Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

wpmanadmin - beritaterbaik.com 5 mins read

Ijazah perguruan tinggi tidak selalu langsung membuka jalan menuju pekerjaan yang sesuai harapan. Di Jakarta, ketatnya perebutan lapangan kerja membuat

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

Sarjana Bertahan sebagai Pasukan Oranye di Tengah Persaingan Kerja

Beritaterbaik.com – Ijazah perguruan tinggi tidak selalu langsung membuka jalan menuju pekerjaan yang sesuai harapan. Di Jakarta, ketatnya perebutan lapangan kerja membuat sebagian lulusan diploma dan sarjana memilih pekerjaan yang memberi kepastian pendapatan, termasuk sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum atau PPSU.

Petugas PPSU, yang lekat dengan sebutan Pasukan Oranye, menjalankan pekerjaan lapangan untuk membantu menangani kebutuhan fasilitas dan lingkungan umum. Posisi ini kini juga menarik minat pelamar dengan tingkat pendidikan jauh di atas syarat minimalnya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyinggung keadaan tersebut saat Jakarta Contributors Award 2026 pada Kamis, 15 Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa ketentuan pendidikan untuk pendaftar Pasukan Oranye telah diturunkan dari SLTA menjadi lulusan sekolah dasar, tetapi pelamarnya tetap banyak berasal dari kalangan sarjana.

“Bahkan untuk Pasukan Oranye sebagai contoh, yang dulu syaratnya SLTA, saya sengaja turunkan syaratnya tinggal SD. Yang daftar adalah hampir 30 persen sarjana,” kata Pramono.

Angka itu memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dan jenis pekerjaan yang dipilih tidak selalu berjalan lurus. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan dan peluang kerja yang diperebutkan banyak orang, pekerjaan dengan upah tetap, lokasi yang terjangkau, serta perlindungan kerja dapat menjadi pilihan yang rasional.

Pekerjaan yang Sudah Ada Menjadi Pegangan

Adnan telah sembilan tahun bekerja sebagai petugas PPSU. Ia memiliki gelar sarjana, namun memilih tetap menjalani pekerjaan lapangan yang telah memberinya penghasilan selama bertahun-tahun. Bagi dia, keputusan itu berkaitan dengan realitas mencari kerja yang tidak mudah.

“Ya, kalau menurut saya buat sekarang ini ya, di masa sulit ini, worth it saja sih. Karena memang ya saya balik lagi kayak, susah nyari kerja, sekalinya dapat kerja belum tentu masuk, kalah sama ordal (orang dalam). Jadi ya, jalanin ya, bersyukur sih,” ungkap Adnan.

Ia tidak menutup keinginan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa depan. Namun, meninggalkan pekerjaan yang sudah pasti tanpa jaminan kesempatan baru juga memiliki risiko. Bagi pekerja yang mengandalkan pendapatan bulanan, masa tunggu mencari pekerjaan lain dapat menjadi persoalan besar.

Pengalaman Adnan juga menunjukkan bahwa lulusan pendidikan tinggi di PPSU bukan kasus tunggal. Di lingkungan kerjanya, ia mengenal rekan dengan pendidikan D3 dan S1. Dari total 86 orang di tempatnya bekerja, ia memperkirakan lebih dari lima orang memiliki latar pendidikan diploma atau sarjana.

“Karena enggak cuma saya doang yang sarjana, enggak cuma saya doang. Ada teman saya yang D3, S1, yang sudah tua D3, terus ada yang seumuran saya juga S1. Ada sekitaran mungkin bisa lima lebih sih dari total 86 orang,” jelasnya.

Upah, Jarak, dan Peluang Karier

Bagi banyak pelamar, pertimbangan utama tidak berhenti pada nama jabatan. Upah minimum provinsi, tempat kerja yang dekat dari rumah, serta biaya dan waktu perjalanan yang lebih ringan dapat menjadi nilai penting. Kedekatan lokasi juga memungkinkan pekerja tetap memiliki waktu bersama keluarga atau pulang saat jam istirahat.

Adnan melihat alasan-alasan praktis itu turut menjelaskan minat sarjana terhadap pekerjaan PPSU. Selain penghasilan, ada pula harapan mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK dan calon pegawai negeri sipil di kemudian hari.

“Kalau kalau saya tanya-tanya ke (sarjana) yang daftar sih ya, karena UMP-nya lumayan, terus juga dekat dari rumah. Terus juga mungkin dia ada kesempatan buat ngelamar nanti P3K itu atau CPNS, jaraknya juga enggak jauh, bisa pulang kalau misalkan makan. Ya, pokoknya intinya dia tuh enggak gengsi untuk sekarang ini,” ujarnya.

Pilihan tersebut menggambarkan perubahan cara sebagian pencari kerja memandang profesi. Prestise atau keselarasan sempurna antara jurusan kuliah dan jabatan tetap dapat menjadi cita-cita, tetapi kebutuhan akan pendapatan yang stabil sering kali menjadi pertimbangan yang lebih mendesak.

Dalam situasi seperti ini, pekerjaan yang sering dipandang sederhana justru dapat menawarkan hal-hal yang konkret: rutinitas kerja, pendapatan reguler, hak cuti, tunjangan hari raya, dan akses jaminan kesehatan. Faktor-faktor tersebut memiliki arti besar ketika mencari pekerjaan baru belum tentu menghasilkan kepastian.

Kuliah Sambil Bekerja

Adnan memulai pekerjaannya di PPSU ketika berusia 19 tahun, sesudah menyelesaikan sekolah menengah kejuruan. Ia kemudian menjalani kuliah sembari tetap bekerja hingga akhirnya meraih gelar sarjana. Setelah lulus, ia belum memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya.

Masa kerja yang panjang menjadi salah satu pertimbangannya. Ia juga menilai fasilitas yang tersedia di PPSU perlu diperhitungkan, termasuk cuti tahunan selama 12 hari, THR sebesar satu bulan gaji, dan BPJS.

“Ya, untuk ke depannya pengen sih lebih baik, mencari yang lebih baik pekerjaan, cuma ya, saya juga niat juga bertahan supaya apa? Supaya nantinya kalau misalkan ada info-info P3K lagi, saya bisa ngelamar atau CPNS. Apalagi saya juga sudah bekerja lama di sini. Kalau di tempat kayak swasta, belum tentu, Kak, dapat cuti 12 hari, terus dapat dapat THR 1 bulan gaji. Kalau di PPSU tuh dapat, 1 bulan gaji, terus dapat cuti 12 hari, BPJS juga,” kata dia.

Keputusan Adnan bertahan bukan berarti ia menyerah pada keadaan. Ia tetap menyimpan target untuk berkembang dan membuka peluang yang lebih baik. Namun, ia memilih menimbang langkah itu secara hati-hati karena pekerjaan yang ada saat ini telah memberinya penghasilan sekaligus perlindungan kerja yang jelas.

Fenomena sarjana yang melamar sebagai Pasukan Oranye menjadi gambaran bahwa pasar kerja tidak hanya berbicara tentang tingkat pendidikan. Bagi pencari kerja, pekerjaan yang layak juga berarti mampu menopang kehidupan sehari-hari, berada dalam jarak yang masuk akal, dan menyediakan hak-hak dasar bagi pekerja.

Frequently Asked Questions

What is Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye?

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye matter?

Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi