Warga Baduy Ini Tempuh Empat Hari Demi Hadiri HUT RI di Monas
Warga Baduy Ini Tempuh Empat Hari penuh berjalan kaki untuk hadir di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Senin (17/8/2026), memperingati Hari Ulang Tahun ke-81
Warga Baduy Ini Tempuh Empat Hari Kaki demi Merayakan HUT RI di Monas
Beritaterbaik.com – Warga Baduy Ini Tempuh Empat Hari penuh berjalan kaki untuk hadir di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Senin (17/8/2026), memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Sekelompok orang berbalut pakaian hitam pekat dengan ikat kepala biru, serta sebagian lagi berpakaian putih polos, melangkah tanpa alas kaki di bawah terik matahari. Di antara mereka juga terlihat anak-anak kecil yang menggenggam tas tenun di pundak. Kehadiran rombongan tersebut menjadi pemandangan yang kontras di tengah kerumunan perayaan kemerdekaan, sekaligus pengingat bahwa tradisi adat Kanekes masih hidup dan dipraktikkan secara aktif hingga hari ini.
Undangan Langsung dari Gubernur DKI Jakarta
Hanip, seorang Pangiwa atau petugas adat Suku Baduy asal Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, menjelaskan bahwa kehadiran rombongannya di ibu kota merupakan respons atas undangan resmi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Sebelum melangkah menuju Monas, rombongan tersebut terlebih dahulu mengikuti upacara kemerdekaan di Balai Kota DKI Jakarta. Seusai rangkaian acara, Pramono secara khusus mengarahkan mereka untuk mengunjungi kawasan Monas sebagai bagian dari perayaan.
“Jadi ini kami dari warga baduy ikut kepala desa kanekes, tadi kami diundang sama gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Alhamdulillah hari kemerdekaan ini Alhamdulillah lancar, sangat luar biasa,” ujar Hanip ketika diwawancarai di kawasan Monas, Senin.
“Tadi kami diarahkan oleh pak Gub untuk mengarah ke sini. Karena kan mungkin baduy dalam jarang ke sini gitu,” tambah Hanip.
Kewajiban Adat: Perjalanan Tanpa Kendaraan
Yang membuat perjalanan ini luar biasa adalah cara mereka mencapai Jakarta. Rombongan Baduy Dalam menempuh perjalanan selama empat hari penuh dengan berjalan kaki. Menurut Hanip, hal ini bukan pilihan melainkan kewajiban adat yang tidak dapat dinegosiasikan. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar merupakan salah satu pilar utama struktur sosial masyarakat Kanekes. Warga Baduy Dalam terikat pada aturan adat yang jauh lebih ketat, termasuk larangan menggunakan kendaraan bermotor, listrik, dan berbagai produk modern lainnya. Perjalanan empat hari kaki dari wilayah Lebak menuju ibu kota menjadi bukti bahwa norma-norma tersebut masih berlaku secara penuh, bukan sekadar warisan sejarah yang telah ditinggalkan.
“Untuk baduy luar kan boleh naik mobil, kalau baduy dalam ini ga boleh, jadi jalan kaki. Empat hari,” terangnya.
Setibanya di Jakarta, rombongan langsung mengikuti protokol upacara yang telah dijadwalkan. Mereka berdiri bersama ribuan warga lain di area Balai Kota, kemudian diarahkan menuju Monas untuk menikmati suasana perayaan kemerdekaan secara langsung. Bagi sebagian anggota rombongan, ini merupakan kunjungan pertama mereka ke ibu kota dalam waktu yang sangat lama.
Harapan agar Tidak Dipandang Sebelah Mata
Di tengah perayaan kemerdekaan, Hanip menyampaikan harapan agar masyarakat Suku Baduy yang kerap bepergian ke kota besar tidak lagi mengalami kesulitan administratif. Ia menyoroti persoalan yang sering terjadi ketika warga Baduy Dalam ingin menginap di kelurahan, mengurus keperluan di kantor polisi, atau membutuhkan penanganan medis darurat. Ketiadaan dokumen identitas modern kerap menjadi hambatan, padahal prinsip adat melarang mereka membawa atau membuat dokumen tersebut.
“Harapan saya itu ke depannya lebih maju dan harapan kami kan terus terang banyak warga Baduy yang ke luar kota, ke jakarta. Harapan kami kalau misalnya lagi mau nginep di kelurahan atau misalkan di kantor kantor polisi kami harap di terima, walaupun kalau baduy dalam di tanya ktp enggak ada, tapi harus diterima,” paparnya.
“Dan apabila ada sakit atau gimana perlu ditangani walaupun misalkan tidak ada identitas itu yang diutamakan,” sambungnya.
FAQ
Apakah semua anggota Suku Baduy wajib berjalan kaki? Tidak. Larangan menggunakan kendaraan hanya berlaku bagi warga Baduy Dalam. Warga Baduy Luar diperbolehkan naik mobil atau transportasi umum untuk bepergian jarak jauh.
Apa makna pakaian hitam dan putih yang mereka kenakan? Pakaian hitam pekat dengan ikat kepala biru merupakan atribut khas warga Baduy Dalam yang menandakan kepatuhan penuh terhadap adat. Pakaian putih polos dikenakan oleh kelompok tertentu dalam rombongan sesuai ketentuan internal masyarakat Kanekes.
Bagaimana respons pemerintah daerah terhadap kehadiran mereka? Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara langsung mengundang rombongan dan mengarahkan mereka ke Monas setelah upacara di Balai Kota. Kehadiran ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT RI ke-81 di ibu kota.
