Prabowo Undang 2 Mantan Gubernur BI ke Istana untuk Diskusi Ekonomi
Key Discussion – Jakarta, Liputan6.com – Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan penting dengan sejumlah tokoh ekonomi, termasuk dua mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Sudrajat Djiwandono (1993–1998) dan Burhanuddin Abdullah (2003–2008), di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (22/5/2026). Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi Rosan Roeslani. Tujuan utama dari Key Discussion ini adalah menggali pengalaman masa lalu dalam menghadapi krisis ekonomi dan mengidentifikasi strategi yang bisa diterapkan saat ini.
Pertemuan Menjelajahi Dinamika Krisis Ekonomi 2008
Dalam Key Discussion yang berlangsung, para tamu diundang untuk berbagi wawasan tentang dampak krisis ekonomi global tahun 2008, yang sempat mengguncang pasar keuangan Indonesia. Sudrajat Djiwandono dan Burhanuddin Abdullah masing-masing memiliki pengalaman unik dalam menghadapi fase krisis tersebut. Sudrajat, yang memimpin BI selama periode 1993–1998, menjelaskan bagaimana krisis minyak pada 2005 memberi tekanan signifikan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah. Sementara Burhanuddin, mantan Gubernur BI sejak 2003 hingga 2008, menyampaikan tantangan yang dihadapi selama krisis finansial internasional pada 2008.
“Beberapa pengalaman dari masa lalu, terutama krisis 2008, menjadi referensi penting dalam memahami dinamika ekonomi saat ini,” ujar Airlangga Hartarto usai pertemuan. “Dari sana, kita bisa mengevaluasi kebijakan yang telah bekerja dan memperbaiki strategi di masa depan.”
“Tahun 2005 menjadi momen krisis minyak, di mana harga minyak mencapai USD 140 per barrel. Ini menyebabkan inflasi yang cukup tinggi, mencapai 27 persen,” lanjut Airlangga. “Namun, sekarang kita memiliki stabilitas ekonomi yang lebih kuat, dengan depresiasi rupiah hanya berkisar 5 persen.”
Perbandingan Masa Lalu dan Kondisi Ekonomi Saat Ini
Airlangga mengungkap bahwa pertemuan ini membahas perbandingan antara keadaan ekonomi tahun 2008 dengan situasi kini. Menurutnya, meskipun krisis tahun 2008 menimbulkan tekanan besar, perekonomian Indonesia kini telah memperkuat fondasinya. “Fundamental ekonomi yang lebih solid memungkinkan kita untuk menghadapi tantangan dengan persiapan lebih matang,” tambahnya. Prabowo, sebagai pemimpin negara, menginginkan jajaran menteri bidang ekonomi terus memantau kebijakan yang bisa meningkatkan daya tahan perekonomian.
Dalam Key Discussion, para ahli juga menyampaikan pendapat tentang peran perbankan dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Airlangga menekankan bahwa kebijakan moneter dan keuangan perlu diatur secara lebih akurat agar risiko inflasi dan devaluasi mata uang bisa diminimalkan. “Dengan jumlah perbankan yang cukup besar, kita perlu mengevaluasi cara memperkuat daya tahan sistem keuangan, terutama di tengah perubahan ekonomi global yang cepat,” jelasnya.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah ketergantungan ekonomi pada sektor energi. Sudrajat memaparkan bahwa krisis minyak tahun 2005 mengakibatkan peningkatan biaya produksi dan tekanan pada anggaran pemerintah. “Namun, sekarang kita telah lebih siap karena memiliki cadangan yang lebih baik dan kebijakan subsidi yang lebih terarah,” tegas Sudrajat. Burhanuddin, di sisi lain, mengingatkan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan lembaga keuangan untuk menghindari gejolak yang terjadi pada masa krisis sebelumnya.
Prabowo dalam Key Discussion ini juga menyampaikan harapan agar hasil pertemuan bisa dijadikan pedoman untuk kebijakan jangka panjang. “Kita perlu belajar dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan,” katanya. “Dengan wawasan dari para mantan pejabat BI, kita bisa merancang strategi yang lebih efektif untuk menghadapi ancaman ekonomi di masa depan.” Selain itu, Prabowo menyoroti pentingnya kebijakan yang berbasis data dan analisis mendalam untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
