Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

What Happened During: Dari Bekas Tambang, Lembah Suhita Disulap jadi Kawasan Konservasi

Daniel Smith 3 mins read 21 views

Dari Bekas Tambang, Lembah Suhita Disulap Jadi Kawasan Konservasi What Happened During transformasi ekosistem di Kota Bandar Lampung terwujud melalui kawasan

What Happened During: Dari Bekas Tambang, Lembah Suhita Disulap jadi Kawasan Konservasi

Dari Bekas Tambang, Lembah Suhita Disulap Jadi Kawasan Konservasi

What Happened During transformasi ekosistem di Kota Bandar Lampung terwujud melalui kawasan konservasi alam baru, Lembah Suhita. Area yang dulunya bekas tambang batu di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Utara, kini menjadi ruang hijau yang menawarkan kegiatan wisata edukatif dan edukasi lingkungan. Dengan luas satu hektare, proyek ini berhasil mengubah lahan gersang menjadi destinasi yang menarik perhatian wisatawan sekaligus menjadi contoh sukses pengelolaan daerah secara berkelanjutan.

Perjalanan Transformasi Mulai dari 2016

Pembangunan Lembah Suhita dimulai pada 2016 oleh Suyadi, seorang pengusaha madu dengan merek “Madu Suhita.” Berawal dari pengalaman dua tahun di Australia, ia menemukan konsep konservasi alam yang bisa diterapkan di Bandar Lampung. Tahun pertama, Suyadi memulai perubahan dengan memanfaatkan batu-batu bekas tambang sebagai bahan baku ekosistem. Proses ini melibatkan penanaman tanaman lokal dan pemanfaatan air hujan untuk menghidupkan kembali jalur yang sebelumnya hampa.

“Dulu ini hanya gundukan batu dan tanah keras. Kini, kami membentuk ekosistem yang bisa ditempati oleh berbagai makhluk hidup, termasuk lebah,” ujar Adinda Putri Anastasia, Tim Marketing Lembah Suhita, saat ditemui Liputan6.com, Selasa (23/6/2026). Konsep From Quarry to Sanctuary menjadi dasar perubahan ini, menggambarkan perjalanan dari kerusakan lingkungan ke ruang konservasi.

Peran Lebah dalam Ekosistem Terbentuk

Pendekatan konservasi lebah menjadi unik dalam proyek ini. Suyadi, yang memiliki keahlian di bidang perlebahan, memastikan bahwa setiap kegiatan di Lembah Suhita memberikan manfaat bagi ekosistem. Kini, kawasan ini menjadi tempat berkembangnya koloni lebah, dengan sarang yang dirancang ramah lingkungan. Pengunjung juga diberi kesempatan untuk melihat secara langsung proses penyerbukan tanaman oleh lebah, yang sebelumnya dianggap sebagai hama.

What Happened During renovasi ini mencakup perubahan pola pikir masyarakat terhadap serangga kecil ini. Dengan aktivitas seperti memanen madu langsung dari sarangnya, pengunjung bisa memahami peran lebah sebagai penjaga keseimbangan alam. Selain itu, kawasan ini juga menyediakan pelatihan edukasi untuk generasi muda, sehingga mereka terlibat secara aktif dalam menjaga lingkungan sekitar.

Wisata Edukasi yang Memadukan Aktivitas

What Happened During transformasi Lembah Suhita terlihat dari beragam aktivitas yang ditawarkan. Salah satu yang menarik adalah barefoot grounding, di mana pengunjung berjalan tanpa alas kaki di jalur yang dibuat dari batu alami. Aktivitas ini dirancang untuk memperkuat koneksi manusia dengan alam, serta membantu melepas stres akibat rutinitas harian.

Kawasan juga menyediakan area piknik, gazebo, dan jalur sungai yang jernih untuk relaksasi. Anak-anak dan keluarga bisa bermain sambil belajar tentang ekosistem, seperti menangkap ikan, memahami peran tumbuhan, dan melihat serangga-serangga kecil yang hidup di sekitar. Selain itu, ada juga lokasi untuk menanam pohon dan mengadakan kegiatan ekosistem perlahan.

Komitmen Ekonomi dan Lingkungan

What Happened During proyek ini tidak hanya mengubah wajah alam, tetapi juga memberi dampak ekonomi positif bagi sekitar. Tidak ada biaya masuk atau parkir, tetapi pengunjung diwajibkan membeli produk minimal Rp 25 ribu per orang. Produk yang dijual beragam, mulai dari madu, makanan, minuman, hingga produk UMKM lokal. Konsep ini menunjukkan bahwa kawasan konservasi bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Transformasi Lembah Suhita juga mengubah persepsi masyarakat terhadap lahan bekas tambang. Sebelumnya, bekas tambang dianggap sebagai area tidak layak pakai. Kini, kawasan ini menjadi saksi bisu perubahan yang bisa dicapai melalui kesabaran dan inovasi. What Happened During perjalanan ini mencerminkan keberhasilan pengelolaan yang berfokus pada edukasi dan keseimbangan ekosistem.

Kawasan Hijau sebagai Oase Perkotaan

Dalam perkembangan kota Bandar Lampung yang pesat, Lembah Suhita menjadi tempat bernapas bagi masyarakat. Kawasan ini menawarkan ruang hijau yang jauh dari kebisingan kota, sekaligus mengajarkan cara menjaga lingkungan. Pengunjung bisa merasakan suasana tenang dan bercengkerama sambil belajar tentang pentingnya konservasi alam. What Happened During proyek ini juga memberikan contoh bahwa pengelolaan daerah bisa berdampak jangka panjang.

Lembah Suhita tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga bukti bahwa transformasi ekosistem bisa terwujud. Dengan konsep berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, kawasan ini terus berkembang. What Happened During perubahan ini menunjukkan bahwa konservasi alam bisa menjadi solusi untuk menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi secara bersamaan.

Gabung diskusi