Harga Pangan Hari Ini 12 Mei 2026: Cabai Masih Mahal
Meeting Results – Dalam Meeting Results terbaru yang dilakukan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, yang dikelola oleh Bank Indonesia, diungkapkan kenaikan harga beberapa komoditas pangan pada Selasa, 12 Mei 2026. Dari data yang diperoleh, cabai rawit merah menjadi salah satu bahan pokok yang paling mahal, dengan harga tercatat Rp67.650 per kilogram. Sementara telur ayam ras tetap dijual seharga Rp31.000 per kg, menurut laporan Antara.
Komoditas Pangan yang Alami Kenaikan
Menurut data PIHPS, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan. Bawang merah dijual Rp47.000 per kg, sedangkan bawang putih mencapai Rp39.000 per kg. Untuk beras, harga bervariasi tergantung kualitas, yaitu beras kualitas bawah Rp14.550, beras medium I Rp16.150, dan beras medium II Rp16.000 per kg. Beras super I dan II masing-masing dihargai Rp17.400 dan Rp16.900 per kg.
Selain itu, beberapa komoditas seperti cabai merah besar, cabai keriting, serta cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan signifikan. Harga cabai merah besar mencapai Rp54.100 per kg, cabai keriting Rp51.850, dan cabai rawit hijau Rp50.550 per kg. Daging ayam ras segar dijual Rp38.700 per kg, sedangkan daging sapi kualitas I dan II masing-masing mencapai Rp147.800 dan Rp139.250 per kg. Gula pasir premium dan lokal tercatat Rp20.200 serta Rp19.200 per kg. Minyak goreng curah dan kemasan bermerek I serta II masing-masing dihargai Rp20.550, Rp23.850, dan Rp23.000 per liter.
Meeting Results ini juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga cabai merah telah memengaruhi daya beli masyarakat. Bahan pokok yang sering digunakan dalam masakan sehari-hari ini terus mengalami fluktuasi yang mengakibatkan tekanan pada anggaran belanja kebutuhan pokok. Pemerintah mencatat bahwa 242 daerah melaporkan kenaikan harga cabai merah pada minggu pertama Mei 2026. Dalam diskusi, para peserta meeting menyepakati perlunya intensifikasi distribusi ke daerah-daerah yang masih mengalami kenaikan harga.
Langkah Pemerintah untuk Stabilisasi Harga
Menurut pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, dalam Meeting Results yang dilaksanakan di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Jakarta, Senin (11/5/2026), pemerintah daerah diminta meningkatkan penyaluran bahan pokok. “Tolong Ibu [Perum Bulog] datakan daerah-daerah yang masih tinggi, minta dihubungi untuk Bulognya supaya penyalurannya ditingkatkan,” ujarnya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi.
Tomsi menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi harga harus menjadi prioritas dalam Meeting Results tersebut. Dalam data yang diberikan, stok beras nasional mencapai 5,19 juta ton, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah. Namun, kenaikan harga beras di beberapa daerah tetap menjadi perhatian utama, terutama karena dampaknya pada kebutuhan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Ia juga meminta Perum Bulog memastikan distribusi beras ke daerah-daerah yang kurang stabil secara harga.
Dalam Meeting Results, pihak berwenang juga membahas kelanjutan program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk meningkatkan produksi cabai merah. Namun, masih ada daerah yang belum memperhatikan kerja sama dalam program tersebut. Sejumlah wilayah juga menolak alokasi kawasan pertanian untuk peningkatan produksi cabai, yang dikhawatirkan memperburuk kenaikan harga di tingkat konsumen. Tomsi menyebutkan bahwa kenaikan harga cabai merah berdampak langsung pada kenaikan inflasi nasional, sehingga perlu diatasi secara cepat.
Analisis Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Dalam Meeting Results, para pembuat kebijakan juga menggali penyebab kenaikan harga cabai. Beberapa faktor yang menjadi sorotan meliputi permintaan yang meningkat karena bulan puasa dan lebaran yang mendekat, serta persaingan antarprodusen di pasar internasional. Selain itu, cuaca buruk di beberapa daerah penghasil cabai dikabarkan mengurangi pasokan, sehingga harga naik. Data menunjukkan bahwa produksi cabai merah mengalami penurunan sebesar 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perum Bulog dianggap sebagai salah satu pelaku kritis dalam Meeting Results untuk mempercepat distribusi bahan pokok. Tomsi Tohir menyatakan bahwa penggunaan kapasitas gudang dan logistik perlu dioptimalkan agar tidak ada wilayah yang mengalami kelangkaan. Dalam konteks ini, peningkatan pasokan cabai dan beras akan menjadi kunci untuk menurunkan harga di tingkat pedagang eceran. Meeting Results juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pusat dan daerah untuk menghindari fluktuasi harga yang tidak terkendali.
