Harga Minyak Anjlok Setelah Komentar Trump Soal Negosiasi Iran
New Policy – Kebijakan baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia. Pada Minggu, 24 Mei 2026, harga minyak berjangka turun hampir 4% di waktu setempat, terutama terkait dengan kekhawatiran pasar terhadap proses negosiasi antara AS dan Iran di Selat Hormuz. Kebijakan ini menggambarkan upaya AS untuk mencari solusi yang lebih stabil, meski Trump menyatakan bahwa kesepakatan tidak akan terburu-buru dicapai.
Detail New Policy Trump
Presiden Trump dalam pernyataannya menegaskan bahwa kebijakan baru ini bertujuan untuk memperkuat posisi AS dalam pembicaraan dengan Iran, dengan fokus pada pengendalian jalur perdagangan minyak. Ia mengatakan bahwa negosiasi “berjalan dengan tertib dan konstruktif,” tetapi memperingatkan bahwa waktu masih berpihak kepada pihak AS untuk mencapai kesepakatan yang memadai. Dalam konteks ini, New Policy dianggap sebagai strategi untuk menyeimbangkan tekanan politik dan ekonomi terhadap kebijakan sanksi yang diterapkan sebelumnya.
Kebijakan ini juga mencakup pengaturan sementara terhadap blokade yang dilakukan AS terhadap pelabuhan dan kapal Iran, hingga konflik yang diakibatkan oleh pengendapan jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat diselesaikan. Meski penurunan harga minyak terjadi, koreksi ini tidak menutup kemungkinan untuk pemulihan jika negosiasi menghasilkan hasil yang memuaskan. Kebijakan baru ini diharapkan menjadi titik balik dalam perang dagang minyak antara AS dan Iran.
Koreksi Harga Minyak Setelah New Policy
Menurut laporan Yahoo Finance, Senin (25/5/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka mengalami penurunan sekitar 5% ke USD 91,65 per barel pada pukul 19.13 waktu ET. Sementara itu, harga minyak Brent berjangka juga turun 5% menjadi USD 98,30 per barel. Perubahan ini terjadi karena pasar mengantisipasi bahwa New Policy akan mengurangi ketegangan yang sebelumnya memicu kenaikan harga lebih dari 30% sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Blokade Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret 2026 telah menyebabkan gangguan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah, yang memperburuk ketidakpastian pasar. Dengan adanya New Policy, AS berusaha menciptakan kondisi yang lebih proporsional bagi kedua belah pihak, sehingga memungkinkan negosiasi yang lebih produktif. Namun, kekhawatiran terhadap kemungkinan Iran menolak kesepakatan atau memperpanjang blokade tetap memengaruhi harga minyak secara negatif.
“Negosiasi berjalan dengan tertib dan konstruktif, dan saya telah memberi tahu perwakilan saya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan karena waktu masih berpihak kepada kita,” kata Trump.
Kebijakan baru ini juga mengubah persepsi investor terhadap persaingan pasar minyak. Analisis dari CNBC menunjukkan bahwa meski harga minyak Brent naik 96 sen ke USD 103,54 per barel, tren mingguan tetap menunjukkan penurunan yang signifikan. Sementara itu, harga minyak WTI AS menguat 25 sen ke USD 96,60 per barel, tetapi tetap terpengaruh oleh New Policy yang menekankan kehati-hatian dalam mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyoroti bahwa ada tanda-tanda optimisme dalam perundingan, meski ia juga memperingatkan bahwa keberhasilan New Policy bergantung pada komitmen Iran untuk tidak memperkuat dominasi terhadap jalur pelayaran. “Terlihat ada tanda-tanda yang baik bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik mulai terlihat,” tambah Rubio, meski menekankan bahwa kebijakan baru ini harus diimbangi dengan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi risiko krisis global.
Dengan New Policy sebagai faktor utama, pasar minyak tetap mencari kejelasan mengenai masa depan negosiasi antara AS dan Iran. Kenaikan harga minyak sebelumnya terpuruk akibat blokade Selat Hormuz, tetapi koreksi akhir pekan lalu menunjukkan bahwa kebijakan baru ini memiliki dampak yang seimbang. Investor akan terus memantau perkembangan negosiasi, dengan harapan kebijakan tersebut mampu menstabilkan harga dan menghindari fluktuasi berlebihan di masa depan.
