Kasus Sabu Kutai Barat Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Kasat Narkoba
Kasus Sabu Kutai Barat Bongkar Dugaan – Penyelidikan terhadap jaringan narkoba di Kalimantan Timur semakin mengarah pada pengungkapan praktik korupsi dana yang disangkakan ke aparat penegak hukum. Dalam operasi penyitaan yang dilakukan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, empat tersangka terlibat dalam bisnis sabu telah ditetapkan. Penangkapan ini bermula dari keberhasilan petugas menangkap bandar sabu bernama Ishak, yang selama ini dikaitkan dengan aliran dana ke Kasat Narkoba Polres Kutai Barat. Dugaan ini menjadi sorotan setelah tim penyidik mengungkap adanya transaksi uang antara Ishak dan aparat penegak hukum yang masih dalam penyelidikan.
Penyelidikan dan Peningkatan Kasus
Proses investigasi terhadap kasus Sabu Kutai Barat Bongkar melibatkan kerja sama antara beberapa unit khusus dalam Bareskrim Polri. Direktur Tindak Pidana Narkoba Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengungkap bahwa keempat tersangka, MV, MCK, NR (alias M), dan JMH (alias B), terlibat dalam sistem distribusi sabu yang mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali. Dalam penyelidikan, polisi menemukan bukti kuat bahwa ada aliran dana yang dialirkan dari bandar sabu kepada anggota aparat penegak hukum untuk mempermudah proses penangkapan dan pengurusan kasus.
Penangkapan Ishak terjadi pada 11 Februari 2026 setelah petugas menyelidiki keberadaannya sebagai pengendali jaringan narkoba di Kutai Barat. Dari pemeriksaan, Ishak mengakui mendapat pasokan sabu dari NR alias M, yang secara langsung terlibat dalam peredaran barang haram lintas wilayah.
“NR menurunkan sabu ke Ishak setiap dua minggu sebanyak 100 hingga 200 gram,” kata Eko, dilansir Antara.
Selain itu, ditemukan bukti bahwa NR juga menjalin hubungan dengan anggota polisi lainnya untuk mempercepat proses pengiriman barang.
Keterlibatan Anggota Polri dalam Transaksi Dana
Menurut sumber terpercaya, anggota aparat penegak hukum yang terlibat dalam kasus Sabu Kutai Barat Bongkar memiliki peran kritis sebagai pihak yang menerima dana dari bandar sabu. Dalam operasi penggeledahan, petugas menyita uang tunai senilai Rp950 juta, satu mobil Toyota Fortuner, serta perangkat elektronik yang diduga digunakan untuk kegiatan transaksi ilegal. Dana tersebut diduga berasal dari hasil penjualan sabu yang kemudian dialirkan ke Kasat Narkoba Polres Kutai Barat AKP inisial DJS.
Transaksi dana ini menjadi titik penting dalam kasus Sabu Kutai Barat Bongkar karena menunjukkan adanya kolusi antara anggota pihak penegak hukum dan pelaku narkoba. NR alias M, yang merupakan tersangka utama, mengaku terlibat dalam bisnis sabu sejak 2025. Dari pengakuan tersebut, terungkap bahwa jaringan ini mengirimkan sabu hingga 700 gram per bulan ke berbagai pengecer di Kutai Barat. Sementara itu, JMH alias B terbukti sebagai perantara yang mempercepat pengiriman sabu dari buronan Y ke NR.
Operasi Penangkapan di Bali
Pada akhir April 2026, penyidik berhasil menemukan keberadaan NR alias M di Bali, yang menjadi titik puncak kasus Sabu Kutai Barat Bongkar. Tim gabungan dari Subdit II, Subdit IV, dan Satgas NIC Dittipidnarkoba melakukan pengawasan intensif selama 10 hari sebelum menangkap NR dan JMH alias B pada 1 Mei 2026. Mereka ditangkap saat berada dalam mobil HiAce di Karangasem, Gianyar, yang diduga menjadi sarana pengiriman sabu.
Dari operasi tersebut, petugas menyita barang bukti seberat 700 gram sabu, serta dokumen yang membuktikan adanya transaksi keuangan antara pelaku dan anggota polisi. Kasus ini juga mengungkap kemungkinan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang terkait dengan jaringan narkoba tersebut. Saat ini, Bareskrim Polri sedang berupaya menangkap Y, yang diduga sebagai pengendali utama jaringan sabu, serta mengeksplorasi aliran dana lainnya yang mungkin terlibat.
Kasus Sabu Kutai Barat Bongkar tidak hanya menjadi bukti korupsi dalam sistem penegakan hukum, tetapi juga menggambarkan kompleksitas jaringan narkoba yang melibatkan pihak pemerintah. Keterlibatan aparat penegak hukum dalam transaksi dana membuka kemungkinan adanya kesepakatan yang dibuat untuk mempercepat proses penangkapan pelaku narkoba, sekaligus mengamankan keuntungan dari bisnis sabu. Polisi menegaskan bahwa penyelidikan akan terus berlanjut hingga semua pihak terkait terungkap.
