Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga NTT yang Belum Usai

beritaterbaik - beritaterbaik.com 3 mins read

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu telah menewaskan 70 orang. Hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA

NTT Masih Diguncang Ribuan Gempa Susulan: Warga Berjaga, Trauma Tak Berujung

Korban dan Status Pencarian

Beritaterbaik.com – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu telah menewaskan 70 orang. Hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA, total korban yang terdata mencapai 202 jiwa. Dari angka tersebut, 132 orang mengalami luka — 40 di antaranya luka berat dan 92 luka ringan.

Memasuki hari keempat operasi penanganan, Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, mengumumkan bahwa laporan warga hilang atau masih dalam pencarian tidak lagi diterima. Tim SAR pun mengalihkan fokus ke penyisiran wilayah terdampak serta pendampingan proses pemulihan yang dijalankan BNPB.

Data Gempa Susulan dari BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.119 kali gempa susulan mengguncang NTT hingga Selasa (18/8/2026) pukul 16.00 WIB. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa aktivitas seismik masih berfluktuasi dan pola peluruhan belum tampak jelas.

Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sementara yang terkecil mencapai magnitudo 1,3. Sebanyak 24 gempa susulan berada di atas magnitudo 5, dan 70 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi ini akan mulai stabil dalam 2 sampai 3 minggu ke depan,” jelas Berton.

Malam-Malam di Tenda Darurat

Di Kota Reo, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Fitri Tuti Darwanti (36) telah empat malam menghabiskan waktu di tenda darurat bersama suami dan kedua anaknya. Tenda beratapkan terpal hijau itu ditopang kayu seadanya; di dalamnya warga tidur beralaskan tikar dan kasur tipis, berhimpitan dalam ruang sempit.

Setiap guncangan kecil memicu kembali rasa takut yang belum sepenuhnya padam. Fitri mengaku tidak lagi mampu menghitung berapa kali bumi bergoyang sejak gempa utama terjadi. Baginya, gempa susulan kini terasa nyaris setiap menit.

“Kami sedih, takut, trauma, campur aduk. Mau masuk ke dalam rumah sendiri yang kami tinggali sehari-hari saja takut, takut tiba-tiba runtuh karena gempa selalu kunjungi kami setiap saat.”

Aktivitas paling dasar pun berubah menjadi sumber kecemasan. Makan, minum, hingga sekadar pergi ke toilet dilakukan dengan kewaspadaan ekstra. Fitri menuturkan bahwa warga hanya sesekali bercanda untuk memecah keheningan duka.

“Makan minum tidak tenang, pergi buang air saja tidak tenang, hanya kadang sedikit bercanda untuk mengisi waktu duka lara kami. Dan pastinya masih tetap bersyukur masih selamat.”

Malam hari menjadi waktu paling mencekam. Warga tidak lagi tidur seperti biasa; para pria bergantian berjaga, sementara para ibu berbaring memeluk anak-anak. Ketika listrik padam, api unggun dan obor sederhana menjadi satu-satunya penerangan.

“Kami sangat takut kalau gempa malam hari, karena sangat berisiko. Dan kami tidak bisa tidur tenang istirahat malam.”

“Gempa hampir tiap menit. Istilahnya kami jadi berteman dengan gempa.”

“Atau bakar obor kaya jaman dulu.”

Frequently Asked Questions

What is Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga?

Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga matter?

Ribuan Gempa Susulan dan Kecemasan Warga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi