Special Plan: Perjalanan Panjang Samuri dari Sopir Truk ke Pengusaha Kebab dengan Tiga Cabang
Special Plan mengisahkan perubahan hidup Samuri (58), seorang pria yang menghabiskan puluhan tahun sebagai sopir truk, kini berubah menjadi pengusaha kebab. Tahun lalu, ia memutuskan untuk beralih dari pekerjaan lama ke bisnis kecil, mengawali perjalanan baru di bidang kuliner. Dengan bantuan seorang teman, Samuri mengambil langkah pertama, belajar selama tiga bulan sambil tetap menjalani pekerjaan sebelumnya sebagai jemputan sekolah. Kini, usaha kebabnya berkembang menjadi tiga cabang, menunjukkan komitmen dan usaha yang konsisten.
“Pagi jemputan sekolah, sore jualan,” kata Samuri saat ditemui Liputan6.com di lokasi usahanya, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Ia mengungkapkan bahwa motivasi utamanya berasal dari keinginan untuk menikmati kehidupan lebih nyaman, sekaligus memberi kontribusi yang berkelanjutan.
Pandemi Jadi Titik Balik Kritis
Sebelum perubahan drastis ini, Samuri sudah terbiasa dengan layanan pembiayaan BRI. Di masa masih menjadi sopir, ia pernah mendapatkan dana besar untuk memperluas armada. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Aktivitas sekolah terhenti, dan usaha jemputan pun berhenti. Kondisi ini justru memicu Samuri untuk fokus sepenuhnya pada bisnis kebab, yang ia yakin bisa memberikan penghasilan lebih stabil.
“Karena pekerjaan sebelumnya tidak lagi bisa dilakukan, aku memilih untuk fokus pada kebab. Ini juga bagian dari Special Plan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru,” ujarnya.
Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta, Samuri mengajukan pinjaman tambahan Rp 60 juta ke BRI. Dana tersebut digunakan untuk memperluas operasional, termasuk pembelian gerobak, pengadaan bahan baku, dan eksperimen dengan konsep odong-odong. Meski beberapa usaha sementara gagal, ia tetap bersikeras dan mengoptimalkan model bisnis yang berjalan.
Arkhan Kebab: Nama yang Menjadi Warisan Keluarga
Bisnis kebab yang ia bangun bernama Arkhan Kebab, diambil dari nama cucu pertamanya. Awalnya hanya satu lapak, kini usahanya berkembang hingga memiliki tiga cabang. Kembangannya ini terjadi secara perlahan, dengan cabang kedua dibuka empat bulan setelah pertama berjalan, dan cabang ketiga ditambahkan untuk memperkuat keberlanjutan. Meski sudah sukses, Samuri mengatakan tidak ingin terlalu ambisius menambah jumlah cabang.
“Kita masih ingin fokus pada tiga cabang ini, karena kenyamanan keluarga adalah prioritas. Jadi, Special Plan kami adalah menjaga keseimbangan antara bisnis dan kehidupan pribadi,” tambahnya.
Kebab yang ia jalankan menjadi sumber penghasilan harian mencapai Rp 2 juta, dengan pendapatan per cabang sekitar Rp 1 juta dan Rp 500 ribu. Dalam skema kerja, pendapatan itu dibagi rata dengan mitra. Samuri juga menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari kepuasan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Usaha kecil ini tidak hanya memberi manfaat bagi dirinya, tetapi juga membuka peluang kerja bagi orang lain. Di satu cabang saja, ada dua karyawan yang ditemani Samuri sejak mereka masih SMA hingga lulus dan membangun hidup sendiri. “Dengan Special Plan ini, aku berharap bisa membantu komunitas sekitar,” katanya.
Samuri juga memperhatikan kondisi ekonomi keluarga, terutama anak sekolah yang bisa mendapatkan pendapatan tambahan hingga dua juta per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa usaha kebabnya memiliki dampak sosial yang positif. Meski usaha tidak begitu besar, rasa nyaman dan kestabilan yang ia dapatkan menjadi bukti kesuksesan sesuai visinya.
