1.200 Ton Sampah Bandung Diolah Jadi Sumber Energi
Kota Bandung mulai menyiapkan pola baru pengelolaan sampah yang menempatkan fasilitas pengolahan lebih dekat dengan titik timbulan. Pendekatan Decentralized
Bandung Siapkan Pengolahan Sampah Terdesentralisasi Berbasis Energi
Beritaterbaik.com – Kota Bandung mulai menyiapkan pola baru pengelolaan sampah yang menempatkan fasilitas pengolahan lebih dekat dengan titik timbulan. Pendekatan Decentralized Waste Management (DWM) ini diproyeksikan bukan hanya mengurangi beban penanganan sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan dalam rantai pasok energi.
Langkah awal program tersebut ditandai melalui penandatanganan Komitmen Bersama Pengembangan DWM di Wisma Danantara Indonesia. Kesepakatan melibatkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Danantara Development Management Fund (DDMF), PT Rekayasa Industri (Rekind), PT Pertamina Power Indonesia (PNRE), serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) turut menyaksikan penandatanganan itu.
Komitmen ini menjadi pintu masuk bagi koordinasi, penelusuran peluang, studi kelayakan, dan penilaian potensi sistem pengolahan sampah terdesentralisasi di Bandung. Model tersebut dirancang agar persoalan sampah dapat ditangani melalui fasilitas yang tersebar, alih-alih seluruh volume sampah harus dikirim ke satu pusat pengolahan berskala besar.
Empat sentra berkapasitas total 1.200 ton
Pada tahap awal, pengembangan diarahkan pada pembentukan empat Sentra Waste Management (SWK). Setiap sentra diperkirakan mampu menangani sekitar 300 ton sampah. Jika seluruh fasilitas berjalan sesuai rencana, kapasitas gabungannya dapat mencapai kurang lebih 1.200 ton sampah.
“Empat SWK bisa mengolah 1.200 ton. Ini yang akan kita jalankan,” ujar Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit Puji Santosa.
Rencana studi tidak hanya menilai pilihan teknologi. Para pihak juga akan memetakan masalah utama, kebutuhan, serta prioritas pengelolaan sampah di Bandung. Pengkajian mencakup sisi teknis, dampak lingkungan, penerimaan sosial, nilai ekonomi, kelayakan komersial dan finansial, aspek hukum, kelembagaan, hingga tata kelola program.
Penetapan lokasi menjadi bagian penting dalam persiapan. Kandidat area untuk fasilitas DWM akan dikaji dari kesiapan lahan, kemudahan akses, ketersediaan utilitas, kesesuaian tata ruang, serta kondisi lingkungan. Selain itu, pasokan sampah akan diperiksa dari sumbernya, jumlah yang tersedia, karakter bahan, kesinambungan suplai, pola pengangkutan, sampai mekanisme penyediaannya.
Rangkaian penilaian tersebut diperlukan karena kapasitas fasilitas tidak hanya ditentukan oleh mesin pengolahan. Keberlanjutan operasional juga bergantung pada kepastian material masuk, sistem logistik, dan kejelasan pemanfaatan produk yang dihasilkan setelah sampah diproses.
Target pengembangan akhir 2026 hingga awal 2027
Setidaknya satu atau dua lokasi DWM ditargetkan mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027. Bandung masuk dalam daftar wilayah prioritas untuk tahap awal. Setelah itu, cakupan program ditargetkan bertambah hingga empat atau lima lokasi.
Managing Director Development Investment DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, menekankan bahwa pengembangan sistem tidak seharusnya berhenti pada pembahasan dan studi. Bandung dipersiapkan sebagai salah satu titik pembuktian sebelum model yang sama berpeluang diterapkan di daerah lain.
“Pengelolaan sampah tidak cukup dijawab melalui pembahasan dan kajian, tetapi harus segera dibuktikan melalui implementasi di lapangan. Bandung menjadi salah satu lokasi awal untuk menunjukkan bahwa model pengelolaan sampah terdesentralisasi dapat dijalankan dan selanjutnya direplikasi di daerah lain,” kata Rachmat, Sabtu (19/9/2026).
Konsep DWM diposisikan sebagai pelengkap pengelolaan sampah terpusat melalui waste-to-energy atau WTE. Fasilitas WTE besar memerlukan skala ekonomi dan kondisi tertentu agar dapat berjalan efektif. Sementara itu, pola terdesentralisasi dapat dipertimbangkan untuk kawasan yang belum memiliki kebutuhan volume atau kesiapan yang memadai bagi pembangunan pengolahan berskala besar.
“WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini decentralized waste management. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary,” kata Sigit.
Dengan fasilitas yang berada lebih dekat pada sumber sampah, perjalanan pengangkutan jarak jauh berpotensi ditekan. Hal ini menjadi salah satu nilai yang ingin dicapai dari model terdesentralisasi, bersama peluang mengubah hasil pengolahan menjadi produk yang memiliki kegunaan lanjutan.
PLN EPI disiapkan sebagai calon penyerap produk
PLN EPI mengambil peran sebagai calon pembeli atau penyerap produk yang berasal dari pengolahan DWM. Perusahaan akan menyampaikan kebutuhan serta spesifikasi indikatif produk, kemudian melakukan penelaahan awal atas unsur teknis, mutu, jumlah, kesinambungan pasokan, logistik, dan peluang pemanfaatannya dalam rantai pasok energi primer.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan bahwa program tersebut sejalan dengan upaya memperluas pemanfaatan sumber energi dari material berbasis limbah. PLN EPI telah mengembangkan rantai pasok biomassa untuk membantu menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil di pembangkit melalui skema cofiring.
“Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring,” kata Hokkop.
Bagi Bandung, rencana ini membuka arah pengelolaan sampah yang memadukan kebutuhan layanan kota dengan penciptaan nilai dari material sisa. Namun, pelaksanaannya akan sangat ditentukan oleh hasil kajian lokasi, kesiapan pasokan, pilihan teknologi, serta kemampuan seluruh pihak menjaga operasi fasilitas secara berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is 1 200 Ton Sampah Bandung Diolah?
1 200 Ton Sampah Bandung Diolah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does 1 200 Ton Sampah Bandung Diolah matter?
1 200 Ton Sampah Bandung Diolah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
