Purbaya Bantah Tak Ikut Perintah Presiden: Bisa Disikat Saya
Topics Covered – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai dugaan bahwa ia bergerak tanpa arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti, Purbaya menegaskan bahwa semua kebijakan yang diambil merupakan hasil diskusi dan instruksi yang diberikan oleh Prabowo. Ia menekankan bahwa kebijakan pengalokasian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun ke sektor perbankan, yang bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi nasional, adalah bagian dari strategi yang dipandu langsung oleh Presiden.
“Kita lebih efisien mengelola uang untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Ini semua setelah diskusi dan petunjuk dari Bapak Presiden Prabowo,” ujar Purbaya, seperti yang dilaporkan dalam wawancara Retno Pinasti.
Koordinasi dengan Presiden Prabowo Terus Berlangsung
Purbaya juga menjelaskan bahwa hubungan kerja sama dengan Prabowo sangat intens. Ia menegaskan bahwa jika tidak mengikuti arahan Presiden, maka ia bisa langsung digantikan. “Kalau enggak mana bisa saya terus di sini? Menteri yang jalanin kebijakan sendiri disikat saya,” kata Purbaya. Hal ini menunjukkan komitmen Purbaya untuk tetap selaras dengan visi dan strategi kebijakan yang dijalankan oleh Kepala Negara.
Dalam konteks ini, Purbaya menjelaskan bahwa ia berperan sebagai eksekutor kebijakan, bukan sebagai pengambil keputusan independen. “Saya cuma tangan Presiden, dia suruh saya kerjakan,” jelasnya. Pernyataan ini menjawab isu yang sebelumnya menyebutkan bahwa ia dianggap tidak sejalan dengan arahan Prabowo. Menurut Purbaya, kebijakan yang diambil selalu berdasarkan instruksi dan arahan yang jelas dari Presiden.
Capaian Pertumbuhan Ekonomi dalam Delapan Bulan Menjabat
Purbaya dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025, dan hingga Mei 2026, ia telah menjabat selama delapan bulan. Dalam periode tersebut, ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan mencapai 5,39%, sementara kuartal I-2026 mencapai 5,61%. “Ekonomi udah mulai naik. Dulu kan kita mau jatuh, tapi triwulan keempat (2025) tumbuh di atas 5,39%, triwulan satu (2026) 5,61%,” ungkap Purbaya.
“Gak kerasa ya (bulan menjabat)? Tapi yang kerasa apa?,” kata Purbaya, seperti dilaporkan dalam wawancara sama. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski waktu jabatan terasa singkat, perubahan yang terjadi justru terasa lebih nyata bagi masyarakat.
Purbaya optimis bahwa kebijakan yang dijalankan akan terus menghasilkan pertumbuhan yang positif. “Kayaknya kalau kita lihat plot gambarnya, ke depan akan lebih cepat lagi,” sambungnya. Ia menilai bahwa kebijakan pengelolaan keuangan yang diterapkan selama delapan bulan terakhir telah membuka jalan bagi stabilisasi ekonomi dan peningkatan kinerja sektor-sektor vital.
Respons Purbaya terhadap Kritik dan Komentar
Purbaya juga menanggapi kritik terhadap kinerjanya, termasuk dugaan bahwa ia mungkin bergerak sendiri dalam beberapa kebijakan. Ia membantah klaim tersebut dengan tegas, menyatakan bahwa semua langkah strategis diambil setelah mendapat petunjuk dari Prabowo. “Orang suka bilang Purbaya jalan sendiri, tapi bukan, saya cuma tangan Presiden,” jelasnya. Pernyataan ini memperkuat konsistensi Purbaya dalam menjalankan peran sebagai eksekutor kebijakan pemerintah.
Konteks Kebijakan Ekonomi dalam Pemerintahan Prabowo
Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan keuangan yang dijalankannya selaras dengan visi pemerintahan Prabowo, yang ingin mempercepat pemulihan ekonomi pasca-krisis. Ia menekankan bahwa alokasi SAL ke perbankan adalah salah satu instrumen utama untuk menumbuhkan sektor keuangan dan memperkuat daya beli masyarakat. “Ini semua bagian dari strategi jangka pendek untuk stabilitas ekonomi,” ujarnya. Kebijakan tersebut juga diharapkan mendorong investasi dan menurunkan inflasi yang sempat mengancam dalam beberapa bulan pertama pemerintahan baru.