Perlintasan Sebidang KA di Latumenten Ditutup Permanen Akhir Tahun
Perlintasan Sebidang KA di Latumenten Ditutup Permanen Akhir Tahun Perlintasan Sebidang KA di Latumenten Ditutup - Setelah menunggu hampir setahun
Perlintasan Sebidang KA di Latumenten Ditutup Permanen Akhir Tahun
Perlintasan Sebidang KA di Latumenten Ditutup – Setelah menunggu hampir setahun, perlintasan sebidang kereta api (KA) di kawasan Latumenten, Jakarta Barat, akan resmi ditutup permanen pada akhir Desember 2026. Langkah ini adalah bagian dari proyek pembangunan Jalan Layang (Flyover) Latumenten yang bertujuan memperbaiki sistem lalu lintas sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jalan. Penutupan perlintasan sebidang KA di Latumenten akan memungkinkan kendaraan bermotor melalui jalur alternatif yang lebih efisien, mengurangi hambatan saat kereta melewati area tersebut. Sebagai bagian dari rencana penataan ruang kota, keputusan ini diharapkan mampu mempercepat aliran lalu lintas dan mengurangi risiko kecelakaan yang sering terjadi di sekitar perlintasan.
Penataan Lalu Lintas sebagai Solusi Strategis
Kawasan Latumenten dikenal sebagai salah satu titik krusial di Jakarta Barat, di mana rute utama menuju pusat kota dan daerah industri sering terjepit karena volume kendaraan yang tinggi. Dinas Bina Marga DKI Jakarta menjelaskan bahwa dengan penyelesaian Flyover Latumenten, perlintasan sebidang KA akan dialihkan ke jalur di atas jalan layang. Hal ini bertujuan menghindari kemacetan yang terjadi sepanjang hari, terutama di sekitar Jalan Raya Latumenten dan akses ke Jalan Pluit. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, keputusan penutupan perlintasan sebidang KA ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan infrastruktur transportasi yang lebih modern dan aman.
“Penutupan perlintasan sebidang KA di Latumenten akan mengurangi kemacetan dan meningkatkan keamanan bagi pengguna jalan. Saya yakin, proyek ini akan menjadi langkah penting dalam mengembangkan kawasan tersebut,” tutur Pramono Anung, saat melakukan inspeksi di lokasi proyek, Rabu (1/7/2026).
Progres dan Rencana Penyelesaian Proyek
Proyek Flyover Latumenten yang dibiayai dengan anggaran Rp259 miliar saat ini mencapai progres 55,2 persen. Pemprov DKI Jakarta menyatakan bahwa konstruksi akan selesai pada 15 Desember 2026, sehingga penutupan permanen perlintasan sebidang KA bisa dilakukan secara bertahap. Pihak dinas menjelaskan, perlintasan rel akan ditutup saat kereta api melewati area tersebut, tetapi jalan di bawahnya tetap dapat digunakan masyarakat untuk menyeberang. “Dengan adanya jalan layang, pengguna jalan tidak perlu lagi menghentikan kendaraan saat kereta melewati, sehingga arus lalu lintas menjadi lebih lancar,” kata Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo.
“Kami telah melakukan koordinasi dengan PT KAI untuk memastikan keberlanjutan layanan transportasi selama proses penutupan. Selain itu, ada jalur alternatif yang disiapkan agar masyarakat tidak mengalami gangguan transportasi signifikan,” tambah Heru, dalam wawancara dengan media.
Dalam beberapa bulan ke depan, Pemprov DKI Jakarta akan terus memantau progres proyek dan memastikan semua aspek kelayakan terpenuhi. Penutupan permanen perlintasan sebidang KA di Latumenten diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi transportasi, tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan yang sering terjadi akibat kenaikan beban lalu lintas.
Pengaruh Terhadap Warga dan Pengguna Jalan
Kebiasaan warga sekitar Latumenten dalam menyeberang jalan saat kereta melewati membuat keberadaan perlintasan sebidang menjadi titik rawan kecelakaan. Dinas Bina Marga menyebutkan, setidaknya 100 insiden kecelakaan telah tercatat di lokasi tersebut dalam tiga tahun terakhir. Dengan penutupan perlintasan sebidang KA, warga sekarang harus mengikuti arahan polisi untuk menyeberang melalui jembatan atau halte Transjakarta yang sudah diintegrasikan ke dalam jalan layang.
Pengguna jalan juga akan mengalami perubahan dalam rutinitas harian. Sebagian besar kendaraan dari arah utara dan selatan akan dialihkan ke jalan layang, sehingga mempercepat akses ke pusat kota dan daerah industri. Kebijakan ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh sekitar 10–15 menit untuk pengendara yang melalui jalur tersebut. Selain itu, adanya jembatan dan halte Transjakarta di atas jalan layang diharapkan memberikan solusi alternatif bagi masyarakat yang ingin menyeberang ke arah berbeda.
Persiapan dan Konsekuensi Jangka Panjang
Sebelum penutupan permanen, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan persiapan untuk mengurangi dampak negatif terhadap warga. Beberapa pihak menyatakan bahwa pemerintah perlu memberikan sosialisasi lebih intensif agar masyarakat memahami perubahan jalur. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pengalihan perlintasan sebidang KA di Latumenten adalah langkah kecil dalam rencana pengembangan transportasi jalan yang lebih besar. “Kita harus memastikan semua jalur alternatif sudah siap digunakan sebelum penutupan resmi dilakukan,” imbuh Budi, dalam rapat evaluasi proyek.
Dengan penyelesaian Flyover Latumenten, kemacetan yang sebelumnya terjadi di sekit
