasanya sekitar pukul 11 atau 12 malam,” ujarnya.

Namun, strategi ini tidak selalu berhasil. “Meskipun malam hari, antrean masih ada. Saya tinggal di Palmerah, ada dua pom bensin di dekat rumah, tetapi kadang ada yang tutup pukul 9 atau 10. Jika melewati Jalan Panjang, hampir semua pom bensin pasti ada antreannya. Bahkan pada pukul 11 atau 12 malam, antrean masih cukup panjang,” jelasnya.

Strategi Beragam untuk Menghemat Waktu

Setiap harinya, Dede mulai menarik order sekitar pukul 17.00 WIB setelah menyelesaikan pekerjaan utamanya. Pada akhir pekan, ia bisa bekerja dari pagi hingga malam sehingga harus mengisi bensin lebih dari satu kali. “Jika mengisi pada siang hari, biasanya setelah Ashar atau setelah Zuhur. Antreannya juga cukup panjang, bahkan bisa dibilang lebih kacau dibandingkan malam hari. Namun, kita memang tergantung pada lokasi pom bensin,” katanya.

Meskipun sering menghadapi antrean panjang, Dede mengaku jarang membeli bensin eceran. “Saya jarang membeli bensin eceran karena harganya lebih mahal dan kadang ada yang bilang bensinnya dioplos. Jadi, saya lebih memilih antrean daripada motor mengalami masalah,” ujarnya.

Sementara itu, Ramdan, seorang pekerja swasta berusia 29 tahun yang menggunakan Honda Vario sebagai kendaraan harian, memilih strategi berbeda. Alih-alih menunggu lama untuk mengisi Pertalite, ia lebih memilih Pertamax dan sesekali Pertamax Turbo ketika kondisi mendesak. “Saya capek menunggu lama. Mengisi Pertamax kadang juga antre, apalagi Pertalite,” katanya.

Menurut Ramdan, pilihan tersebut memang memerlukan biaya tambahan. Namun, waktu yang dihemat dianggap sepadan dengan pengeluaran ekstra. “Biasanya pada pukul 7 atau 8 malam, jika sudah sangat capek dan memiliki dana lebih, serta melihat Pertamax ramai, saya akan menggunakan Pertamax Turbo. Memang terasa di kantong, tetapi tidak apa-apa dilakukan sesekali,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Cikal, seorang pegawai kantoran berusia 30 tahun di kawasan SCBD yang setiap hari melakukan perjalanan pulang-pergi antara Cikarang dan Bekasi. Ia mengaku lebih memilih Pertamax atau Pertamax Green karena antreannya relatif lebih singkat. “Untungnya mobil saya cocok dengan bahan bakar oktan RON 92 ke atas. Jadi, biasanya tidak terlalu mengantri,” katanya.

Meskipun pernah menggunakan Pertalite, Cikal kini menganggap memilih BBM nonsubsidi sama dengan membeli waktu. “Menurut saya, Pertamax bisa dikatakan sebagai cara membeli waktu. Jika Pertalite, kita memang harus menunggu. Saya lebih memilih yang cepat, jadi saya isi Pertamax daripada mengantri lama,” pungkasnya.

Frequently Asked Questions

What is Siasat Agar Tak Antre di SPBU?

Siasat Agar Tak Antre di SPBU is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Siasat Agar Tak Antre di SPBU matter?

Siasat Agar Tak Antre di SPBU matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi