Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Prasmanan MBG Diuji, BGN Klaim Lebih Segar dan Minim Sisa Makanan

wpmanadmin - beritaterbaik.com 4 mins read

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menguji pola penyajian prasmanan di sejumlah wilayah. Model ini dirancang agar makanan yang disiapkan tetap hangat

Prasmanan MBG Diuji, BGN Klaim Lebih Segar dan Minim Sisa Makanan

Uji Coba Prasmanan MBG Didorong Kurangi Sisa Makanan

Beritaterbaik.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menguji pola penyajian prasmanan di sejumlah wilayah. Model ini dirancang agar makanan yang disiapkan tetap hangat saat tiba di sekolah, sementara siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan mereka.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyampaikan bahwa uji coba tersebut memperlihatkan hasil awal yang positif. Selain dinilai membantu menjaga kesegaran makanan, sistem prasmanan juga dipandang dapat menekan jumlah makanan yang tidak habis dikonsumsi.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono, Selasa (6/10/2026).

Dalam pola pembagian per porsi, makanan umumnya sudah ditempatkan dalam wadah ompreng sekat sebelum diterima siswa. Pada skema prasmanan, makanan tetap diolah di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kemudian dikirim dalam keadaan hangat ke sekolah untuk disajikan langsung di kelas.

Perubahan tersebut tidak mengubah proses memasak di dapur pusat atau Central Kitchen. Yang berbeda adalah cara makanan dibagikan kepada penerima manfaat setelah tiba di lingkungan sekolah. Dengan pilihan porsi yang lebih fleksibel, siswa yang membutuhkan tambahan makanan dapat mengambilnya selama persediaan masih tersedia.

Pengaturan Porsi dan Edukasi di Sekolah

BGN memandang uji coba prasmanan bukan hanya penyesuaian teknis dalam distribusi makanan. Penerapannya juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi siswa mengenai kebiasaan mengambil makanan secara bijak, menjaga kebersihan, serta menghargai makanan yang telah disiapkan.

Sekolah memiliki peran penting dalam pelaksanaan model tersebut. Pihak sekolah perlu memastikan penyajian berjalan tertib, mengikuti standar kebersihan, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Kesiapan dapur serta koordinasi di sekolah menjadi unsur yang perlu diperhatikan sebelum sistem ini diterapkan secara lebih luas.

Siswa pun dapat ikut membantu proses pelayanan secara bergiliran. Namun, keterlibatan itu tetap harus menggunakan perlengkapan yang tepat serta mengikuti tata kelola higienitas. Pengaturan jadwal, pengawasan, dan pembiasaan menjadi bagian penting agar kegiatan makan tidak mengganggu proses belajar.

“Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain, namun memang perlu ada training (pelatihan) yang cukup,” tuturnya.

Pelatihan dibutuhkan karena sistem prasmanan memerlukan alur pelayanan yang berbeda dibanding pembagian makanan dalam wadah per porsi. Petugas dapur, tenaga pendamping, dan unsur sekolah perlu memahami cara menjaga makanan tetap layak saji hingga proses pembagian selesai. Kebersihan peralatan dan pengaturan antrean juga menjadi perhatian dalam penerapannya.

Uji Coba di Lebih dari 60 Dapur MBG

Piloting prasmanan MBG saat ini menjangkau lebih dari 60 SPPG atau dapur MBG. Lokasi uji coba tersebar di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jayapura, Papua. Cakupan wilayah yang beragam memberi ruang bagi BGN untuk melihat pelaksanaan model ini dalam kondisi sekolah, sumber daya manusia, dan karakteristik penerima manfaat yang berbeda-beda.

BGN terus melakukan pemantauan selama masa uji coba. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kemungkinan pengembangan sistem prasmanan di wilayah lain. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga kesiapan dapur, sekolah, tenaga pelaksana, serta kebutuhan siswa di masing-masing daerah.

Model ini menawarkan kemungkinan pengelolaan makanan yang lebih adaptif. Ketika porsi tidak sepenuhnya ditetapkan sejak awal untuk setiap siswa, makanan yang masih tersedia dapat dimanfaatkan oleh siswa lain. Prinsip tersebut diharapkan membantu mengurangi sisa makanan tanpa mengurangi tujuan utama program, yakni memastikan penerima manfaat memperoleh makanan bergizi.

Meski demikian, perlu ada kesiapan yang memadai agar fleksibilitas pembagian tidak menimbulkan kendala baru. Sekolah perlu mengatur waktu makan, mekanisme pelayanan, dan pengawasan kebersihan secara konsisten. Dapur juga harus memastikan jumlah serta kualitas makanan tetap terjaga sampai proses penyajian di kelas berlangsung.

Evaluasi dari berbagai daerah akan menentukan seberapa jauh pola prasmanan dapat diterapkan secara lebih luas dalam program MBG. Jika pelaksanaan berjalan sesuai standar, sistem ini berpotensi menjadi salah satu pilihan distribusi makanan yang lebih segar, memungkinkan penyesuaian porsi, dan membantu meminimalkan makanan tersisa.

Frequently Asked Questions

What is Prasmanan MBG Diuji BGN Klaim Lebih?

Prasmanan MBG Diuji BGN Klaim Lebih is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Prasmanan MBG Diuji BGN Klaim Lebih matter?

Prasmanan MBG Diuji BGN Klaim Lebih matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi