Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Boneka Unta untuk Cucu dan Salam Terakhir di Nabawi

Joseph Lopez 2 mins read 7 views

Boneka Unta untuk Cucu dan Salam Terakhir di Nabawi Boneka Unta untuk Cucu dan Salam - Koper sudah dikirim, bus menunggu di depan hotel.

Boneka Unta untuk Cucu dan Salam Terakhir di Nabawi

Boneka Unta untuk Cucu dan Salam Terakhir di Nabawi

Boneka Unta untuk Cucu dan Salam – Koper sudah dikirim, bus menunggu di depan hotel. Para jemaah mulai meninggalkan tempat tinggal mereka di Madinah, membawa kenangan dan rindu yang tak terlupakan. Bukan hanya barang bawaan yang mereka kumpulkan, tapi juga momen berharga yang akan diceritakan kepada keluarga di kampung halaman. Di tengah keberangkatan gelombang kedua, suasana penuh haru terasa saat mereka meninggalkan Kota Nabi setelah menyelesaikan ibadah.

Kisah Sarida: Boneka Jumbo sebagai Kenang-Kenangan

Sarida, 60 tahun, dari Indramayu mencuri perhatian saat menyiapkan barang bawaan. Ia membawa tiga boneka unta besar, diikat dan dikalungkan sebagai hadiah untuk cucunya. Barang ini menjadi simbol perjalanan ibadah yang panjang, memberi kenangan unik tentang kunjungan ke Tanah Suci.

“Hari ini menjalankan salat dan beribadah kali terakhir di sini. Sedih rasanya cepat beribadah di Masjid Nabawi,” kata Ahmad Faisal, 49 tahun, dari Kloter KJT 21, Senin, 15 Juni 2026.

Ahmad Faisal: Menikmati Momen Terakhir

Ahmad Faisal, yang juga berasal dari Indramayu, memilih menghabiskan waktu terakhir di Madinah dengan beribadah di Masjid Nabawi. Baginya, pergi meninggalkan kota ini bukanlah hal mudah. Lokasi yang menjadi pusat ibadah selama beberapa hari harus ditinggalkan, meski ia tak sabar bertemu keluarga yang menunggu di Tanah Air.

“Sudah kangen dengan keluarga dan saudara di rumah,” ujarnya.

Sebelum berangkat, Ahmad bersyukur karena sempat berpamitan di Makam Baqi bersama rombongan. Ia berharap pengalaman ini menjadi bekal untuk kehidupan setelah kembali ke Indonesia.

Jalal: Pengalaman yang Lebih Nyaman

Jalal, jemaah Kloter KJT 21, berbagi cerita tentang pelayanan yang membuatnya merasa lebih tenang. Awalnya, ia cemas karena jauh dari rumah, tetapi kenyataannya berbeda. Makanan yang disajikan rasa-nya mirip dengan Indonesia, dan petugas yang responsif membantu kegiatan sehari-hari.

“Awalnya saya khawatir makanan di sini tidak cocok di lidah, ternyata rasanya sama seperti di rumah,” katanya.

Ia juga tak lupa menyebutkan bantuan petugas saat kehilangan sandal setelah salat. “Sepulang salat zuhur, saya bertemu petugas dan langsung diberi sandal jepit. Lantai di sini sangat panas, jadi bantuan itu sangat berarti,” tambah Jalal.

Ishak: Perubahan Pelayanan yang Signifikan

Ishak, yang sudah dua kali menunaikan ibadah haji, mengatakan pelayanan tahun ini jauh lebih baik dibandingkan 2012. Petugas yang tersedia di berbagai titik membantu jemaah lansia, termasuk menggendong mereka saat naik bus.

“Dulu pelayanan tidak seperti ini. Sekarang petugas ada di mana-mana untuk mengarahkan kita, bahkan mau naik bus saja koper dibawakan,” ujarnya.

Bagi Ishak, hal ini menunjukkan perbaikan signifikan yang membuat proses ibadah lebih lancar dan nyaman. Selama ini, para jemaah merasa lebih mudah menjalankan aktivitas karena dukungan petugas yang aktif.

Kini, para jemaah pulang bukan hanya membawa barang, tetapi juga cerita tentang pengalaman ibadah, keramahan petugas, dan rindu yang tertinggal di Madinah. Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6.

Gabung diskusi