New Policy: Program AG4TA, Dari Ladang Kangkung ke Industri Wisata
Program AG4TA, Dari Ladang Kangkung ke Industri Wisata New Policy mengubah cara masyarakat desa pedalaman mengakses pasar global.
Program AG4TA, Dari Ladang Kangkung ke Industri Wisata
New Policy mengubah cara masyarakat desa pedalaman mengakses pasar global. Di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB, proyek penelitian AG4TA, yang merupakan New Policy kerja sama antara Indonesia dan Australia, menjadi tulang punggung transformasi ekonomi lokal. Program ini menggabungkan inisiatif pertanian dan pariwisata, dengan tujuan memastikan komoditas pertanian seperti kangkung bisa dikelola secara terstruktur dan diterima oleh pasar wisata yang semakin berkembang. New Policy ini diterapkan dalam lima tahun, dimulai akhir 2023, dan melibatkan tiga daerah utama, yaitu Lombok, Bali, serta Sulawesi Utara. Dengan fokus pada penguatan rantai pasok, program ini diharapkan mampu memperkuat daya saing produk pertanian lokal di tengah persaingan yang semakin ketat.
New Policy: Kolaborasi Indonesia-Australia untuk Penguatan Pemasaran Pertanian
Kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam program AG4TA bukan hanya sekadar pertukaran teknologi, tetapi New Policy yang menargetkan transformasi model bisnis pertanian. Jeremy Badgery Parker, Wakil Direktur Manajemen Proyek Sekolah Pertanian, Pangan, dan Anggur Universitas Adelaide, menjelaskan bahwa sektor pariwisata memerlukan bahan baku pertanian yang konsisten dan berkualitas. New Policy ini menawarkan solusi dengan menumbuhkan keterlibatan petani kecil secara langsung dalam rantai pasok wisata. “Melalui New Policy AG4TA, kita mencoba menyeimbangkan kebutuhan industri pariwisata dengan kapasitas produksi petani lokal, sehingga mereka bisa menjadi bagian dari ekosistem wisata yang lebih inklusif,” tambah Jeremy saat memberikan laporan di lokasi, Kamis (11/6/2026).
Program AG4TA mengintegrasikan pendekatan kemitraan yang berkelanjutan, dengan New Policy menekankan keberlanjutan produk dan keberagaman nilai tambah. Langkah awalnya melibatkan pelatihan dan pendampingan untuk mengenali kebutuhan pasar wisata, termasuk standar kualitas, pemenuhan kuantitas, serta pengemasan yang menarik. Pada tahap awal, tim peneliti melakukan survei ke 30 kampung di Lombok, Bali, dan Sulawesi Utara, menemukan bahwa mayoritas petani belum mengakui potensi pariwisata sebagai pasar alternatif. Dengan New Policy, mereka diberikan pelatihan pengelolaan lahan pertanian dan pemasaran, yang diharapkan mampu mengubah mindset komunitas.
New Policy: Pembentukan Rantai Pasok yang Efektif
Salah satu New Policy kunci dalam program AG4TA adalah penguatan rantai pasok yang terpadu. Jeremy Badgery Parker menambahkan bahwa industri pariwisata membutuhkan konsistensi pasokan bahan baku, seperti kangkung, yang tidak hanya berkualitas tetapi juga bisa diatur dalam waktu yang tepat. “Jika bahan baku tidak tersedia, pelaku wisata akan terpaksa mengimpor dari daerah lain, sehingga mengurangi nilai tambah lokal. New Policy ini mendorong petani untuk menjadi mitra pemasok yang lebih handal, dengan pola kerja sama yang jelas dan terencana,” jelasnya.
Untuk memperkuat keterhubungan ini, tim peneliti melakukan evaluasi kebutuhan industri wisata, termasuk hotel, restoran, dan katering (horeka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan kangkung di destinasi wisata lokal meningkat 40 persen dalam dua tahun terakhir. New Policy AG4TA juga memperkenalkan sistem distribusi yang lebih efisien, seperti penggunaan transportasi khusus untuk menjangkau pasar wisata di Denpasar, Bali, dan Lombok Utara. Tim peneliti bekerja sama dengan pihak pariwisata untuk menyesuaikan standar produk, sehingga memastikan kepuasan wisatawan dan kesejahteraan petani sekaligus.
New Policy: Tantangan dan Solusi dalam Pertanian Wisata
Walaupun New Policy AG4TA menjanjikan banyak peluang, tantangan juga masih terasa. Sri Widyastuti, dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram, menyoroti bahwa petani Lombok menghadapi berbagai masalah, seperti kurangnya standar produk dan keterbatasan akses ke industri wisata. “Meski kangkung Lombok telah mendapat sertifikat indikasi geografis karena rasa yang unik, New Policy ini masih membutuhkan penyesuaian model kerja sama dengan pelaku pariwisata,” ungkap Sri. Masalah ini diperparah oleh kebijakan distribusi yang belum optimal, sehingga produk lokal sering kali bersaing dengan bahan baku yang lebih murah dari daerah lain.
“Keberhasilan New Policy ini bergantung pada kesadaran petani tentang potensi pariwisata. Mereka perlu mengubah pola pikir dari sekadar menanam kangkung untuk konsumsi lokal menjadi produk yang bisa dijual ke pasar wisata,” kata Sri.
Kendala lain yang ditemukan adalah keterbatasan akses ke infrastruktur pendukung, seperti penyimpanan dan distribusi. New Policy AG4TA mencoba mengatasi ini dengan menyediakan dana subsidi untuk pengadaan alat pemotong, pengemas, dan transportasi. Selain itu, program ini juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan pariwisata, sehingga petani bisa mengakses pasar yang lebih luas. Dengan New Policy yang terus dikembangkan, diharapkan keterlibatan petani dalam industri wisata bisa menjadi trend yang berkelanjutan.
New Policy: Dampak Ekonomi dan Perubahan Pada Komunitas Lokal
Kemajuan dari New Policy AG4TA mulai terlihat di tingkat lapangan. Seorang petani di Dasan Tereng, yang mengelola 14 hingga 15 hektare lahan, menuturkan bahwa pendapatan mereka meningkat hingga 20 persen setelah terlibat dalam proyek ini. “Kalau hasil panen kangkung dipasarkan ke Bali, kita bisa menghasilkan sampai 20 persen lebih banyak, dan itu bermakna besar untuk kebutuhan ekonomi keluarga,” katanya. Selain itu, New Policy ini menciptakan kemitraan dengan 34 pekerja yang terbagi menjadi tiga kelompok, berkontribusi pada pengembangan keterampilan dan perekonomian masyarakat desa.
“Satu orang kadang-kadang dapat sampai 2 sampai 3 bal kangkung sehari. Pendapatan ibu-ibu yang terlibat mencapai Rp120 sampai Rp100-an per hari. Itu dari jam 7 sampai jam 4 sore,” kata Andre, salah satu pekerja.
Dengan New Policy AG4TA, sistem pembayaran langsung diberikan kepada pekerja dan petani setelah tugas selesai, sehingga mengurangi risiko kecurangan dan memastikan keadilan dalam distribusi keuntungan. Selain itu, program ini juga memberikan pelatihan teknik pertanian modern, seperti penggunaan pupuk organik dan pengendalian hama, untuk meningkatkan kualitas produksi. Dukungan dari pemerintah daerah dan pihak pariwisata membuat New Policy ini menjadi kebijakan yang progresif dan berkelanjutan. Kemitraan antara petani dan industri wisata diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi desa secara keseluruhan.
