Key Discussion: Pak Haji Sebar Uang Lewat Tengah Malam
Pak Haji Sebar Uang Lewat Tengah Malam Key Discussion - Kedatangan Pak Haji tak menentu, namun kehadirannya selalu dinanti dengan antusias.
Pak Haji Sebar Uang Lewat Tengah Malam
Key Discussion – Kedatangan Pak Haji tak menentu, namun kehadirannya selalu dinanti dengan antusias. Sebagai sebutan akrab, ia kerap muncul di tengah malam, membawa uang yang dibagikan kepada warga sekitar. Selama dua tahun terakhir, Tian tetap setia menunggu sosok ini di lokasi yang sama. Seorang lelaki paruh baya, ia dikenal dengan baju berdebu dan wajah yang dingin. Kedatangan Pak Haji selalu menyedot perhatian masyarakat, terutama para pemulung dan tuna wisma yang bersiap sejak malam hari. Di bawah tiang beton Mass Rapid Transit (MRT), di atas trotoar Jalan Panglima Polim, atau di sekitar Kawasan Senen, nama Pak Haji sudah menjadi cerita yang terkenal.
Dua malam terakhir, jurnalis Liputan6.com Rifqy Alief mengunjungi titik-titik keberadaan Pak Haji. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia sering berbagi uang di tiga lokasi utama: Jalan Panglima Polim dekat Stasiun MRT Blok A, wilayah Mampang Prapatan, dan Pasar Rumput. Sesuai kebiasaannya, Pak Haji biasa datang setelah tengah malam. Pada Kamis, 28 Mei 2026, tim Liputan6.com mengamati kegiatan di dua lokasi utama. Di Jalan Panglima Polim, sejak pukul 10 malam, para tuna wisma sudah berkumpul di trotoar, menunggu tanda tangan sosok yang tak terduga.
“Ada yang bagi-bagi rejeki (Pak Haji). Enggak bisa dipastiin (datangnya). Namanya kita mengharap saja,”
Dari perbincangan dengan Tian, jurnalis menyadari bahwa kehadiran Pak Haji justru memberi harapan besar. Ia datang dengan membawa uang yang dihimpun sebelumnya, sekitar Rp 50 ribu per orang. Untuk warga lanjut usia, jumlah yang diberikan biasanya lebih besar, yakni Rp 100 ribu. Bagi Tian, yang telah kehilangan kemampuan bekerja karena stroke, uang dari Pak Haji bisa jadi pengganjal kebutuhan sehari-harinya. Ia tinggal di sebuah masjid dan hanya bisa makan jika ada orang dermawan yang menyiapkan makanan.
Kedatangan Pak Haji menjadi rutinitas bagi warga di sekitar Jalan Panglima Polim. Menurut beberapa saksi, sosok ini muncul satu atau dua kali dalam sepekan, umumnya pada hari Senin dan Kamis. Namun, jadwalnya tidak selalu tetap, sehingga kehadirannya selalu membawa kejutan. Mereka hanya bisa menunggu dengan hati berharap, tanpa tahu kapan akan mendapat bagian. Jika Pak Haji tak datang, mereka kembali ke rumah dan menunggu hari esok.
Saat jam 12 malam tiba, suasana di trotoar Jalan Panglima Polim mulai ramai. Warga yang ingin mendapatkan uang berjejer rapi, menunggu tanda kehadiran Pak Haji. Sebagian berbaring di bawah tenda sederhana, sementara yang lain hanya menatap jalanan yang perlahan sepi. Bukan hanya pemulung, sopir bajaj dan warga biasa juga ikut datang. Mereka berharap bisa menangkap sosok Pak Haji sebelum ia pergi.
“Iya, sudah enggak asing lah ibarat kata cerita,”
kata Wahyu, salah satu warga yang selama ini mengikuti cerita Pak Haji. Ia menjelaskan bahwa selain Pak Haji, ada juga nama lain yang terkait dengan pembagian uang, seperti Bogel. Sesekali, Bogel menggunakan sepeda motor untuk menyalurkan bantuan. Meski tidak selalu datang bersama Pak Haji, kehadirannya tetap membawa kebahagiaan bagi yang beruntung.
Ketidaktahuan tentang jadwal Pak Haji membuat warga terus bersiap. Dari pengamatan, jadwal kedatangan sosok ini biasanya diumumkan melalui grup WhatsApp tertentu. Menurut Wahyu, informasi keberangkatannya disampaikan kepada orang-orang yang terdaftar. Meski tidak tahu nama grup pasti, ia percaya bahwa keberadaan Pak Haji selalu terdokumentasi dengan baik. Keberadaannya mencerminkan kepedulian warga terhadap sesama, yang kerap diwujudkan melalui tindakan kecil namun berdampak besar.
Di antara warga yang menunggu, Tian bercerita tentang pengalaman pribadinya. Ia menuturkan bahwa uang yang diberikan Pak Haji seolah menjadi rahmat. Dalam beberapa kesempatan, jumlah bantuan bisa bervariasi, tergantung pada ketersediaan dana. Namun, setiap kali ia datang, warga menyambutnya dengan antusias. Keberadaan Pak Haji tidak hanya menjadi kejutan, tetapi juga simbol kebaikan yang konsisten.
Saat pukul dua dini hari tiba, keberadaan Pak Haji masih belum terlihat. Tian dan Wahyu terus menunggu, dengan pakaian sederhana dan semangat yang tak pernah padam. Mereka percaya bahwa kehadirannya akan datang, seperti halnya ritual yang tak tergantikan. Bagi mereka, Pak Haji bukan hanya seorang penyebar uang, tapi juga bagian dari kehidupan yang memberi makna.
Dari keberadaannya, terlihat bagaimana kepedulian bisa mengubah kehidupan. Meski tidak memiliki jadwal tetap, tindakan Pak Haji terus berlanjut, menyentuh jiwa warga yang membutuhkan. Dengan senyum dan tangan terbuka, ia memberikan bagian yang seolah tidak pernah habis. Kisah Pak Haji jadi bukti bahwa kebaikan tidak pernah mati, meski di tengah malam yang dingin.
Dalam dua hari terakhir, Liputan6.com mencoba memverifikasi keberadaan Pak Haji. Di Jalan Panglima Polim, suasana mulai sepi meski masih ada warga yang berbaring di trotoar. Di MRT Blok A, suara orang berbicara semakin berkurang. Namun, keberadaan Pak Haji tetap diingat oleh mereka. Sebab, setiap hari esok, harapan kembali terbang.
Dari penuturan Tian dan Wahyu, jurnalis merasakan bahwa Pak Haji bukan hanya fenomena. Ia adalah bagian dari komunitas yang menjaga kehangatan dalam kehidupan yang dingin. Dengan keberadaannya, sesekali kebahagiaan bisa ditemukan di tengah malam. Dan meski belum tahu kapan ia akan kembali, mereka tetap menunggu, karena Pak Haji adalah harapan yang selalu menanti.
