Harga Pangan Hari Ini 9 Mei 2026: Cabai Rawit Merah Naik, Telur Rp 31.150 per Kg
Latest Program – Harga sejumlah bahan pokok di pasar Jakarta melonjak pada Sabtu, 9 Mei 2026, berdasarkan laporan terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dirilis Bank Indonesia. Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan signifikan adalah cabai rawit merah, yang kini mencapai Rp 65.350 per kg dari sebelumnya Rp 52.850 per kg. Selain itu, harga telur hari ini mencapai Rp 31.150 per kg, menjadi salah satu indikator inflasi yang patut diperhatikan dalam rangkaian program Latest Program.
Update Harga Pangan Utama
Dalam program Latest Program terkini, harga cabai merah besar dan cabai merah keriting tetap stabil dengan perbedaan kecil, yaitu masing-masing Rp 52.400 dan Rp 50.300 per kg. Cabai rawit hijau dijual seharga Rp 49.400 per kg, sedangkan bawang putih berada di Rp 39.150 per kg. Komoditas lain seperti beras juga menunjukkan pergerakan, dengan beras kualitas medium I dan II masing-masing mencapai Rp 16.100 dan Rp 15.950 per kg, sedangkan beras super I dan II masing-masing Rp 17.350 dan Rp 16.900 per kg. Di sektor daging, harga ayam ras segar tercatat Rp 39.100 per kg, sementara daging sapi kualitas I dan II masing-masing Rp 147.800 dan Rp 139.250 per kg.
Kenaikan harga cabai rawit merah dan telur menjadi sorotan dalam program Latest Program ini, mengingat cabai rawit merah sering kali menjadi komoditas yang paling rentan terhadap fluktuasi pasar. Selain itu, harga telur yang naik secara signifikan menunjukkan tekanan dari kenaikan biaya produksi dan permintaan yang tinggi. Faktor-faktor seperti ketersediaan pasokan dan harga bahan baku menjadi penentu utama dari perubahan ini, seperti yang dijelaskan dalam program Latest Program.
Perubahan Harga Pangan Lainnya
Harga gula pasir premium dan lokal juga mengalami peningkatan, masing-masing dijual seharga Rp 20.200 dan Rp 19.200 per kg. Minyak goreng curah terdaftar Rp 20.650 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan merek I dan II masing-masing Rp 23.800 dan Rp 23.000 per liter. Perubahan harga ini mencerminkan dampak dari kenaikan harga minyak dunia dan gejolak pasokan global, yang menjadi topik utama dalam program Latest Program.
“Dalam program Latest Program, terlihat bahwa harga-harga bahan pokok mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ini tentu memberi tekanan pada daya beli masyarakat, terutama untuk kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah,”
kata Ibrahim Assu’aibi, ekonom yang memberikan analisis dalam program Latest Program. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dan ketergantungan Indonesia terhadap impor menjadi faktor utama yang memperparah inflasi. “Dengan harga minyak yang naik, bahan baku seperti bahan bakar untuk pengolahan pangan menjadi lebih mahal, sehingga mendorong kenaikan harga jual akhir,” ujarnya.
Analisis Dampak Inflasi
Kenaikan harga pangan yang terjadi dalam program Latest Program ini memperlihatkan kecenderungan inflasi yang semakin menguat. Konflik di Selat Hormuz, misalnya, menjadi salah satu pemicu utama, karena memengaruhi pasokan minyak mentah dunia. Akibatnya, biaya produksi dan distribusi bahan pokok meningkat, yang selanjutnya dirasakan oleh konsumen di berbagai lapisan masyarakat.
Dalam program Latest Program, para ahli memproyeksikan bahwa kenaikan harga bahan pokok akan terus berlanjut jika kondisi global tidak stabil. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam mengatur impor dan subsidi juga menjadi faktor yang menentukan. “Dengan program Latest Program, kita bisa mengidentifikasi pola pergerakan harga pangan dan segera merespons untuk menjaga keseimbangan,” kata salah satu ahli ekonomi.
Kenaikan harga telur dan cabai rawit merah menunjukkan bahwa pasar pangan dalam negeri sedang mengalami tekanan. Dalam program Latest Program, Bank Indonesia menegaskan bahwa mereka terus memantau