Pigai Sebut 80 Persen Isi Media Didominasi Berita Negatif
Latest Update – Jakarta, Liputan6.com – Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai kembali mengingatkan media massa agar tetap menjaga keseimbangan dalam menyampaikan kritik. Dalam sebuah wawancara terbaru, ia menyoroti bahwa berita negatif masih mendominasi sebagian besar isi media, baik di televisi, radio, maupun media digital. Menurut Pigai, fenomena ini telah menjadi kebiasaan yang terus berlanjut, meskipun memiliki dampak signifikan terhadap pola pikir publik.
Studi tentang Dominasi Berita Negatif
Pigai menyebutkan bahwa berbagai penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari konten yang dipublikasikan di media cenderung berupa berita negatif. Angka ini mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk lebih memperhatikan isu yang menimbulkan kejutan atau kekhawatiran, terlepas dari urgensi berita positif. “Media harus menjadi cermin masyarakat, bukan hanya menyajikan keluhan atau kegembiraan,” ujar Pigai dalam wawancara Latest Update terkini.
“Berdasarkan berbagai penelitian di berbagai negara, sekitar 80 persen isi media cenderung dominasi pemberitaan negatif,” tambah Pigai. “Selain itu, hampir lebih dari 50 persen media juga mengandalkan berita yang bersifat subjektif,” lanjutnya.
Dalam konteks ini, Pigai menekankan bahwa kecenderungan media mengutamakan berita negatif tidak selalu bisa disalahkan sepenuhnya. Ia mengakui bahwa media sering kali dikuasai oleh kelompok tertentu atau perusahaan besar yang mengutamakan kepentingan komersial. Namun, ia menegaskan bahwa kualitas jurnalisme tetap menjadi prioritas utama untuk memastikan informasi yang disampaikan tetap objektif dan berimbang.
Tantangan bagi Media dalam Memberikan Laporan yang Seimbang
Menurut Pigai, dominasi berita negatif menciptakan paradigma di mana kritik menjadi salah satu alat utama dalam menggerakkan perhatian masyarakat. “Kritik yang disampaikan harus tetap objektif serta konstruktif,” jelasnya. “Konten negatif mungkin menarik perhatian, tetapi jangan sampai mengatur pola berpikir publik secara keseluruhan,” pungkasnya dalam Latest Update terbaru.
“Media adalah alat penting dalam mengawasi perkembangan pembangunan dan memberikan masukan terhadap pemerintah. Kritik yang disampaikan harus tetap objektif serta konstruktif,” tambah Pigai.
Pigai juga menyebutkan bahwa psikologi manusia memainkan peran besar dalam kecenderungan ini. Ia menjelaskan bahwa otak manusia secara alami lebih memproses informasi negatif melalui bagian yang disebut amigdala, sehingga berita buruk cenderung lebih mudah diterima oleh masyarakat. Dalam Latest Update, ia menekankan pentingnya jurnalis meningkatkan kesadaran diri untuk tidak terjebak dalam memproses berita hanya melalui satu sel otak tersebut.
Menurut Pigai, dominasi berita negatif tidak hanya berdampak pada persepsi masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi kebijakan publik. “Kebiasaan ini menyebabkan masyarakat terbiasa mengakui berita negatif sebagai hal yang lebih penting dari berita positif,” pungkasnya dalam wawancara Latest Update terkini. Ia menginginkan media bisa mengembangkan pendekatan yang lebih luas, tidak hanya berbasis emosi atau perasaan.
“Saya berharap jurnalis bisa menghindari kebiasaan hanya memproses berita melalui satu sel otak bernama amigdala. Mereka perlu menggunakan pendekatan yang lebih luas,” tambahnya.
Dalam Latest Update, Pigai juga menyebutkan bahwa berita positif seringkali dianggap kurang menarik, meskipun memiliki manfaat besar dalam membangun kesadaran kolektif. Ia menyoroti bahwa kecenderungan media untuk menekankan berita negatif berdampak pada cara publik memahami isu-isu penting, terutama dalam konteks kebijakan sosial dan ekonomi. Pigai mengharapkan media bisa menjadi penyebab perubahan positif, bukan hanya sekadar menciptakan suasana gelap.
