Tren Cicilan Emas Terus Meningkat, Pembiayaan Syariah Semakin Menarik Minat
Key Strategy – Di tengah dinamika pasar keuangan yang terus berubah, tren pembiayaan emas melalui sistem cicilan kini menjadi salah satu strategi utama yang digencarkan oleh berbagai institusi keuangan syariah. Data dari PT Bank Mega Syariah menunjukkan bahwa hingga April 2026, total portofolio pembiayaan konsumer mencapai lebih dari Rp586 miliar, naik lebih dari 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap metode pembiayaan yang lebih fleksibel, terutama dalam memenuhi kebutuhan keuangan seperti pembelian emas secara bertahap.
Perubahan Pola Penggunaan Pembiayaan
Benadicto Alvonzo Ferary, Kepala Divisi Digital Business & Product Management Bank Mega Syariah, menjelaskan bahwa pembiayaan konsumer kini tidak hanya menjadi pilihan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkembang sebagai alat perencanaan keuangan jangka panjang. “Key Strategy kami mencakup pengembangan skema pembiayaan emas yang menarik minat masyarakat, terutama mereka yang ingin memiliki aset berharga tanpa harus mengeluarkan dana besar sekaligus,” katanya, dikutip dari Antara, Jumat (22/5/2026).
“Key Strategy kami mencakup pengembangan skema pembiayaan emas yang menarik minat masyarakat, terutama mereka yang ingin memiliki aset berharga tanpa harus mengeluarkan dana besar sekaligus,” kata Benadicto.
Pembiayaan emas melalui cicilan syariah menjadi pilihan yang populer karena memenuhi kebutuhan investor pemula serta menawarkan keuntungan berupa pengembalian modal secara bertahap. Berdasarkan laporan internal bank, produk ini terus diminati, terutama di kalangan generasi muda yang memperhatikan prinsip keuangan syariah. Dengan Key Strategy ini, Bank Mega Syariah berupaya memperluas basis pelanggan yang mencari solusi keuangan inklusif.
Peluang dan Tantangan Pembiayaan Emas
Menurut Benadicto, kepopuleran pembiayaan emas melalui skema cicilan syariah juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendorong transaksi keuangan berbasis syariah. “Key Strategy kami berfokus pada integrasi produk pembiayaan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pengadaan emas untuk investasi atau tabungan jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, ada tantangan dalam menjaga kualitas pembiayaan. Meski rasio non-performing financing (NPF) di Bank Mega Syariah tetap pada 0 persen, risiko kredit yang terkait dengan pembiayaan emas tetap menjadi perhatian. “Key Strategy kami melibatkan penguasaan riset pasar dan pengendalian risiko agar pembiayaan tetap aman,” jelasnya.
Pembiayaan emas syariah juga memberi peluang bagi masyarakat yang ingin memperoleh keuntungan investasi tanpa memerlukan modal awal besar. Metode ini menggabungkan keuntungan dari pertumbuhan aset berharga dengan prinsip keuangan syariah yang transparan dan tidak bungsu. Dengan Key Strategy ini, Bank Mega Syariah menargetkan peningkatan akses layanan ke berbagai daerah, termasuk wilayah dengan tingkat literasi keuangan yang masih rendah.
Peluang Pembiayaan di Wilayah Strategis
Area 1, yang mencakup Jakarta dan sekitarnya, tetap menjadi kontributor utama pembiayaan konsumer. Hingga April 2026, nilai pembiayaan di wilayah ini mencapai Rp202,7 miliar, dengan kontribusi signifikan dari pembiayaan emas yang outstandingnya mencapai lebih dari Rp31 miliar. Pertumbuhan ini mencapai lebih dari 1.236 persen secara tahun kalender, menunjukkan bahwa Key Strategy dalam menjangkau pasar urban berjalan efektif.
Di samping itu, Bank Mega Syariah juga fokus pada peningkatan pembiayaan emas di wilayah lain seperti Bandung, Surabaya, dan Medan. “Key Strategy kami mencakup penguatan jaringan distribusi dan peningkatan kemitraan dengan platform digital,” kata Benadicto. Hal ini bertujuan untuk memastikan kesetaraan akses pembiayaan emas di berbagai kota besar, sehingga masyarakat tidak hanya terbatas pada wilayah metropolitan.
Kinerja Keuangan dan Strategi Pemasaran
Sebagai dampak dari Key Strategy dalam memperluas penawaran pembiayaan, Bank Mega Syariah mencatatkan peningkatan pendapatan yang signifikan. Pada April 2026, pendapatan dari segmen konsumer mencapai Rp5,4 miliar, naik 12,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, pendapatan bagi hasil meningkat sekitar 4,7 persen, mencapai lebih dari Rp114,73 miliar.
Dalam periode yang sama, pendapatan dari piutang mencapai lebih dari Rp118 miliar, tumbuh 40,9 persen. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai lebih dari Rp9,26 triliun, naik 7,2 persen dari akhir tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak juga mencapai lebih dari Rp79,97 miliar, meningkat lebih dari 51 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa Key Strategy dalam mengembangkan produk pembiayaan emas tidak hanya meningkatkan volume transaksi, tetapi juga mendorong kinerja keuangan yang lebih baik.
Potensi Pembiayaan Emas di Masa Depan
Pembiayaan emas melalui skema cicilan syariah diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Kebutuhan masyarakat akan aset berharga yang bisa diakses secara bertahap memperkuat Key Strategy dalam pengembangan produk keuangan ini. “Kami yakin tren ini akan terus bertahan karena menawarkan kombinasi antara fleksibilitas dan kepastian keuntungan,” ujarnya.
Benadicto menambahkan bahwa Bank Mega Syariah juga sedang menyusun strategi pemasaran yang lebih agresif untuk memperkuat posisi di pasar pembiayaan emas. Ini melibatkan kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk platform digital dan perusahaan emas lokal, agar layanan bisa diakses lebih mudah oleh calon pelanggan. Dengan Key Strategy ini, bank berharap mampu mengubah pola penggunaan pembiayaan konsumer menjadi lebih berkualitas dan berkelanjutan.
