Dony Oskaria: Penyehatan BUMN Lebih Efektif Berkat Implementasi Model Danantara
Key Strategy – Dalam upaya meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Key Strategy menjadi salah satu strategi utama yang diterapkan melalui penggunaan model baru yang diperkenalkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Keberadaan lembaga ini memungkinkan proses penyehatan BUMN berlangsung lebih terpadu, sistematis, dan berbasis kebijakan yang konsisten. Sebagai COO Danantara, Dony Oskaria menekankan bahwa pendirian lembaga ini merupakan bentuk revitalisasi struktur organisasi sektor publik yang bertujuan mempercepat transformasi dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan perusahaan pelat merah.
“Model Danantara di Indonesia memiliki keunikan karena didirikan berdasarkan basis perusahaan milik negara, sehingga memudahkan konsolidasi antar-BUMN secara terintegrasi,” jelas Dony dalam acara Jogja Financial Festival 2026, dikutip Minggu (24/5/2026).
Pendekatan Key Strategy ini mengubah paradigma pengelolaan BUMN dari model yang terpisah menjadi sistem yang lebih terstruktur. Sebelumnya, banyak BUMN beroperasi mandiri, dengan peran Kementerian BUMN hanya sebagai pengawas, sementara kepemilikan langsung berada di tangan para pelaku usaha. Dengan adanya Danantara, arah Key Strategy semakin jelas, karena lembaga ini bertindak sebagai holding company yang mengatur jalannya operasional BUMN secara menyeluruh.
Struktur Penyehatan BUMN Berdasarkan Model Danantara
Dony Oskaria menjelaskan bahwa Key Strategy dalam penyehatan BUMN dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi redundansi. Model ini memungkinkan pengelolaan investasi dan kinerja BUMN lebih terarah, karena seluruh entitas di bawah Danantara memiliki kebijakan dan tujuan yang selaras. Penerapan Key Strategy juga memperkuat mekanisme penegakan kewajiban, terutama dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas perusahaan pelat merah.
“Dengan menyatukan BUMN-BUMN ke dalam holding company, proses perbaikan menjadi lebih cepat dan terarah. Key Strategy ini memastikan semua perusahaan terlibat dalam sistem yang berkelanjutan,” tambah Dony.
Pendekatan Key Strategy juga melibatkan perubahan struktur kelembagaan, sehingga Kementerian BUMN bisa lebih aktif dalam pengawasan. Dony mengingatkan bahwa sebelumnya, banyak BUMN yang bekerja secara terpisah, sehingga kurang optimal dalam pemanfaatan kemampuan dan potensi. Kini, dengan Key Strategy yang diterapkan, seluruh BUMN dikelola dalam satu kerangka, sehingga dapat saling mendukung dalam mencapai tujuan strategis nasional.
Dalam upaya mengimplementasikan Key Strategy, Danantara menargetkan penyederhanaan jumlah entitas perusahaan milik negara hingga tersisa sekitar 250. Perusahaan yang tidak masuk dalam kategori bisnis inti atau sektor strategis akan mengalami evaluasi lebih lanjut, terutama untuk memastikan konsistensi dengan kebijakan nasional. Proses penyehatan ini dirancang untuk meningkatkan daya saing dan memastikan BUMN bisa beroperasi secara efektif di tengah dinamika ekonomi yang semakin cepat.
“Key Strategy yang diterapkan melalui Danantara tidak hanya mempercepat penyehatan BUMN, tetapi juga membuka ruang untuk inovasi dan kolaborasi antar-perusahaan,” kata Dony.
Dony Oskaria menyoroti bahwa keberhasilan Key Strategy bergantung pada keterlibatan aktif seluruh stakeholder, termasuk pelaku bisnis, pemerintah, dan masyarakat. Model ini diharapkan dapat menjadi contoh keberhasilan dalam penerapan pendekatan manajemen yang lebih modern. Dengan struktur baru, perusahaan-perusahaan pelat merah diharapkan bisa menjadi penggerak utama dalam pengembangan ekonomi nasional, sekaligus menjawab tantangan yang dihadapi dalam era globalisasi.
