Key Issue: Penjualan Properti Merosot 25,67%, Survei BI Ungkap Penyebabnya
Key Issue terkini menyoroti penurunan signifikan dalam penjualan properti residensial di Indonesia, khususnya pada triwulan I 2026. Data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tipe rumah residensial mengalami kontraksi hingga 25,67% (yoy), menggantikan pertumbuhan positif 7,83% (yoy) pada triwulan IV 2025. Kontraksi ini mencerminkan tantangan yang terus berlanjut di sektor properti, terutama di pasar primer yang menjadi pilar utama dalam pembangunan perumahan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan penjualan rumah tipe kecil menjadi faktor utama yang mendorong Key Issue ini. Angka penurunan hingga 45,59% (yoy) menunjukkan adanya ketidakstabilan permintaan, kemungkinan karena tingginya biaya akuisisi properti yang semakin melambat. Di sisi lain, penjualan rumah tipe menengah mengalami peningkatan 8,28% (yoy), sedangkan rumah tipe besar mengalami kontraksi 20,38% (qtq), setelah naik 31,97% (qtq) di triwulan sebelumnya.
Tantangan Penjualan Properti Residensial
Analisis Key Issue menyoroti bahwa sektor properti residensial primer masih menghadapi berbagai hambatan yang memengaruhi minat pembeli. Berdasarkan survei yang dilakukan BI, faktor utama yang menjadi penyebab penurunan penjualan meliputi kenaikan harga bahan bangunan (20,97%), peningkatan masalah perizinan dan birokrasi (18,15%), tingginya suku bunga KPR (16,47%), serta persentase uang muka yang relatif besar dalam pengajuan pembiayaan (12,16%). Selain itu, beban perpajakan yang meningkat (11,28%) juga turut memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Suku bunga KPR tetap stabil di tingkat 7,42%, sama seperti pada triwulan IV 2025. Namun, pertumbuhan nilai KPR pada triwulan I 2026 mengalami perlambatan menjadi 4,79% (yoy), dibandingkan kenaikan 7,05% (yoy) di triwulan sebelumnya. Secara triwulanan, nilai KPR hanya tumbuh 0,37% (qtq), yang jauh lebih rendah dari 1,72% (qtq) triwulan IV 2025. Key Issue ini menunjukkan bahwa pergerakan suku bunga, meski stabil, belum cukup untuk menyeimbangkan tekanan dari faktor lain yang memengaruhi harga properti.
Pembiayaan Properti Residensial Triwulan I-2026
Dalam Key Issue terkini, sumber pembiayaan utama pengembang properti residensial di triwulan I 2026 berasal dari dana internal perusahaan, yang mencapai 80,66% dari total kebutuhan finansial. Sumber pendanaan lainnya meliputi pinjaman perbankan (13,74%) dan pembayaran konsumen (5,60%). Pembiayaan internal tetap menjadi pilar utama karena tingginya ketergantungan pada ekonomi domestik dan ketersediaan dana internal.
Dari perspektif konsumen, sebagian besar pembelian rumah primer masih dilakukan melalui KPR, yang mencapai pangsa 69,87% dari total skema pembelian. Sementara itu, pembelian tunai bertahap sebesar 19,61% dan tunai masing-masing 10,53% menunjukkan bahwa konsumen masih mempertimbangkan opsi pembelian langsung, meski terbatas oleh akses kredit yang dinilai masih kurang optimal. Key Issue ini memperlihatkan bahwa faktor keuangan dan ketersediaan dana menjadi penghalang utama dalam mempercepat pertumbuhan sektor properti.
“Pertumbuhan nilai KPR pada triwulan I 2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, meski suku bunga tetap stabil. Key Issue ini perlu diperhatikan karena dampaknya bisa berlanjut ke triwulan berikutnya jika faktor-faktor penyebabnya tidak segera diperbaiki,” ujar Ramdan Denny Prakoso.
Secara umum, kondisi pasar properti residensial pada triwulan I 2026 menunjukkan penurunan sebesar 7,69% (qtq), dibandingkan pertumbuhan 2,01% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Key Issue ini tidak hanya memengaruhi volume penjualan, tetapi juga mempercepat pergeseran pola investasi ke sektor lain yang dianggap lebih stabil. Meski demikian, sektor properti tetap menjadi komponen penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kualitas permukiman.
Berdasarkan survei BI, beberapa faktor eksternal seperti inflasi yang terus menguat dan kebijakan pemerintah terkait pembangunan infrastruktur jangka pendek juga memengaruhi dinamika pasar. Key Issue ini menjadi perhatian utama bagi pemerintah, pengembang, dan konsumen, karena terus berdampak pada daya beli masyarakat dan ketersediaan properti untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan penurunan signifikan ini, BI menyarankan perlu adanya kebijakan stimulan yang lebih efektif untuk mengembalikan momentum sektor properti ke jalur pertumbuhan.