Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

New Policy: Nadiem: Saya Ingin Pulang ke Anak-Anak

Mary Hernandez 4 mins read 17 views

New Policy: Nadiem Tegaskan Keinginan Kembali ke Anak-Anak New Policy - Dalam sidang perkara dugaan korupsi terkait pengadaan laptop Chromebook dan sistem

New Policy: Nadiem: Saya Ingin Pulang ke Anak-Anak

New Policy: Nadiem Tegaskan Keinginan Kembali ke Anak-Anak

New Policy – Dalam sidang perkara dugaan korupsi terkait pengadaan laptop Chromebook dan sistem manajemen perangkat Chrome (CDM) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026), mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim memberikan pernyataan yang penuh emosi. Ia menyampaikan bahwa selain menjadi terdakwa, dirinya juga adalah seorang manusia yang ingin pulang ke anak-anak dan menegaskan komitmen untuk mengusahakan keadilan. New Policy yang ia luncurkan selama masa jabatannya tidak hanya menjadi bagian dari tindakan politik, tetapi juga merupakan upaya untuk memberikan perubahan positif bagi pendidikan nasional.

Pernyataan Emosional dan Penekanan pada Kebenaran

Dalam duplik yang dibacakan, Nadiem mengungkapkan bahwa ia tidak hanya terkejut dengan replik jaksa penuntut umum, tetapi juga terharu karena pengakuan terhadap peran dan usaha yang telah ia lakukan dalam menerapkan New Policy. “Saya ingin pulang ke anak-anak saya dengan membawa kebenaran,” katanya, sambil menegaskan bahwa tindakan-tindakan yang ia ambil semata-mata untuk mendukung visi New Policy yang mengutamakan kesejahteraan pendidikan masyarakat. Pernyataan ini menjadi penekanan kuat terhadap aspirasi pribadinya serta kontribusi publik yang ia lakukan.

Saya tidak memahami akar masalahnya. Yang bisa saya sampaikan dengan jujur adalah bahwa segala tindakan saya di sini hanya untuk menyuarakan kebenaran agar kembali pulang kepada anak-anak saya.

Pernyataan tersebut mencerminkan perasaan Nadiem yang terus-menerus terbebani oleh tuntutan hukum, tetapi tetap bersemangat dalam menyuarakan tujuan New Policy. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut adalah bentuk peningkatan kualitas pendidikan yang mendasar, dengan fokus pada akses perangkat digital dan peningkatan keahlian guru. Dalam wawancara dengan media, Nadiem juga menjelaskan bahwa New Policy bertujuan menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan masa depan anak-anak Indonesia.

Kritik terhadap Replik Jaksa dan Argumen Pidana

Nadiem menilai replik jaksa dalam kasus ini lebih bersifat kesimpulan awal yang sudah mengambil alih narasi kebenaran. Ia mengatakan bahwa argumen jaksa tidak sepenuhnya memahami konteks New Policy yang ia perkenalkan. “Replik mereka seperti mengabaikan usaha yang telah saya lakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan,” ujarnya. Menurut Nadiem, tuntutan jaksa yang menyebutkan kerugian negara mencapai Rp2,18 triliun tidak sepenuhnya menggambarkan efektivitas New Policy dalam jangka panjang.

Perkara ini juga menyeret tiga terdakwa lain, yaitu Ibrahim Arief, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih. Meski mereka disidangkan secara terpisah, Nadiem menegaskan bahwa New Policy adalah bagian dari strategi besar yang melibatkan semua pihak terkait. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi anak-anak, bukan hanya sekadar mengisi kebutuhan administratif.

Pelaksanaan New Policy dan Dampak pada Masyarakat

Penyusunan New Policy dimulai sejak Nadiem menjabat sebagai menteri, dengan tujuan mempercepat digitalisasi pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini mencakup pemberdayaan sekolah, penguatan manajemen perangkat, dan penerapan teknologi untuk mengoptimalkan pembelajaran. Namun, dalam proses implementasinya, Nadiem mengakui ada tantangan yang tidak terduga, seperti pengawasan yang ketat dan penggunaan anggaran yang terbatas. Meski begitu, ia yakin bahwa kebijakan ini memberikan dampak signifikan, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pendidikan berkualitas.

Sebagai bagian dari New Policy, Nadiem juga meluncurkan program pengadaan Chromebook yang diperkirakan bisa menjangkau lebih dari 5 juta siswa di seluruh Indonesia. Program ini menjadi salah satu dari banyak inisiatif yang ia lakukan untuk memperkuat ekosistem pendidikan digital. Dalam sebuah wawancara terpisah, Nadiem mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut bukan hanya sekadar alat untuk mencapai keadilan, tetapi juga bentuk komitmen terhadap masa depan anak-anak Indonesia. “New Policy adalah jembatan antara pendidikan tradisional dan pendidikan modern,” katanya.

Persidangan dan Penekanan pada Keberlanjutan Program

Sidang kasus ini tidak hanya menjadi ajang untuk menuntut hukuman kepada Nadiem, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meninjau ulang keberhasilan New Policy. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut tetap berjalan meskipun dirinya sedang menjalani proses hukum. “Meski saya menjadi terdakwa, New Policy tetap hidup dan berdampak bagi anak-anak,” ujarnya. Nadiem juga menyoroti pentingnya melibatkan berbagai pihak, termasuk pengelola pendidikan, dalam mengevaluasi kebijakan yang ia perkenalkan.

Dalam kesimpulannya, Nadiem berharap bahwa kasus ini tidak hanya menjadi cerminan dari kebijakan New Policy, tetapi juga mendorong reformasi sistem yang lebih transparan dan adil. Ia menekankan bahwa New Policy tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan sosial yang berkelanjutan, yaitu mengangkat kualitas pendidikan anak-anak Indonesia. “Saya ingin New Policy tetap menjadi contoh keberhasilan yang bisa diikuti oleh pihak lain,” katanya, menambahkan bahwa keadilan yang ia cari tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kebijakan yang ia bawa.

Gabung diskusi