Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Bukan Bid’ah – Ini Sejarah Tasyakuran Sepulang Haji di Indonesia

Joseph Thomas 2 mins read 2 views

Bukan Bid'ah, Ini Sejarah Tasyakuran Sepulang Haji di Indonesia Bukan Bid ah - Majelis Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 di Bandara Daker Madinah

Bukan Bid’ah – Ini Sejarah Tasyakuran Sepulang Haji di Indonesia

Bukan Bid’ah, Ini Sejarah Tasyakuran Sepulang Haji di Indonesia

Bukan Bid ah – Majelis Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 di Bandara Daker Madinah memberikan penjelasan mengenai tradisi tasyakuran dan halal bihalal yang diadakan setelah jemaah haji kembali ke tanah air. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah PPIH 2026, Anis Dyah Puspita, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan merupakan inovasi ibadah yang diadakan secara sembarangan. Menurutnya, tradisi ini merupakan bagian dari budaya Nusantara yang berakar pada kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Tradisi Sebagai Wujud Syukur dan Silaturahmi

Anis menjelaskan, tasyakuran serta halal bihalal dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan usaha mempererat hubungan sesama manusia setelah menunaikan ibadah haji. Meski tidak ada aturan tekstual maupun sejarah tentang halal bihalal Syawal di lingkungan Arab tempat agama Islam muncul, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. “Ini adalah budaya yang terbentuk dari pengalaman panjang perjalanan haji di masa lalu,” kata Anis dalam wawancara dengan Media Center Haji, Rabu, 17 Juni 2026.

“Jangankan sampai ke Tanah Suci, saat itu bahkan sampai ke sana pun belum ada jaminan keselamatan. Maka muncullah adat istiadat seperti halal bihalal dan pamitan sebagai bentuk penghargaan terhadap perjalanan yang dilalui,” ujar Anis.

Dalam konteks ini, tradisi tasyakuran juga dianggap sebagai momen penting untuk menyelesaikan hubungan yang kurang harmonis sebelum dan sesudah berhaji. Menurut Anis, ajaran Islam mendorong jemaah untuk memperbaiki hubungan sosial sebagai syarat agar ibadah haji mereka diterima oleh Allah. “Dosa akan dimaafkan jika manusia sudah saling memaafkan,” tambahnya.

Motivasi untuk Masyarakat Lain

Kegiatan tasyakuran menurut Anis bukan hanya acara berkumpul, tetapi juga sarana memperkuat nilai-nilai silaturahmi dan semangat memperbaiki kehidupan sosial. Selain itu, pengalaman jemaah selama berada di Tanah Suci dapat menjadi motivasi bagi masyarakat yang belum terpanggil untuk ikut serta dalam ibadah haji. “Cerita mereka bisa membangkitkan semangat orang lain untuk persiapan berhaji,” jelas Anis.

Ia berharap tradisi ini terus dipahami dalam konteks yang tepat, sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia yang mencerminkan rasa syukur dan upaya mempererat ikatan sesama umat manusia. Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6.

Gabung diskusi