Tangis WNI Usai Ditahan Tentara Israel: Kami Diperlakukan Seperti Hewan
Peristiwa Penahanan di Tengah Laut
Important Visit – Misi kemanusiaan yang bertujuan mengirimkan bantuan ke wilayah Gaza justru dianggap sebagai wujud kekerasan oleh pasukan Israel. Tujuh belas warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla mengalami perlakuan kasar saat berada di tengah laut. Mereka mengangkut makanan, obat-obatan, serta kebutuhan lainnya sebelum akhirnya ditahan oleh tentara Israel. Dalam situasi tersebut, ratusan relawan dari berbagai negara menjadi korban tindakan kekerasan yang mencakup cedera serius dan perlakuan tidak manusiawi.
Pengakuan Herman Budiyanto
Seorang aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla, Herman Budiyanto, membeberkan pengalaman pahitnya selama ditahan oleh pasukan Israel. “Kami menyampaikan bahwa memang penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata. Sangat keji, sangat brutal,” ujar Herman kepada awak media di terminal kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026). Menurutnya, proses penahanan berlangsung hampir empat hari, mulai dari penculikan hingga perlakuan berulang.
“Kami harus berjalan dengan merangkak menggunakan lutut kami, dilarang menatap mereka. Tidur di lantai yang tidak ada selimut, dan bahkan terkena tembakan,” kata Herman.
Dalam perjalanan tersebut, Herman mengungkapkan bahwa banyak relawan mengalami luka berat, termasuk patah tulang rusuk, tangan, kaki, dan hidung. Ia juga melihat adanya tindakan pelecehan seksual terhadap relawan laki-laki maupun perempuan. “Perawatan kami selama penahanan dianggap tidak manusiawi,” lanjutnya. Herman menyebutkan, relawan dihargai sebagai “hewan” yang diatur gerakannya.
Perbandingan Penderitaan
Meski mengalami perlakuan yang mengerikan, Herman menilai penderitaan yang dialaminya dan relawan lain belum sebanding dengan pengalaman rakyat Palestina. “Saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan, yang tentu tidak layak merasa penting,” imbuh Herman sembari menangis. Ia menekankan bahwa rakyat Palestina menderita selama bertahun-tahun, sementara mereka hanya mengalami kejadian singkat.
Harapan untuk Pembebasan
Herman berharap tindakan kekerasan terhadap rakyat Palestina segera berakhir. Ia juga menyesalkan bahwa ratusan warga Palestina masih berada dalam tahanan. “Kami menunggu keadilan untuk mereka yang di Gaza,” ujarnya. Harapan tersebut dikuatkan oleh Duta Besar Palestina, Abdalfatah A.K. Alsattari, yang memberikan dukungan moril dan menegaskan bahwa perlakuan tidak manusiawi itu memicu kecaman internasional.
Flotilla Global Sumud, yang bertujuan mengirimkan bantuan ke Gaza, menarik perhatian global. Misi ini menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina untuk menikmati kemerdekaan dan keadilan. Namun, saat berlayar di tengah laut, anggota flotilla terjebak dalam skenario penuh tekanan. Pasukan Israel, yang dinamai IOF, diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap para relawan, termasuk WNI. Cerita yang diceritakan Herman menunjukkan bahwa penyiksaan bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
Persoalan ini menjadi perdebatan internasional. Beberapa negara mengkritik Israel atas perlakuan terhadap para relawan yang mencoba menyeberangi perairan laut. Sementara itu, ada pihak yang menyebut bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari upaya memutus alur bantuan ke wilayah terisolasi tersebut. Herman menegaskan bahwa penyiksaan yang dijalaninya bukan sekadar kejadian singkat, tetapi menjadi pengalaman yang mengguncang.
Respon dari Masyarakat Internasional
Selain mengungkapkan pengalaman pribadi, Herman juga mendorong dunia internasional untuk memberikan perhatian lebih. Ia menilai bahwa penyiksaan terhadap rakyat Palestina perlu dihentikan segera, dan para tahanan harus dibebaskan. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa setiap nyawa yang terkorban di Gaza menjadi sorotan media dan organisasi kemanusiaan.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana kekerasan bisa terjadi di tengah upaya meringankan penderitaan orang lain. Dengan menahan relawan yang berlayar membawa bantuan, Israel dianggap menghina tujuan kemanusiaan. Herman menyatakan bahwa keadilan harus ditegakkan, dan mereka yang terlibat dalam misi tersebut layak mendapatkan perlindungan. Dengan dukungan dari duta besar Palestina, ia yakin kebenaran akan terungkap.
Korban Kekerasan yang Beragam
Persoalan kekerasan tidak hanya menimpa WNI, tetapi juga melibatkan relawan dari negara lain. Herman menyebutkan bahwa ada korban yang menderita cedera parah, termasuk patah tulang dan perdarahan akibat tembakan. “Beberapa dari mereka tak bisa berdiri lagi setelah dihantam peluru,” ujarnya. Terlebih, kejadian tersebut bisa terjadi kapan saja, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Dengan kondisi seperti itu, Herman berharap bahwa pengalaman menyakitinya akan menjadi pembelajaran bagi pihak-pihak yang terlibat. “Kami ingin dunia tahu bahwa rakyat Gaza tak hanya menderita fisik, tetapi juga dalam rasa percaya diri mereka,” tambahnya. Tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan Israel ini bisa menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan sering kali dihadapkan dengan rintangan berat.
Permintaan untuk Pertanggungjawaban
Herman tidak hanya berharap pembebasan para tahanan, tetapi juga penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan. “Penyiksaan yang dilakukan tidak boleh dianggap
