New Policy: Kisah Hendro Saat Ditangkap Israel dan Disetrum
New Policy – Seiring peluncuran New Policy yang mendorong kebebasan perjalanan dan kebijakan pembebasan warga negara asing, kejadian penangkapan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh tentara Israel menjadi sorotan publik. Peristiwa ini terjadi di Bandara Soekarno Hatta, saat kapal yang membawa para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) dicegat dan diintersep. Salah satu korban penangkapan, Hendro Prasetyo, yang berusia 24 tahun, menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Palestina yang dijalani dengan penuh semangat, meski harus menghadapi penyiksaan dan ketegangan yang berat.
Keikutsertaan Hendro dalam Kebijakan Pembebasan
Hendro terlibat dalam misi GSF sebagai bagian dari upaya internasional untuk mendukung rakyat Palestina. Dengan adanya New Policy, ia berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan tanpa hambatan. Namun, situasi yang terjadi di laut dan di darat menunjukkan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya mewujudkan kebebasan penuh. Dalam perjalanan kapal, tentara Israel menggunakan berbagai cara untuk menghentikan misi, termasuk melepaskan bom dan mengawasi setiap langkah tim. Hendro menjadi satu dari sembilan WNI yang ditahan, menjalani pengalaman pahit yang terkenang hingga kini.
“Dengan New Policy, kita berharap dapat lebih mudah bergerak. Tapi yang terjadi justru kekacauan di laut. Ini menunjukkan bahwa kebijakan itu masih membutuhkan waktu untuk terwujud,” kata Hendro dengan suara bergetar.
Proses Penahanan dan Bentuk Penyiksaan
Selama ditahan, Hendro mengalami berbagai bentuk penyiksaan, seperti pemukulan, penonjokan, dan paling parah, disetrum. Setrum itu disebut sebagai cara yang paling menyakitkan, karena mengakibatkan rasa sakit yang tak terlupakan. Menurutnya, kecurigaan terhadap makanan yang diberikan membuatnya memilih mogok makan. Meski mendapat bantuan dari Turki, pengalaman ini menegaskan bahwa New Policy belum cukup melindungi para aktivis dari kesulitan di lapangan.
“Kami tidak bisa mengatakan apa-apa karena disetrum. Semua penyiksaan itu mengarah ke satu tujuan: menghancurkan semangat kami,” ungkap Hendro dalam wawancara eksklusif.
Peran Turki dalam Kepulangan WNI
Proses kepulangan sembilan WNI dari penahanan Israel berkat bantuan Pemerintah Turki, yang mengirimkan kapal untuk menjemput mereka dari Ashdod. Kehadiran Turki dalam New Policy menunjukkan keseriusan negara-negara lain untuk melindungi aktivis kemanusiaan. Hendro, sebagai salah satu WNI yang selamat, menyebut bahwa bantuan Turki mempercepat proses pemulangan, meski mengakui bahwa kondisi di dalam kapal masih memprihatinkan.
Dampak New Policy pada Misi Selanjutnya
Dengan New Policy, pemerintah Indonesia berharap mendorong partisipasi lebih besar dalam misi kemanusiaan ke Palestina. Namun, pengalaman Hendro menjadi peringatan bahwa kebijakan tersebut masih perlu disempurnakan. Menurutnya, situasi penahanan yang keras menunjukkan bahwa Israel belum sepenuhnya menerima kehadiran WNI dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina. “Ini adalah ujian bagi New Policy dan semangat kita untuk terus berjuang,” katanya.
Pemerintah Indonesia dan Tanggung Jawab Global
Menlu Indonesia, Sugiono, menyambut kembali WNI yang selamat dengan rasa syukur. Ia juga mengapresiasi kerja sama dari Turki, Mesir, dan Yordania dalam membantu proses kepulangan. Meski misi GSF kali ini belum berhasil mencapai Gaza, pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya mengoptimalkan New Policy dalam mendukung aktivis kemanusiaan. Hendro menegaskan bahwa kisah penangkapannya menjadi cerita yang tak terlupakan, dan semangat untuk memperjuangkan Palestina tetap hidup meski di ujian yang berat.
Refleksi dari Pengalaman Menyakitkan
Hendro Prasetyo menyatakan bahwa pengalaman di penjara menjadi pembelajaran berharga. Ia menilai bahwa New Policy harus lebih transparan dalam menjamin keamanan WNI. Meski makanan yang diberikan tidak selalu terkontaminasi, rasa takut terhadap bom dan penyiksaan masih membuatnya ragu. Setelah mengalami dehidrasi, Hendro akhirnya terpaksa memakan roti yang disiapkan oleh tentara Israel. Namun, ia tetap berharap bahwa New Policy akan mengubah kondisi seperti ini di masa depan.
