Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan Kereta di Bekasi

wpmanadmin - beritaterbaik.com 4 mins read

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti rangkaian kendala komunikasi yang muncul sebelum kecelakaan antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA

KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan Kereta di Bekasi

Gangguan Komunikasi Jadi Sorotan dalam Investigasi Tabrakan Kereta di Bekasi

Beritaterbaik.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti rangkaian kendala komunikasi yang muncul sebelum kecelakaan antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di Jalur I Stasiun Bekasi Timur, Daop 1 Jakarta, pada 27 April 2026. Temuan investigasi memperlihatkan bahwa informasi mengenai gangguan di lintasan tidak diteruskan secara cepat, lengkap, dan seragam kepada pihak-pihak yang mengatur perjalanan kereta.

Perhatian utama tertuju pada insiden yang lebih dahulu melibatkan KA 5181B dengan sebuah taksi di JPL 86. Setelah kejadian tersebut, masinis KA 5181B menghubungi Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKP) Selatan menggunakan Radio Tait S.27. Akan tetapi, proses untuk memastikan kondisi kereta serta jalur yang terdampak berlangsung selama 3 menit 20 detik.

Dalam keadaan darurat di jalur kereta, kejelasan pesan memiliki arti penting. Petugas pengatur perjalanan perlu segera mengetahui lokasi kejadian, kondisi jalur, posisi kereta, serta risiko yang mungkin dihadapi kereta lain. Informasi yang belum utuh dapat membuat pengendalian perjalanan bergantung pada klarifikasi berulang, sementara situasi di lapangan terus berkembang.

Kualitas Audio Menyulitkan Penyampaian Pesan

KNKT mengidentifikasi kualitas suara radio KA 5181B sebagai salah satu faktor yang memperpanjang komunikasi awal. Keluaran audio dari kereta itu terdengar memiliki gema, bergetar atau bergelombang, dan volumenya relatif lebih rendah dibandingkan audio dari kereta lain. Akibatnya, PPKP Selatan beberapa kali meminta masinis mengulang penjelasan yang disampaikan.

“Tim Investigasi menemukan bahwa keluaran audio KA 5181B terdengar bergema (reverb), bergetar atau bergelombang (warbling) dan volume yang relatif kecil dibandingkan dengan keluaran audio dari KA lainnya,”

Masalah lain berkaitan dengan posisi penggunaan mikrofon radio. Rekaman CCTV di kabin menunjukkan masinis KA 5181B berupaya melepas mikrofon dari tempat dudukannya, namun upaya itu tidak berhasil. Masinis kemudian menyampaikan laporan sambil berdiri, dengan mikrofon tetap berada pada dudukannya.

Jarak antara sumber suara dan mikrofon saat komunikasi berlangsung lebih dari 5 sentimeter. Ketentuan dalam Operational Instruction Radio Tait TM9000 menetapkan bahwa jarak berbicara ke mikrofon seharusnya tidak melampaui 5 sentimeter. Jarak yang terlalu jauh dapat membuat volume suara turun dan mengurangi kejernihan pesan, terutama ketika petugas di sisi penerima memerlukan informasi segera.

Pesan Darurat Tidak Disampaikan Secara Lengkap

Selain persoalan perangkat dan audio, KNKT menemukan bahwa informasi awal dari masinis belum tersusun dengan jelas. Dalam rekaman komunikasi, masinis berulang kali menyebut KA 5181B “nemper mobil” dan “mobilnya nyangkut”. Namun, keterangan mengenai lokasi, situasi, serta kondisi yang dihadapi kereta belum disampaikan sejak awal.

