Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Kemenkes Ungkap Hasil Investigasi Kematian Dokter Internship di Apartemen Jaksel

Barbara Miller - beritaterbaik.com 3 mins read 3 views

Kementerian Kesehatan resmi merilis temuan penyelidikan terkait meninggalnya seorang dokter internship yang bekerja di Rumah Sakit Sentra Medika Depok. Dokter

Kemenkes Ungkap Hasil Investigasi Kematian Dokter Internship di Apartemen Jaksel

Kemenkes Ungkap Hasil Investigasi Kematian Dokter Internship

Beritaterbaik.com – Kementerian Kesehatan resmi merilis temuan penyelidikan terkait meninggalnya seorang dokter internship yang bekerja di Rumah Sakit Sentra Medika Depok. Dokter dengan inisial SZM ditemukan meninggal di Apartemen Kalibata City pada 26 Juli 2026. Hendra Teja, Inspektur Investigasi Inspektorat Jenderal Kemenkes, menjelaskan bahwa investigasi ini menelaah lima dimensi utama untuk memahami kondisi yang melatarbelakangi kejadian tersebut.

Lima Aspek yang Ditelaah

Kelima aspek yang menjadi fokus meliputi durasi kerja, intensitas tugas, hak cuti atau izin sakit, lingkungan kerja, serta kesehatan mental dan fisik. Hendra menyampaikan bahwa analisis menunjukkan tidak adanya kelebihan jam kerja bagi dokter SZM. Regulasi yang berlaku membatasi maksimal 40 jam kerja per minggu untuk para dokter internship sebagai bentuk perlindungan dari potensi eksploitasi.

“Pertama kita melihat bahwa jam kerja yang dilakukan oleh saudari SZM ini tidak terdapat kelebihan jam kerja,” kata Hendra dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2026).

Dalam hal beban tugas, hasil investigasi menunjukkan tidak ada indikasi beban kerja yang berlebihan selama program internship berlangsung. Terkait hak cuti, dokter SZM diberikan kebebasan untuk tidak bekerja saat sakit tanpa kewajiban mengganti hari kerja. RS Sentra Medika Depok menerapkan kebijakan yang memberikan izin sakit dan cuti kepada dokter SZM ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk bekerja.

Lingkungan Kerja yang Supportif

Aspek keempat yang dievaluasi adalah lingkungan kerja. Hendra menyatakan bahwa hasil investigasi menunjukkan suasana kerja yang mendukung bagi dokter SZM di RS Sentra Medika Depok. Dokter tersebut kerap mendapatkan konsumsi makan selama menjalani program internship. Ketika dokter SZM merasa tidak mampu masuk kerja karena sakit, ia berkomunikasi dengan rekan-rekan dan dokter pendamping. Respons yang diterima menunjukkan dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya.

“Kita melihat lingkungan kerja beliau itu suportif ketika beliau misalnya sakit, kemudian merasa tidak bisa masuk, kemudian berkomunikasi kepada teman-temannya dan juga pada dokter pendampingnya, itu kita melihat teman-temannya dan dokter pendampingnya itu mendukung. Jadi ibaratnya ini suportif, bahkan terkadang kala beliau sering mendapatkan konsumsi makan ketika bekerja sebagai tenaga atau dokter internship di lingkungan tersebut,” jelasnya.

Permasalahan Kesehatan Jiwa

Temuan mengenai aspek kelima, yaitu kondisi kesehatan, menunjukkan hasil yang berbeda dari aspek lainnya. Kemenkes mengidentifikasi adanya permasalahan kesehatan jiwa yang dialami oleh dokter SZM. Hendra menjelaskan bahwa kondisi ini mengharuskan dokter SZM untuk mengonsumsi obat secara rutin. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Kemenkes.

“Jadi intinya di sini dari segi jam kerja, beban kerja, izin sakit, cuti, dan lingkungan kerja, kita tidak melihat adanya penyimpangan atau anomali sampai saat ini, ya. Tapi kita lihat yang nomor lima ada kondisi kesehatan yang memang perlu menjadi perhatian kita semua,” ucapnya.

Detail Kejadian di Apartemen

Sebelumnya, dr. SZM ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai 18 Apartemen Kalibata di Pancoran, Jakarta Selatan, pada hari Minggu, 26 Juli 2026. Polisi melakukan penyelidikan untuk mengetahui motif di balik tindakan tersebut. Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, menyampaikan bahwa berdasarkan penyelidikan awal, korban tinggal bersama ibunya di unit apartemen tersebut.

Mansur menjelaskan bahwa sebelum kejadian, sang ibu mengajak korban pergi ke pusat perbelanjaan. Namun, ajakan itu ditolak oleh korban yang memilih untuk tetap berada di apartemen. Setelah ibunya pergi, korban mengunci pintu apartemen dari dalam. Tidak lama kemudian, korban diduga melompat dari jendela apartemen yang berada di lantai 18.

“Korban tinggal berdua sama ibunya. Saat itu ibunya mengajak pergi ke mal, tetapi korban tidak mau dan tetap di unit,” kata Mansur saat dihubungi, Senin (27/7/2026).

Mansur menambahkan bahwa korban sempat tersangkut di balkon sebelum akhirnya jatuh ke bawah. Polisi yang menerima laporan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.

Gabung diskusi