Pertumbuhan Ekonomi Maluku-Papua Masih Tertahan, Begini Langkah Purbaya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap faktor-faktor yang menghambat laju
Evaluasi Pertumbuhan Ekonomi Maluku-Papua: Langkah Purbaya untuk Akselerasi
Beritaterbaik.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap faktor-faktor yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Papua. Pada kuartal kedua tahun 2026, angka pertumbuhan tercatat sebesar 1,36 persen, yang dinilai masih belum optimal. Untuk merumuskan strategi percepatan, Menkeu berencana berdiskusi intensif dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas.
Menurut Purbaya, potensi sumber pertumbuhan di wilayah tersebut memang belum tersalurkan secara maksimal. Ia menyatakan akan melakukan konsultasi langsung dengan Menteri Bappenas guna memastikan akselerasi ekonomi di kedua provinsi berjalan lebih cepat. Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kementerian Keuangan pada hari Rabu, 5 Agustus 2026.
Perlambatan Bukan Fenomena Baru
Purbaya menilai bahwa perlambatan ekonomi di sebagian wilayah Maluku dan Papua bukanlah hal yang baru terjadi. Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan menuntut penanganan yang lebih komprehensif dari pemerintah. Ia menjelaskan bahwa masalah pertumbuhan lambat di kawasan tersebut sudah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.
Lebih lanjut, Menkeu menambahkan bahwa kinerja ekonomi di kawasan Maluku-Papua tidak seragam antarwilayah. Daerah-daerah yang memiliki aktivitas pertambangan, seperti Maluku Utara, dinilai memiliki potensi untuk mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang tidak memiliki basis ekonomi serupa. Purbaya yakin bahwa Maluku Utara yang memiliki tambang pasti akan tumbuh lebih kencang, sementara daerah lain mungkin akan lebih lambat.
Analisis BPS: Dampak Bencana Grasberg
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengidentifikasi penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Maluku dan Papua pada kuartal II/2026. Faktor tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya aktivitas ekonomi di Provinsi Papua Tengah, yang memiliki kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kawasan tersebut. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa Papua Tengah menyumbang 27,26 persen terhadap total PDRB Maluku dan Papua.
Namun, pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut mengalami kontraksi akibat pelemahan sektor pertambangan. Menurut Edy, penurunan kinerja pertambangan berkaitan dengan masih terganggunya operasional tambang PT Freeport Indonesia setelah bencana longsor dan aliran lumpur di area Grasberg Block Cave yang terjadi pada September 2025.
“Akibat longsor dan aliran lumpur yang terjadi di Provinsi Papua Tengah, yaitu di Grasberg Block Cave pada September 2025, sampai sekarang masih dilakukan perbaikan sehingga aktivitasnya belum pulih,” ujar Edy dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).
Edy menjelaskan bahwa proses pemulihan yang masih berlangsung membuat kinerja sektor pertambangan belum kembali ke tingkat yang sama seperti pada kuartal II/2025. Kondisi tersebut kemudian menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Papua pada kuartal II/2026.
Oleh karena itu, pemerintah akan mempelajari potensi ekonomi masing-masing daerah untuk mencari sumber pertumbuhan baru yang dapat dikembangkan. Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan belajar lebih dalam dan memastikan ada tempat-tempat yang bisa dihidupkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kedua wilayah tersebut.
Langkah Strategis Pemerintah
Untuk mengatasi tantangan yang dihadapi, pemerintah merancang berbagai inisiatif strategis. Salah satunya adalah penguatan infrastruktur konektivitas antarwilayah di Maluku dan Papua. Selain itu, insentif fiskal juga akan diberikan kepada sektor-sektor potensial untuk menarik investasi lebih besar. Purbaya menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci keberhasilan program percepatan ekonomi ini.
Dalam jangka panjang, pemerintah juga berencana mengembangkan sektor pariwisata dan perikanan sebagai alternatif sumber pendapatan masyarakat. Kedua sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan mengingat kekayaan alam yang melimpah di kawasan tersebut. Dengan pendekatan holistik, diharapkan Pertumbuhan Ekonomi Maluku Papua Masih dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
FAQ: Pertumbuhan Ekonomi Maluku Papua
Apa penyebab utama perlambatan ekonomi di Maluku dan Papua? Penyebab utamanya adalah pelemahan sektor pertambangan di Papua Tengah akibat bencana longsor dan aliran lumpur di Grasberg Block Cave pada September 2025.
Berapa persen kontribusi Papua Tengah terhadap PDRB Maluku dan Papua? Papua Tengah menyumbang 27,26 persen terhadap total PDRB Maluku dan Papua.
Apa langkah pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi? Pemerintah akan melakukan konsultasi intensif dengan Bappenas, memperkuat infrastruktur, memberikan insentif fiskal, dan mengembangkan sektor pariwisata serta perikanan.
Kapan data pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 dirilis? Data tersebut dirilis pada Rabu, 5 Agustus 2026, dengan angka pertumbuhan sebesar 1,36 persen.
Apakah Maluku Utara memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi? Ya, Maluku Utara dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi karena aktivitas pertambangan yang aktif di wilayah tersebut.