“Masinis KA 5181B berulang kali menyampaikan bahwa KA5181B ‘nemper mobil’ dan ‘mobilnya nyangkut’ tanpa menyampaikan informasi lokasi, situasi, dan kondisi yang dihadapi oleh KA 5181B,”

Lokasi kecelakaan di JPL 86 baru tersampaikan 1 menit 11 detik setelah komunikasi pertama dengan PPKP Selatan. Rentang waktu itu membuat PPKP Selatan harus mengajukan pertanyaan tambahan agar memperoleh gambaran kejadian yang memadai. Dalam pengendalian perjalanan kereta, urutan informasi yang ringkas dapat membantu petugas menentukan langkah berikutnya dengan lebih cepat, termasuk memberi peringatan kepada perjalanan lain yang berada di area terkait.

KNKT menilai belum terdapat pengaturan yang memadai mengenai standar istilah komunikasi dan struktur penyampaian laporan darurat dari masinis kepada PPKP. Ketidakhadiran standar tersebut berpotensi memperpanjang penyampaian informasi serta respons pengendalian maupun pengoperasian ketika keadaan darurat terjadi.

“Investigasi menemukan prosedur yang ada saat ini tidak mengatur tentang standar penggunaan istilah (fraseologi) dalam komunikasi dan struktur penyampaian informasi keadaan darurat dari Masinis ke PPKP. Hal ini berpotensi menyebabkan bertambahnya durasi penyampaian informasi serta respon pengendalian dan pengoperasian saat kondisi darurat,”

Standar fraseologi yang pendek, tegas, dan dipahami bersama dipandang penting karena dapat menunjukkan tingkat kedaruratan tanpa menghilangkan informasi pokok. Bentuk komunikasi seperti itu juga dapat mengurangi kebutuhan pengulangan pesan ketika petugas harus mengambil keputusan dalam waktu terbatas.

Instruksi Pengurangan Kecepatan Dinilai Tidak Spesifik

Kendala komunikasi juga muncul antara PPKP Timur dan masinis KA 4B. Setelah menerima informasi tentang kecelakaan di JPL 86, PPKP Timur memerintahkan KA 4B untuk menurunkan kecepatan dengan ungkapan “direm-rem dikit”. KNKT menilai istilah itu tidak menjelaskan tingkat urgensi keadaan ataupun target kecepatan yang perlu dicapai.

Akibatnya, pengurangan kecepatan dilakukan atas penilaian subjektif masinis KA 4B. Pada saat yang sama, masinis belum memperoleh informasi lengkap mengenai kondisi di sekitar lokasi kejadian. Perintah operasional yang lebih terukur akan membantu menyamakan pemahaman antara pengatur perjalanan dan masinis, terutama ketika ada gangguan di lintasan yang dapat memengaruhi keselamatan perjalanan berikutnya.

Koordinasi Antar-Saluran Radio

KNKT turut mencatat persoalan pertukaran informasi antara PPKP Selatan dan PPKP Timur. PPKP Selatan mengendalikan saluran Radio KA Commuter Line untuk lintas Stasiun Manggarai hingga Stasiun Cikarang. Sementara itu, PPKP Timur menangani saluran Radio Lokomotif bagi kereta jarak jauh dan kereta barang pada wilayah yang sama.

PPKP Timur mengetahui adanya kecelakaan KA 5181B dengan taksi di JPL 86 setelah mendengar komunikasi antara PPKP Selatan dan masinis KA 5181B. Namun, PPKP Timur belum memperoleh gambaran yang akurat tentang situasi kejadian karena informasi lengkap belum diterima dari PPKP Selatan maupun Pengendali Operasi KA.

Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi keselamatan tidak hanya bergantung pada satu perangkat radio atau satu petugas. Keterhubungan antar-saluran, kejelasan istilah, serta urutan informasi darurat menjadi bagian penting dari pengendalian perjalanan kereta. Investigasi KNKT menempatkan aspek tersebut sebagai pelajaran penting dari peristiwa di Bekasi Timur pada 27 April 2026.

Frequently Asked Questions

What is KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan?

KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan matter?

KNKT Ungkap Komunikasi Kacau Sebelum Tabrakan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi